Waspada
Waspada » Covid-19 Dalam Perspektif Tasawuf Qurani
Al-bayan Headlines

Covid-19 Dalam Perspektif Tasawuf Qurani

Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS.Yunus : 57).

 

Al Qur’an memberi kita arah dalam hidup ini, difahami bahwa manusia itu bukan hanya makhluk fisik, tetapi juga makhluk spiritual, sehingga kita akan bertindak lebih bijak dan seimbang dalam memperlakukan diri kita, dengan memperhatikan kesejahteraan, kebersihan dan kesehatan. Al-Qur’an mengajarkan tentang hidup bahagia, hidup bahagia haruslah hidup sehat, karena orang yang tidak sehat mungkin tidak bahagia.

Hidup sehat meliputi fisik dan jiwa. Ada penelitian para ahli, bahwa munculnya penyakit pada manusia itu disebabkan beberapa hal, yaitu 50% faktor spiritual, lemahnya sentuhan hati, hati yang tidak tersinari dengan iman, tidak memiliki rasa kebertuhanan yang mendalam, manusia menjauh dari Tuhannya, tidak takut lagi melakukan larangan Allah SWT, 2 % faktor psikis, emosional yang tidak stabil, mudah marah, pendendam, stres, mudah tersinggung, ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan, dan berfikir negatif.

Gangguan psikis ini jika tidak segera teratasi akan menjadi penyakit pisik, misalnya stres yang berlanjut membuat kita mengalami gangguan pencernaan, 15% faktor lingkungan, apalagi jika telah berjangkit penyakit menular, dalam hal ini Rasulullah SAW pernah bersabda, “Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri itu” (HR.Bukhari).

Inilah yang disebut sekarang dengan istilah Lock Down-Terkunci adalah protokol darurat mencegah orang meninggalkan atau memasuki suatu area karena ada hal yang membahayakan, seperti sedang berjangkitnya wabah penyakit dan 10% lagi adalah faktor pisik, perlunya menata gaya hidup sehat, seperti, tidak merokok, hindari minuman keras, narkoba, selalu menjaga kebersihan lahir batin dan tidak begadang. “…Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…” (QS. al-Baqarah (2): 195).

Dalam suasana mewabahnya Covid-19 ini, Ilmu Tasawuf dengan pendekatan Al-Quran telah memberikan petunjuk bagaimana sikap yang harus kita lakukan dalam menghadapinya, antara lain adalah, Pertama, meningkatkan amal ibadah, penyerahan diri secara totalitas kepada Allah SWT dan memperbanyak doa, seperti:

Ya Allah, kami berlindung kepada-MU dari penyakit belang/sopak (barosh-virus yang menyerang kulit), hilang ingatan/gila (junun-virus yang menyerang otak, kusta (juzam-virus yang menyerang kulit dan bagian tubuh) dan dari segala wabah penyakit yang buruk (yang mengerikan, menular dan mematikan)” (HR. Abu Daud).

Kedua, mengonsumsi makanan bergizi yang halal dan baik (halalan thayyiban), berimbang, serta kurangi 3-G (Gula, Garam dan Gurih/lemak) yang berlebihan, hindari makanan yang mengandung penyedap dan pengawet, banyak makan buah yang berwarna, sayur dan minum madu. “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (QS. ‘Abasa (80): 24), “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya” (QS. al-Maaidah (5): 88).

Kesehatan fisik  tergantung pada makanan dan minuman. Makanan dan minuman yang dikonsumsi harus sehat dan halal. Makanan dan minuman yang tidak sehat dapat menimbulkan penyakit, dan yang haram dapat mendorong kepada pembentukan karakter yang buruk merupakan cermin jiwa yang tidak sehat-you are what you eat. Mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan juga sejalan dengan gerakan kembali ke alam (back to nature).

Ketiga, genapkan tidur 7 – 8 jam per hari. “Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya” (QS. al-Qashash (28): 73). Dalam perkembangan ilmu medis menyebutkan, salah satu cara paling efektif dalam menjaga kesehatan adalah tidur (istirahat) yang cukup.

