Waspada
Waspada » “Berhaji di Indonesia” IHRAM, Simbol Kesamaan Dan Kerjasama
Al-bayan

“Berhaji di Indonesia” IHRAM, Simbol Kesamaan Dan Kerjasama

By Hasan Bakti Nasution

 

Pengantar:
Beberapa hari ke depan tulisan berisikan seputar haji dengan tema besar “Berhaji di Indonesia”. Rangkaian tulisan dimulai dari tulisan Ihram, simbol kesamaan dan kerjasama
ini. Semoga bermanfaat.

Ihram adalah start awal melaksanakan ibadah haji, ditandai dengan memakai dua helai kain putih tanpa jahitan yang diseut dengan kain ihram. Pemakaian kain ihram ini menjadi kewajiban yang tanpanya haji menjadi tidak sah. Sebab itu, apapun jabatan dan siapapun dia, wajib memakai dua helai kain putih ini. Bahwa kualitasnya ada yang harga ratusan ribu dan ada yang jutaan itu menjadi persoalan kedua.

Kesamaan pakaian ini mengandung makna simbolik, bahwa sejatinya begitulah relasi antar umat Islam, karena mereka sama di mata Tuhan, seperti digariskan al-Qur’an surat al-Hujurat/49: 13, yang artinya:
”Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Ayat ini menjadi prinsip pertama humanisme Islam yang dibagung di atas tiga komitmen, yaitu kesamaan (al-musawah), persaudaraan (al-mu’akhah), dan keadilan (al-‘adalah). Kuatnya prinsip ini mebuat sikap sebaliknya akan dipandang sebagai telah keluar dari tenda besar umat Islam, seperti sabda Nabi: “Tidaklah masuk golongan kami orang yang mati hanya karena memeprtahankan kesukuan/’ashabiyah” (laysa minna man mata ala ‘shabiyah).

Sebab itu, konsep kebersamaan ini tidak hanya sekedar konsep alias NATO (no action talk only), tetapi harus diaplikasikan dalam kehidupan empiris. Salah satu bentuknya ialah terwujudnya kerjasama yang sinerjis antar umat Islam, ibarat satu bangunan yang saling menopang, seperti kata Nabi pada hadits lain: “hubungan antar orang beriman ibarat satu bangunan yang saling menopang satu sama lain” (al-mukminu lil-mukmini kal-bunyanil wahid, tasyuddu ba’dhuhu ba’dha).

Kerjasama ideal haruslah mencakup seluruh aspek kehidupan dalam kehidupan yang holistik, kerjasama ekomoni, politik, sosial budaya, dan sebagainya. Kerjasama politik ialah dukungan politik terhadap partai pengusung semangat dan advokasi terhadap Islam. Kerjasama ekonomi ialah dengan dukungan penguatan ekonomi umat dengan memaksimalkan bermu’amalat secara intern, seperti amanah Kongres Ekonomi Islam tahun 2017 yang lalu di Jakarta. Begitu juga kerjasama harus dibangun dalam bidang lainnya.

Dengan demikian, ihram akan memiliki makna konstruktif, tidak hanya sekedar simbol kebersamaan dan semangat kebersamaan, melainkan ia harus berujung pada kerjasama holistik umat Islam, kerjasama politik, ekonomi, sosial budaya, da sebagaihya. Hanya dengan cara ini ‘izzul Islam wal-muslimin menjadi terdaratkan di dunia empiris sehingga tidak hanya sekedar konsep ideal di dunia khayali.
(21-07-2021)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2