Waspada
Waspada » Berjihad Menjadi Mukhlisin
Al-bayan Headlines

Berjihad Menjadi Mukhlisin

Oleh Tgk Helmi Abu Bakar el-Langkawi

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)” (QS. Al-An’am: 162-163)

Sebagai khalifah kita dituntut menghiasi diri dengan sifat terpuji dan salah satunya ikhlas. Ikhlas berarti murni, suci, bersih, tidak bercampur dengan noda atau yang kotor. Laksana susu yang suci dan bersih dalam perut sapi, tidak bercampur dengan darah dan kotoran. Mereka yang bersifat dengan ikhlas dinamakan Mukhlisin

Allah SWT berfirman: Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus?… (QS. An-Nisa: 125).

Menurut sebagian ulama yang dimaksud dengan “menyerahkan diri kepada Allah” dalam ayat di atas ialah mengikhlaskan niat dan amal perbuatan hanya karena Allah semata. Sedangkan yang dimaksut dengan “mengerjakan kebaikan” di dalam ayat itu ialah mengerjakan kebaikan dengan serius dan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW.

Imam al-Ghazali menegaskan, ikhlas adalah sidqun niyyah fil ‘amal, yaitu niat yang benar ketika melaksanakan suatu pekerjaan. Setiap amal soleh dan kebajikan yang ingin dilakukan semestinya berorientasi karena Allah. Tanpa keikhlasan, semua amal kebajikan yang dilakukan, sangat mudah terkena penyakit hati yang sangat berbahaya yaitu riya dan bangga hati.

“Sedikit dari sifat riya itu adalah syirik. Maka, barang siapa yang memusuhi wali-wali Allah niscaya sesungguhnya dia telah memusuhi Allah. Sesungguhnya Allah sangat mengasihi orang yang berbakti dan bertakwa serta yang tidak diketahui orang lain tentang dirinya. Jika mereka tidak ada dan hilang dalam acara apapun, mereka tidak dicari oleh orang lain, dan kalau mereka hadir di situ mereka tidak begitu dikenali oleh orang lain. Hati nurani mereka umpama lampu petunjuk yang akan menyinari mereka hingga mereka keluar dari tempat yang gelap gelita” (HR. Hakim).

Menjadi Mukhlisin bukanlah perkara mudah dan tidak semua orang bisa memiliki sikap ikhlas. Tapi ikhlas memiliki manfaat dahsyat. Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ariy ra berkata, “Rasulullah SAW pernah ditanya, manakah yang termasuk berperang di jalan Allah? Apakah berperang karena keberanian, kesukuan, atau yang berperang karena riya’? Rasulullah SAW menjawab, ‘Siapa saja yang berperang dengan maksud agar kalimat Allah terangkat, itulah perang di jalan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ikhlas adalah suara hati yang tidak perlu diucapkan. Suara itu hanya patut disampaikan kepada Tuhan dan tidak perlu kepada sesama manusia. Ibadah apapun seharusnya dilakukan dengan sempurna. Berzikir, shalat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain tidak akan sempurna dan bahkan tidak akan ada gunanya jika tidak dibarengi dengan niat ikhlas itu.

Semua ibadah, setidaknya melibatkan tiga aspek, yaitu hati atau qalby, ucapan atau qauly, dan perbuatan atau fi’ly. Ketiganya harus dilakukan secara sempurna. Di antara ketiga aspek dimaksud yang paling sulit dilakukan dalam beribadah adalah justru yang memiliki posisi terpenting, yaitu niat dimaksud.

Seorang ulama terkenal pendiri mazhab Syafi’i Imam as-Syâfi’i berkaitan dengan ikhlas berkata, “Seandainya engkau mengerahkan seluruh kemampuanmu untuk menjadikan semua manusia ridha maka tidak ada jalan untuk mewujudkannya. Jika demikian, maka ikhlaskanlah amalan dan niatmu hanya untuk Allâh Azza wa Jalla semata.”

Imam Ghazali, dalam kitabnya “Raudhatut Thalibin wa Umdatus Salikin” mengatakan, ikhlas menurut para ulama ada dua macam, yaitu ikhlas dalam beramal dan ikhlas dalam mencari pahala. Pertama, ikhlas dalam beramal adalah kehendak untuk mendekat kepada Allah SWT, menganggungkan urusan-Nya, dan menjawab seruan-Nya. Kemunculan keikhlasan ini didorong keyakinan yang benar dan kebalikan dari semua itu adalah kemunafikan.

Kedua, ikhlas mencari pahala berarti kehendak memperoleh keuntungan Akhirat dengan melakukan kebaikan. Kebalikan dari ikhlas adalah riya’ atau keinginan mendapatkan keuntungan dunia dengan melakukan amal Akhirat, baik mengharapkan sesuatu dari Allah maupun dari manusia.

Menurut Imam Ghazali, dua macam ikhlas di atas mempunyai dampak masing-masing. Keikhlasan dalam beramal akan menjadikan amal sebagai pendekatan (taqarrub), dan keikhlasan mencari pahala akan membuat amal diterima serta memperoleh pahala berlimpah.

Imam Ghazali mengatakan, saat melaksanakan ibadah batin dan sunnah harus disertai kedua macam keikhlasan tersebut. Seorang hamba wajib mewaspadai sepuluh hal saat mengerjakan amal, yaitu kemunafikan, riya’, kekacauan, menyebut-nyebut kebaikan, menyakiti, menyesali berbuat baik, ujub, meratap, menganggap enteng, dan takut terhadap cercaan manusia.

Beranjak dari itu, mari kita terus mengintrospeksikan diri dan terus beramal dengan jiwa yang ikhlas. Meskipun terkadang “kandas menjadi hamba Mukhlisin namun usaha dan semangat jihad meraih titel Mukhlisin tidak boleh ditinggalkan dan kendur. Mari berlomba dalam kebaikan.. Amin. Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq.  WASPADA

Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga dan Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga serta Ketua Ansor Pidie Jaya

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2