Waspada
Waspada » FILOSOFI MUDIK; Kesabaran untuk keselamatan
Al-bayan Opini

FILOSOFI MUDIK; Kesabaran untuk keselamatan

Oleh : H. Hasan Bakti Nasution

 

Bagi sebagian orang mungkin fenomena mudik cukup membingungkan. Bayangkan bagaimana prilaku anak manusia yang termasuk dalam kelompok yang mudik. Ada yang berjalan kaki belasan km karena mobil sudah ditahan, ada yang berlayar pakai sampan kecil hanya untuk melewati pos pengawasan.

Ada pula yang masuk dalam grobak barang, bahkan ada yang masuk dalam kapsul grobak yang biasanya dijadikan sebagai tempat cairan semen. Bahkan ada yang masuk dalam mobil dan mobilnya dinaikkan dalam grobak gendongan, seolah mobil sedang rusak, dan sebagainya.
Kebigungan sebetulnya tidak perlu berlarut dengan menukik pada filosofi mudik tersebut.

Filosofi mudik berbicara tentang apa mudik dalam berbagai perspektif, yang dalam hal ini filsafat dengan 3 pendekatannya, yaitu (a) apa/ontologi (b) mengapa perlu/epistemologi dan (c) untuk apa/aksiologi.
Apa mudik (ontologi) ?.
Dalam KKBI, mudik diartikan dengan ialah pulang kampung, yang disingkat dengan pulkam.

Orang kampung saya menyebut mulak tu huta atau jak wo gampong.
Mengapa perlu (epistemologi) ?
Orang mudik tentu dilatari banyak alasan. Selain (a) rindu orangtua (b) saudara atau teman (c) suasana kampung halaman, ada juga yang sekedar show, menampilkan keberhasilan di perantauan.

Untuk apa (aksiologi) ?
Sesuai epistemologi di atas, mudik dilakukan sebagai pelepas rindu ke orangtua, saudara, teman, dan suasana kampung halaman, termasuk makanan. Juga untuk menampilkan keberhasilan di perantauan. Terkait dengan itu, bagi masyarakat kampung, kehadiran anak-anak perantauan yang berhasil akan memberi mereka gairah baru untuk juga merantau untuk meraih sebuah kesuksesan.

Secara normatif, aktifitas mudik di atas bisa dilakukan kapan dan di mana saja, namun ada hal yang sangat terkait dan berkaitan erat bahkan menentukan, yaitu terpenuhinya syarat mudik. Layaknya naik haji, syaratnya harus memiliki uang sebagai biaya mudik dan terpenuhinya syarat keamanan. Persyaratan ketersediaan uang tentu si pemudik sudah mengetahuinya.

Sedangkan persyaratan aman, di sinilah yaang kini menjadi perdebatan.
Dalam kondisi copid-19 yang sudah memasuki tahun kedua, aspek keamanan menjadi perhatian serius pemerintah, terutama dalam upaya memutus matarantai penyebarannya. Kebijakan terkait hal tersebut ialah larangan penyebaran penduduk dari satu tempat ke tempat lain, atau dari kota ke desa atau sebaliknya.

Kebijakan ini sesungguhnya mengacu pada salah satu hadits Nabi dalam penanganan wabah, yaitu Nabi Muhammad berpesan agar “anggota masyarakat yang terpapar wabah tidak memasuki daerah lain yang belum terpapar”.
Hadits Nabi yang muncul abad 7 ini, kini dijadikan sebagai standard protokol penangan dan pencegahan penyebaran covid-19.

Oleh karenanya, bagi umat Islam, perintah ini mendapat legitimasi hadits, dan karenanya jika diniatkan mengamalkan ajaran hadits Nabi tentu memiliki nilai pahala. Ditambah lagi, sebagai pengamalan perintah al-Qur’an pada surat al-Baqarah/2: 195, yang artinya: “Dan janganlah jerumuskan dirimu kepada kebinasaan dengan tanganmu sendiri”.

Jadi jangan terlalu bersedih, jika tidak bisa mudik secara fisik, mudiklah secara non fisik atau figuratif, yaitu kembali ke asal muasal yang fithri, karena setiap manusia dilahirkan dalam kefithrahan, kata Nabi pada salah satu haditsnya. Jika harus berjumpa, bukankah ada video call yang akan memfasilitasi penampakan secara fisik. Ini adalah ikhtiar bersama, yang adalah suatu kewajiban melakukannya. (29 Ramadhan 1442 H/11 Mei 2021 M).
-=o0o=-

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2