Waspada
Waspada » Dinar Dirham Dalam Al-Quran
Al-bayan Headlines

Dinar Dirham Dalam Al-Quran

Oleh Mustapa Khamal Rokan

Di antara Ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya (QS. Ali Imran: 75)

 

Soal dinar dirham akhir-akhir ini mencuat menjadi salah satu topik yang kontroversial. Pasar Muamalah di Depok Jawa Barat dianggap transaksi illegal yang berujung persoalan hukum. Tulisan ini tidak bermaksud membahas kasus ini dalam perspektif hukum positif di Indonesia, tulisan ini akan membahas dinar dirham yang terdapat dalam Al-Quran dan mengaitkannya dengan konsep mata uang dalam Al-Quran. Selain itu, tulisan ini juga ingin menunjukkan bahwa emas adalah alat tukar yang paling stabil dalam sejarah mata uang.

Kata (kalimat: dalam bahasa Arab) dinar dan dirham disebutkan masing-masing satu kali dalam Al-Quran. Kalimat dinar disebutkan dalam Surah Ali Imran ayat 75, sedangkan kalimat dirham dalam bentuk jamaknya darahim disebutkan dalam Surah Yusuf ayat 20.

Kalimat dinar dalam Surah Ali Imran: 75 di atas.

Ayat ini mengisahkan tentang perilaku ahli kitab (sebagian tafsir mengkhususkan pada orang Nasrani) dalam pengembalian harta yang diamanahkan kepada mereka. Ayat ini menjelaskan sebagian orang Nasrani mau mengembalikan barang yang diamanahkan kepadanya, dan sebagian lainnya tidak mau mengembalikan amanah yang telah diberikan kepada mereka.

Sedangkan ayat terkait dirham terdapat dalam Surah Yusuf ayat 20 yang berbunyi: “Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf.” Ayat ini berkaitan dengan kisah Nabi Yusuf As yang dimasukkan ke dalam sumur, lalu diambil secara tidak sengaja oleh kafilah, lalu menjual Nabi Yusuf AS dengan dengan harga yang murah sekali dibanding dengan mahalnya harga budak di negeri itu.

Padahal, sebagaimana diketahui Nabi Yusuf As adalah seorang budak yang tampan dan baik akhlaknya. Sebagian mufasir mengatakan harga Nabi Yusuf AS saat dijual kurang dari 40 dirham sebab  menurut adat kebiasaan saat itu jika jumlah uang 40 dinar atau lebih, maka uang itu tidak dihitung lagi namun ditimbang.

Kedua ayat tentang dinar dan dirham yang terdapat pada Surah Ali Imran: 75 dan Surah Yusuf: 20 sungguh sangat terkait dengan alat tukar yang digunakan masyarakat pada saat itu. Alat tukar dinar digunakan pada masa Rasulullah Saw. dan alat tukar dirham digunakan pada masa Nabi Yusuf As. yang hidup beberapa abad sebelum Rasulullah Saw.

Dinar Emas Ke Fiat Money

Sebagaimana diketahui bahwa sejarah alat tukar dinar dan dirham telah dipakai sejak zaman Romawi dan Persia pra-Islam. Perdagangan merupakan dasar perekonomian daerah Arabia pra-Islam datang. Prasyarat untuk melakukan transaksi adalah adanya alat pembayaran yang dapat dipercaya. Daerah arab dan wilayah-wilayah sekitar yang berada di bawah kekuasaan Persia dan Roma mempergunakan dirham dan dinar sebagai alat tukar. Namun yang penting dicatat adalah bahwa dinar dan dirham saat itu adalah emas bukan kertas.

Penggunaan emas sebagai alat tukar menjadi bergeser ketika semakin luasnya wilayah perdagangan dengan membawa emas di padang pasir atau melewati lautan yang luas tak bertepi. Kondisi ini tentulah sangat rawan dengan kejahatan seperti perampokan dan sebagainya.

Kondisi ini memunculkan lembaga penitipan yang disebut dengan Irtifaqat yaitu sistem penitipan pada lembaga-lembaga penitipan sesuai dengan kebiasaan dan adat istiadat masing-masing daerah. Lembaga ini berfungsi sebagai tempat penitipan atau mirip dengan save deposit custody yang bersifat amanah dan hanya mengambil sesuatu yang bersifat upah penyimpanan dan pembayaran administrasi. Tidak hanya itu, lembaga ini juga mengeluarkan surat tanda terima sebagai bukti penyimpanan.

Sejalan dengan waktu, lembaga ini berubah fungsi menjadi lembaga keuangan yang juga dapat memberikan pinjaman dengan imbalan berupa bunga. Pada waktu lembaga keuangan ini masih bersifat amanah, surat tanda bukti penyimpanan euang mas atau Bank Note dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran karena dijamin sepenuhnya dengan uang mas yang ada dalam lembaga keuangan tersebut. Bank Note inilah cikal bakal terjadinya uang kertas.

