Dari Resolusi Jihad Ke Revolusi Digital

  • Bagikan
Dari Resolusi Jihad Ke Revolusi Digital

Oleh Tgk Helmi Abu Bakar el-Langkawi
Dosen UNISAI Samalanga, Kandidat Doktor UIN Ar-Raniry Banda, Mantan Ketua Ansor Pijay.

Saat ini santri berada di persimpangan zaman. Mereka dihadapkan pada arus informasi yang sangat cepat dan mudah diakses. Meskipun ini membawa dampak positif, seperti kemudahan akses terhadap ilmu pengetahuan, arus informasi juga menyajikan ancaman berupa penyebaran ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan

Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober menjadi tonggak penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2015, hari ini merupakan pengakuan resmi atas kontribusi besar para santri dan ulama dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Peringatan ini mengacu pada peristiwa Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1945. Saat itu, beliau menyerukan umat Islam untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya kolonialisme. Resolusi tersebut bukan hanya sebuah seruan perang fisik, tetapi juga panggilan moral dan spiritual untuk menjaga kemerdekaan dan nilai-nilai luhur bangsa. Di banyak wilayah, termasuk Aceh, santri berperan penting dalam perlawanan ini. Tidak hanya terlibat dalam pertempuran fisik, mereka juga menjadi penjaga nilai-nilai agama dan moralitas masyarakat.

Aceh memiliki sejarah panjang dalam perlawanan terhadap penjajahan, dan peran santri dalam perjuangan tersebut tidak dapat diabaikan. Sejak masa kolonial, pesantren atau dayah di Aceh tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga benteng perlawanan terhadap penjajah. Tokoh-tokoh seperti Tgk. Chik di Tiro dan ulama-ulama besar lainnya memimpin perjuangan rakyat Aceh dengan semangat jihad yang dilandasi ajaran agama. Hingga saat ini, dayah di Aceh tetap menjadi institusi penting dalam membangun karakter religius masyarakat. Namun, di era globalisasi yang penuh tantangan, peran santri mengalami transformasi. Tantangan yang dihadapi oleh para santri bukan lagi penjajah fisik, melainkan penjajahan ideologis dan informasi yang datang dari segala penjuru dunia melalui media digital.

Tantangan Santri Era Milenial

Saat ini santri berada di persimpangan zaman. Mereka dihadapkan pada arus informasi yang sangat cepat dan mudah diakses. Meskipun ini membawa dampak positif, seperti kemudahan akses terhadap ilmu pengetahuan, arus informasi juga menyajikan ancaman berupa penyebaran ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Tantangan lain seperti radikalisasi melalui media sosial, penyebaran hoaks, dan budaya konsumerisme semakin memperkuat tekanan pada moralitas santri. Dalam menghadapi tantangan ini, santri harus memiliki kemampuan untuk memilih dan memilah informasi yang benar, serta tetap teguh pada prinsip-prinsip agama.

Literasi digital menjadi kunci bagi santri untuk bertahan dan beradaptasi di era ini. Literasi digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis terhadap informasi yang diterima serta memahami dampak teknologi terhadap kehidupan sosial dan agama. Di Aceh, di mana pesantren memegang peran penting dalam pendidikan agama, perlu adanya pembaruan kurikulum yang mencakup literasi digital. Dengan demikian, santri tidak hanya memiliki pemahaman agama yang kuat, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan produktif.

Di tengah tantangan globalisasi, dunia digital justru membuka peluang besar bagi para santri untuk berperan lebih aktif. Santri dapat menggunakan platform digital sebagai medium dakwah yang efektif. Dengan kreativitas yang dikombinasikan dengan pemahaman agama yang mendalam, santri dapat menciptakan konten positif yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Media sosial seperti YouTube, Instagram, atau TikTok dapat digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam secara kreatif dan inovatif. Dengan kemampuan ini, santri bisa menjadi agen perubahan, menyebarkan pesan Islam yang damai dan relevan bagi generasi milenial.

Lebih dari sekadar penyebaran dakwah, keterlibatan santri dalam dunia digital juga penting untuk menanggulangi penyebaran ideologi radikal dan ekstrem yang sering kali menyasar generasi muda. Dengan menciptakan konten edukatif dan positif, santri dapat memberikan alternatif informasi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Peran santri dalam menghadirkan dakwah digital ini akan sangat penting dalam menjaga moralitas bangsa dan membentengi generasi muda dari pengaruh negatif dunia maya.

Tidak hanya dalam aspek dakwah, santri juga dapat diberdayakan melalui kewirausahaan digital. Pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi inkubator bagi santri yang ingin mengembangkan usaha berbasis syariah. Dengan dukungan teknologi, santri dapat terlibat dalam berbagai bidang seperti e-commerce, pembuatan konten Islami, hingga pengembangan aplikasi-aplikasi yang bermanfaat. Penguasaan teknologi yang dikombinasikan dengan nilai-nilai agama akan membuka peluang bagi santri untuk tidak hanya menjadi penjaga moral bangsa, tetapi juga pelaku ekonomi yang aktif.

Kemandirian ekonomi ini tidak hanya berdampak pada kesejahteraan para santri, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Santri yang memiliki keterampilan teknologi dan kewirausahaan akan mampu menggerakkan ekonomi berbasis syariah, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan komunitas di sekitar pesantren. Dengan demikian, santri dapat berperan aktif dalam pembangunan bangsa, baik dari segi spiritual maupun ekonomi.

Melihat semua tantangan dan peluang yang ada, slogan “Menyambung Juang, Meraih Masa Depan” menjadi sangat relevan. Jika dulu santri berjuang di medan perang fisik, kini perjuangan mereka adalah di ranah digital, menjaga moralitas bangsa, serta melestarikan nilai-nilai Islam dan kebangsaan di tengah derasnya arus globalisasi. Santri Aceh, dengan warisan sejarah perjuangan yang kuat, memiliki potensi besar untuk menjadi garda terdepan dalam menghadapi tantangan zaman ini. Namun, mereka perlu beradaptasi dan tidak boleh kehilangan identitas keislaman yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Hari Santri Nasional bukan sekadar peringatan akan masa lalu, tetapi juga refleksi untuk masa depan. Masa depan santri di era digital terletak pada kemampuan mereka untuk menguasai teknologi tanpa meninggalkan identitas keislaman. Tantangan di era ini sangat besar, tetapi dengan bekal pendidikan agama yang kuat, literasi digital, dan kemandirian ekonomi, santri akan mampu meraih masa depan yang lebih cerah. Mereka akan terus berkontribusi bagi bangsa dan agama, menjadi pelopor perubahan positif di era yang serba digital ini.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar yang perlu kita renungkan adalah: Sudahkah kita, sebagai santri dan pewaris ulama, siap untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu kita dalam menjaga agama, bangsa, dan negeri ini di tengah tantangan zaman? Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith.


Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.

Dari Resolusi Jihad Ke Revolusi Digital

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *