Waspada
Waspada » Beragama Yang Lurus
Al-bayan Headlines

Beragama Yang Lurus

Oleh Abdul Hakim Siregar

Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (QS. Al-Bayyinah: 4-5)

Beragama sepatutnya mendorong keikhlasan (ketulusan). Tetapi betapa banyak orang beragama bahkan agamawan beragama dengan maksud riya, pamer, dan cari untung ekonomi saja? Hingga mengklaim dan mengkavling surga hanya milik agamanya saja.

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar” (QS. Al-Baqarah: 111).

Pada bagian ayat berikutnya, Yahudi dan Nasrani saling menafikan peran. Bagi Yahudi, Nasrani itu tak ada apa-apanya. Sebaliknya juga, Nasrani meniadakan Yahudi. Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya” (QS. Al-Baqarah: 113).

Jika Allah SWT menilai kemuliaan disisi-Nya berupa kualitas takwa. Sedangkan bagi kita bisa jadi kehormatan bersarkan turunan, jenis kelamin, warna kulit, kabilah, bangsa, harta, tahta, keluarga, anak, rumah, mobil, uang, barang elektronik, profesi, pangkat, jabatan, pendidikan, ekonomi, dan bahkan agama untuk riya?

Semua itu karunia Tuhan, Tuhan menganugerahi manusia dengan akal pikiran sehingga manusia terilhami membangun lembaga pendidikan, ekonomi, dan rumah sakit demi kepentingan umum. Peran agama di situ agar pelaku pendidikan, ekonom, ahli kesehatan atau dokter bekerja dengan mengedepankan sikap ikhlas, tulus membantu kepentingan banyak orang. Tentu saja sebagai lahan ibadah dan bernilai pahala di sisi Tuhan jika dikerjakan secara ikhlas bukan riya–mengharap pujian orang lain atau gaji semata?

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih” (QS. At-Taubah: 34).

Janganlah juga kita kini menuduh rahib (rabi) Yahudi dan ruhban (pendeta) Nasrani khas yang memakan harta haram. Bukankah kita juga ada yang suka memakan harta haram? Janganlah hanya mengira hanya Yahudi dan Nasrani yang menghalangi dari sabilillah! Bukankah juga demikian kita? Janganlah menduga cuma Yahudi dan Nasrani yang menyimpan emas, perak, dan uang secara berlebihan! Bukankah juga sebagian kita yang kaya berlaku bakhil, kikir? Artinya, peringatan ayat itu juga berlaku bagi kita. Janganlah kita merasa kekecualian dari situ?

Maka hakikat beragama sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-Bayyinah ayat 4-5 di atas mengabdi kepada Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Semua itu dilandasi dengan keikhlasan. Itulah cara beragama yang lurus.

Shalat dan berbagi harta kepada pengemis dan miskin seperti dalam Surah Al-Maa’rij ayat 19-25 dapat menjadi penawar keluh kesah, pengeluh, putus asa, dan kikir (Lebih lengkap lihat QS. Al-Maa’rij: 19-25).

Jadi, siapapun yang mengklaim beragama kalau hanya sebatas riya, masih bakhil, kikir, pengeluh, dan putus asa. Rasanya, belumlah dia menyelami hakikat beragama. Inti beragama yang lurus ialah keikhlasan dalam beribadah, shalat, zakat, dan ibadah serta amal shalih lainnya. Waspada

Penulis adalah Guru MAN IC Tapanuli Selatan

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2