Khusus pada orang dewasa, kurang tidur bisa menyebabkan lemahnya kinerja sistem kekebalan tubuh (imun). Ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Barzah Al Aslami r.a, bahwa beliau menyebutkan: “Rasulullah SAW membenci tidur malam sebelum (shalat isya) dan berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya (begadang)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa malam hari setelah isya’ sampai sepertiga akhir malam adalah saat tubuh melakukan proses pembuangan zat-zat tidak berguna dan beracun (de-toxin) di  bagian sistem antibodi,  bagian hati, dan empedu. Waktu-waktu seperti ini harus dilalui dalam kondisi tenang atau tidur. Bila saat itu seorang masih beraktivitas maka akan dapat berdampak negatif bagi kesehatan dan kerusakan pada hati.

Malam hari merupakan nikmat dari Allah SWT yang harus kita syukuri dengan memanfaatkannya untuk istirahat di awal malam, dan menjadikannya sebagai terapi dari seluruh penyakit. Kemudian kita lanjutkan dengan bangun di akhir malam, sebagai awal aktivitas kita pada pagi harinya.. Tidur dalam Islam adalah satu fase yang harus memberikan spirit baru untuk lebih produktif dalam berkarya untuk mewujudkan kesejahteraan umat manusia.

Keempat, memperbanyak sedekah, memberi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”(QS.Al-Isro : 16).

Di antara yang dapat menolak bala dan marabahaya itu adalah ketika orang-orang yang hidup dalam kemewahan itu taat kepada Allah SWT, mereka peduli terhadap sesama, menyantuni fakir miskin, anak-anak yatim dan tidak bermaksiat melakukan kedurhakaan kepada Allah SWT. Karena kehancuran umat terdahulu adalah karena kesombongan, keserakahan dan kedengkian yang membawa kezaliman.

Sebagaimana Firaun yang disebut Thogho (QS.An-Nazi’at : 17), sombong dengan kekuasaan dan kekuatan bala tentaranya. Qorun disebut Bagho (QS.Al-qoshos : 76), sombong dengan kemewahan harta benda, akhirnya mereka ditenggelamkan Allah SWT bersama kesombongan dan harta bendanya.

Karena sebelum itu mereka menentang Nabi Musa as, menentang Allah SWT sehingga di negeri mereka (Mesir) telah diturunkan Allah SWT berbagai wabah yang mengerikan dan mematikan. “Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa” (QS-Al-A’raaf : 133).

Kelima, menata hidup, menata hati dengan Zikrullah, mengingat Allah SWT dalam segala situasi dan kondisi, selalu bersyukur dan bersabar, tidak banyak berkeluh-kesah, tidak mudah panik dan selalu berfikir positif.

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. ar-Ra’d (13): 28). Dengan zikir, pikiran dan perasaan dapat menjadi tenang, sehingga orang akan hidup sehat.

Selain hal yang tersebut diatas, antisipasi dalam menghadapi wabah Covid-19 saat ini, di samping usaha pengobatan secara medis, mintalah pertolongan kepada Allah SWT, tanpa izin dan kehendak Allah SWT seseorang tidak mungkin sembuh dari berbagai penyakit yang dideritanya, walaupun dia mendatangi berbagai rumah sakit termahal di dunia ini, dan menghabiskan biaya puluhan milyar sekalipun.

Dia yang menjadikan penyakit dan Dia pula yang menyembuhkannya, “Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku”(QS. asy-Syu’araa : 80). Doa kita bersama untuk Negeri, “Ya Allah penyakit ini adalah tentara di antara tentara-MU, Engkau palingkan penyakit ini kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau timpakan kepada siapa yang Engkau kehendaki, Ya Allah jauhkanlah (penyakit) ini dari kami, dari rumah-rumah kami, dari keluarga kami, dari isteri-isteri kami, dari anak cucu kami, dari Negeri kami, dan Negeri kaum Muslimin, dan jagalah kami dari yang kami takuti dan apa yang kami waspadai dan Engkaulah sebaik-baik Penjaga dan Engkau adalah Mahapenyayang dari semua PenyayangAaminn Yaa Syaa fiyal Amroodh (Mahapenyembuh Segala Penyakit). Waspada

Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumatera Utara

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2