Oleh Hotlan Siregar
“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 184)
Ramadhan adalah bulan suci yang mengajak setiap Muslim untuk menyelami makna ketaatan melalui ibadah puasa. Namun ada beberapa kondisi yang membuat seseorang didak dianjurkan berpuasa karena alasan tertentu. Dalam kerangka ajaran Islam yang penuh rahmat, fidyah hadir sebagai solusi bagi mereka yang terhalang oleh udzur syar’i.
Fidyah, yang secara harfiah berarti tebusan, adalah pemberian makanan pokok kepada fakir miskin sebagai pengganti puasa yang ditinggalkan. Ketentuan ini bersumber dari firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 184, yang menegaskan bahwa bagi mereka yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin.
Fidyah bukan sekadar mekanisme pengganti, melainkan cerminan dari prinsip keadilan dan kasih sayang yang mendalam dalam Islam. Allah SWT, sebagai Sang Maha Mengetahui, memahami bahwa setiap hamba-Nya memiliki kondisi fisik dan kesehatan yang berbeda. Karena itu, fidyah dihadirkan sebagai jembatan yang menghubungkan antara kewajiban ibadah dan keterbatasan manusiawi.
Dalam pelaksanaannya, fidyah disalurkan melalui pemberian makanan pokok yang lazim dikonsumsi di daerah setempat, seperti beras, gandum, atau kurma. Ukuran fidyah yang disepakati adalah satu mud atau sekitar 0,6 kilogram untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Pembayaran fidyah dapat dilakukan secara bertahap setiap hari, setiap pekan, atau secara keseluruhan di akhir Ramadhan. Selain itu, fidyah juga dapat disalurkan melalui lembaga amal terpercaya dalam bentuk uang yang setara dengan harga makanan pokok tersebut.
Hikmah di balik fidyah sangatlah kaya dan beragam. Selain meringankan beban mereka yang tidak mampu berpuasa, fidyah juga menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan dan kepedulian sosial. Dengan memberikan makanan kepada fakir miskin, kita turut berbagi rezeki dan kebahagiaan di bulan Ramadhan. Fidyah juga mengajarkan kita untuk tidak menghakimi orang lain berdasarkan penampilan atau kondisi fisik mereka, tetapi untuk memahami dan menghargai perbedaan yang ada.
Namun, penting untuk diingat bahwa fidyah bukanlah pengganti yang ideal bagi mereka yang mampu berpuasa. Puasa tetap menjadi ibadah yang lebih utama dan memiliki pahala yang besar di sisi Allah SWT. Fidyah hanya diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar memiliki udzur syar’i yang menghalangi mereka untuk berpuasa. Karena itu, sebelum memutuskan untuk membayar fidyah, seseorang harus berkonsultasi dengan ahli agama atau dokter untuk memastikan bahwa ia memenuhi syarat untuk mendapatkan keringanan tersebut.
Lebih dari sekadar kewajiban, fidyah juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Dengan membayar fidyah, kita mengakui keterbatasan kita sebagai manusia dan bersyukur atas nikmat kesehatan dan kemampuan yang diberikan oleh Allah SWT. Fidyah juga menjadi pengingat bagi kita untuk selalu bersikap rendah hati dan tidak sombong dengan kelebihan yang kita miliki.
Dalam konteks yang lebih luas, fidyah mengajarkan kita tentang pentingnya empati dan saling membantu. Islam tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Allah SWT, tetapi juga hubungan antar sesama manusia. Dengan adanya fidyah, kita diajak untuk peduli terhadap mereka yang kurang beruntung dan berbagi rezeki yang kita miliki.
Sehingga fidyah sebagai simfoni keadilan dan kasih sayang di bulan Ramadhan. Dengan memahami makna dan tata cara fidyah, kita dapat melaksanakan ibadah Ramadhan dengan lebih baik dan meraih keberkahan di bulan yang mulia ini. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan memberikan kekuatan kepada kita untuk menjalani Ramadhan dengan penuh keikhlasan.
(Guru Pesantren Darul Mursyid-Tapsel).
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.