Namun uang kertas yang dijamin seratus persen dengan emas ini ternyata tidak bertahan lama. Menumpuknya uang emas karena tidak semua penitip mengambil uang emasnya secara penuh sehingga membuat pengelola lembaga keuangan tergoda untuk memberikan pinjaman kepada pihak ketiga tanpa pengetahuan pemilik uang emas yang bersangkutan.

Peredaran Bank Note menjadi berlipat ganda tatkala Bank Note berpindah dari tangan ke tangan secara cepat untuk membayar transaksi-transaksi dagang yang terjadi. Karena Bank Note hanya berputar-putar saja dan tidak dipakai untuk menarik uang mas, maka cadangan emas titipan tidak pernah berkurang dan lembaga keuangan dapat memberikan pinjaman lagi kepada pihak ketiga dengan sangat leluasa.

Sejak itu, Bank Note tidak lagi dijamin dengan emas sepenuhnya, maka nama Bank Note telah terpisah dari emas dan mulailah berlaku sistem standar emas. Sejak saat itulah, Dinar dan Dirham tidak lagi identik dengan emas dan perak.

Untuk menjaga ketertiban dalam melayani kepentingan masyarakat, pemerintah kemudian membentuk Bank Sentral untuk menertibkan peredaran Bank Note dan menggantinya dengan uang kertas serta coin yang dinyatakan berlaku sah secara hukum sebagai alat pembayaran.

Lembaga keuangan pengedar Bank Note ditertibkan menjadi bank komersil lalu menyerahkan titipan emasnya untuk digantikan dengan uang kertas pemerintah. Bank Sentral akhirnya mempunyai kewenangan penuh untuk mencetak dan mengedarkan uang kertas sesuai dengan perhitungan tersedianya uang emas atau cadangan emas batangan yang ada.

Era standar emas dimana uang kertas yang berlaku dijamin dengan emas, di Inggris dihapuskan pada tahun 1931 kemudian di Amerika Serikat (AS) secara resmi berakhir ketika secara sepihak Presiden Amerika Serikat Richard Nixon menghentikan sistem Bretton Wood tahun 1971. Peristiwa ini menandai berlakunya sistem mata uang baru yang disebut sistem mata uang mengambang (floating currency system).

Emas sebagai Standar Alat Tukar

Emas sebagai alat tukar ditunjukkan dengan banyaknya kata emas dalam Al-Quran. Dari hasil penelusuran ayat-ayat Al-Quran tentang emas, paling tidak terdapat sembilan (9) ayat pada enam (6) surat kata emas dalam Al-Quran.

Tunjukan emas sebagai alat tukar sangat kuat terlihat pada kata emas dan perak yang terdapat pada Surah Al-taubah ayat 34 yang berbunyi: “Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak, serta tidak menafkahkannya dijalan Allah (untuk jihad), maka beritahukan kepada mereka (bahwa mereka akan mendapatkan) azab yang pedih.”

Secara umum ayat ini membicarakan tentang larangan melakukan praktik penimbunan harta (kanzul mal) yang akan dibalas dengan siksaan yang sangat pedih. Al-Quran di sini menyebutkan secara khusus tentang harta (mal) dengan menyebutkan emas dan perak. Allah memilih kata emas dan perak sebagai representasi dalam penyebutan harta secara keseluruhan yang sangat beragam jenis.

Dengan demikian, ayat ini berarti menunjukkan dua hal, yaitu, bahwa emas dan perak adalah jenis harta dijadikan standar kekayaan yang ditimbun. Lebih tegas, bahwa larangan pada ayat ini merujuk pada fungsi emas dan perak sebagai uang atau alat tukar (medium of exchange).

Secara empiris berbagai penelitian membuktikan bahwa emas sebagai alat tukar adalah paling stabil. Penelitian M. Luthfi Hamidi dalam “Gold Dinar” misalnya membuktiukan bahwa tingkat apresiasi emas yang telah terbukti dalam sejarah mata uang di dunia.

Tahun 1800 misalnya, harga emas per satu troy sons setara dengan 19,39 dolar AS, sementara pada tahun 2004, satu troy ons senilai 455,757. Ini menunjukkan, setelah dua abad lebih (200 tahun) emas mengalami apresiasi yang luar biasa yakni sebesar 2.250 persen terhadap dolar.

Dalam penelitian Marlia yang berjudul “Stabilitas Dinar Emas Dan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Inflasi Di Indonesia” juga membuktikan nilai tukar dinar emas lebih stabil dibandingkan Nilai Tukar Rupiah (fiat money) selama 41 tahun yaitu dimulai tahun 1970 sampai 2010.

Dengan kata lain penggunaan dinar emas sebagai alat tukar (medium of exchange) dalam perdagangan internasional memiliki potensi lebih menguntungkan dibandingkan dengan penggunaan milai tukar rupiah (fiat money). Wallahu’alam.   WASPADA

Pengajar UIN SU

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2