Oleh Muhammad Basri
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192, Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan hadis ini shahih)
Di tanah suci Makkah dan Madinah orang-orang yang ada di sana sangat menghormati orang-orang yang berpuasa. Penghormatan mereka terlihat banyaknya orang-orang yang bersedekah untuk orang berbuka puasa pada hari Senin dan Kamis di Masjid Haram Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.
Hal ini penulis saksikan baru-baru ini ketika berbuka puasa sunnah hari Kamis di Masjidil Haram lantai dua, penulis mendapatkan satu bingkisan yang ada tulisan arabnya wajibah iftar shaim (bingkisan untuk orang yang berpuasa).
Isi bingkisan tersebut ada bungkusan kurma, 1 jus buah dalam kotak siap diminum dan 5 macam roti cukup kenyang bila dimakan satu orang bahkan berlebih dan bisa dibawa pulang. Orang-orang yang duduk didekat orang yang berpuasa juga mendapatkan syafaat diberikan bingkisan dan boleh dimakan walaupun waktu azan magrib sebagai tanda berbuka puasa belum dikumandangkan.
Bagi yang akan melaksanakan haji atau umrah beloh mencobanya namun harus datang lebih awal. Satu jam sebelum masuk waktu shalat Magrib di hari Senin atau Kamis sudah masuk kemasjidil Haram atau Nabawi, pilih shaf agak ke depan dan lihat plastik berwana hijau panjang terbentang silahkan duduk situ, karena di tempat itulah makan atau bingkisan untuk berbuka puasa dibagikan.
Pengalaman yang penulis juga alami waktu di Madinah. Suatu hari pada program ziarah dalam kota Madinah, sampailah di Kota Badar ada satu bukit namanya Jabal Malaikat diriwayatkan di tempat itulah Malaikat Jibril dan Malaikat lainnya membantu kaum muslimin memerangi orang kafir.
Saat itu hari Kamis penulis sedang berpuasa sunah menghampiri penjual kurma dengan maksud ingin membeli hanya untuk berbuka puasa. Penjual menawarkan satu buah kurma sebagai tester namun penulis menjelaskan “saya sedang puasa ” maksudnya ingin membeli beberapa buah untuk berbuka puasa. Mendengar penjelasan penulis maka penjual berkata inta shoum (anda puasa?) sambil mengambil kantong plastik dan mengisi kurma di dalamnya dan memberikan kepada penulis dan berkata “haza hadiah” (ini hadiah).
Kenyataannya kurma yang diberikan kepada penulis bukan hanya sekedar untuk berbuka namun sangat banyak jika ditimbang perkiraannya ada lebih kurang 1 kg. Mereka sangat senang memberikan hadiah kepada orang yang berpuasa karena mengamalkan hadis nabi Muhammad SAW di atas ” memberikan bukaan untuk orang yang berpuasa sama pahalanya dengan orang yang berpuasa”. Semoga contoh yang baik suka memberikan bukaan kepada orang yang berpuasa dapat kita lakukan di tempat kita. Wa Allahu A’lamu bi Al Shawab.
(Dosen Universitas Islam Negeri Sumatera Utara)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.