Berani Mengaku Tidak Tahu

Berani Mengaku Tidak Tahu

  • Bagikan

Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Mahamengetahui lagi Mahabijaksana” (QS Al-Baqarah : 32)

Setelah Allah mengajarkan kepada Adam ilmu dan pengetahuan  (asma kullaha), kemudian malaikat ditanya atau diminta untuk menyebutkan tentang itu. Para malaikat pun menjawab dengan kalimat dalam ayat di atas. Para mufasir menjelaskan bahwa kalimat itu adalah pengakuan akan keterbatasan pengetahuan para malaikat dan menyadari dan memuji kebijaksanaan dan pengetahuan Allah.

Islam mengajarkan sikap gentle untuk mengakui ketika seseorang itu tidak mengetahui tentang sesuatu. Selain contoh dari malaikat di atas, teladan yang paling mulia, Rasulullah SAW  juga menunjukkannya. Rasulullah SAW  yang mendapat wahyu, paling mengenal Allah dan paling dekat dengan-Nya tidak malu menjawab tidak tahu, ketika beliau tidak tahu. Contohnya ketika Jibril menanyai tentang hari Kiamat, Nabi menjawab, ”Yang ditanyai tentangnya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.”

Begitupula saat beliau ditanya mengenai persoalan ruh, maka turun wahyu dari Allah yang memerintahkan beliau untuk menjawab bahwa persoalan itu adalah urusan Allah dan hanya Allah yang mengetahui masalah itu secara benar (QS Al-’Isra: 85).

Mengenai ilmu dan kesadaran diri, Imam al-Ghazali membagi manusia menjadi 4 golongan. Pertama, Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (Seorang yang tahu dan dia tahu kalau dirinya tahu). Inilah orang ‘alim.

Kedua, Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (Seorang yang tahu tapi dia tidak tahu bahwa dia tahu), ia bak orang tertidur, ia punya potensi namun belum termanfaatkan.

Ketiga, Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri (Seorang yang tidak tahu tapi ia tahu bahwa ia tidak tahu), dan keempat, Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri (Seorang yang tidak tahu dan ia tidak tahu bahwa ia tidak tahu).

Menurut Imam al-Ghazali, kelompok keempat ini jenis yang paling buruk. Ini jenis manusia yang selalu merasa mengerti, selalu merasa tahu, punya ilmu padahal sebenarnya ia tidak tahu alias sok tahu. Akhirnya dia selalu berani buka mulut, berfatwa kesana kemari hanya mengikuti hawa nafsu tanpa berlandaskan ilmu.

Padahal dalam Islam, kesadaran diri dan berani mengatakan tidak tahu adalah sebuah kemuliaan tersendiri. Ibnu Jama’ah mengatakan, “Apabila seorang ‘alim ditanya tentang perkara yang belum diketahuinya, maka termasuk bentuk ilmu adalah menjawab ‘Saya tidak tahu’. Para ulama juga mengatakan, “Ucapan saya tidak tahu adalah setengah ilmu.”

Imam al-Ghazali mengatakan dalam Ihya’ bahwa pernyataan saya tidak tahu adalah setengah dari pengetahuan. Diam karena tidak tahu dan itu dilakukan karena Allah, maka pahalanya tidak lebih rendah daripada mengatakan (bila dia tahu). Karena mengakui ketidaktahuan itu berat. Itu adalah salah satu bentuk wara’ dalam agama.

Imam Munawi dalam Faidhul Qadir berkata, ”Kedudukan seorang alim tidak akan jatuh dengan mengatakan ’Saya tidak tahu’ terhadap hal-hal yang tidak diketahuinya. Ini justru menunjukkan ketinggian kedudukannya, keteguhan agamanya, takutnya kepada Allah, kesucian hati, sempurnanya pengetahuan, serta kebaikan niatnya.

Orang yang lemah agamanya merasa berat melakukan hal itu. Karena dia takut derajatnya jatuh di hadapan para hadirin tetapi ia tidak takut jatuh dalam pandangan Allah. Ini menunjukkan kebodohan dan kelemahan agamanya.”

Di antara manusia terdapat orang yang menjaga wibawanya namun tidak menjaga kemurnian niat. Ia takut gelar yang bertengger di depan atau belakang namanya bisa hilang andaikata tidak bisa menjelaskan sesuatu.

Padahal hal itu memang belum diketahuinya. Pantang mengatakan ”Saya tidak tahu” atau ”Saya belum tahu”.

Sikap ini sangat dicela dalam Islam, sekalipun menurutnya itu bisa menjaga kehormatan di mata manusia tapi dalam pandangan Allah kehormatan itu jatuh. Bersilat lidah hanya untuk menjaga image dengan mengorbankan kebenaran ialah hal yang dikecam agama.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban” (QS 17 : 36).

Imam Malik suatu ketika pernah ditanya oleh penanya dari jauh.  ”Wahai Abu Abdillah, aku datang dari jauh, aku menempuh perjalanan sampai enam bulan. Penduduk negeriku menitipkan beberapa pertanyaan agar ditanyakan kepada Anda.”

Imam Malik menjawab, ”Bertanyalah”. Setelah puluhan pertanyaan ditanyakan, banyak jawaban dari Imam Malik, ”Saya tidak bisa menjawabnya.”

Orang itu tercengang dan terdiam. Lalu dia berkata, ”Wahai Imam, apa yang harus aku katakan kepada penduduk negeriku nanti?” Imam Malik menjawab, ”Katakan saja bahwa Imam Malik tidak mengetahui jawabannya.”

Begitu juga suatu saat, Imam Asy-Sya’bi ditanya oleh seorang warga. Setelah diam sejenak, maka Asy-Sya’bi menjawab, ”Oh, saya tidak tahu”. Sang Penanya terperanjat, ”Lho, Anda kan pakar fikihnya Irak. Apa Anda tidak malu berkata tidak tahu?”

Dengan kalem, Sang Imam menjawab, ”Jangankan aku yang faqir ini, malaikat saja tidak malu saat mengatakan, ”Mahasuci Engkau, tidaklah kami memiliku ilmu kecuali yang telah Engkau berikan kepada kami” (QS Al-Baqarah : 32). Wallahua’lam.    WASPADA

Pengurus Mathla’ul Anwar Sumut

 

  • Bagikan