Waspada
Waspada » Benarkah Anda Ahlussunnah Waljamaah?
Al-bayan Headlines

Benarkah Anda Ahlussunnah Waljamaah?

Oleh dr Arifin S. Siregar

Sesungguhnya seseorang itu akan mendapat ganjaran melainkan dari apa yang dikerjakan sendiri (QS. An Najm: 39)

Sering terdengar pengakuan, kamilah AhlusSunnah Waljamaah. Mereka menuduh pihak Wahabi (orang Islam di Saudi Arabia) atau sebagian umat Islam di Indonesia yang sepaham dengan Wahabi dituduh bukan AhlusSunnah Waljamaah? Hal ini perlu pembuktian dan pembahasan.

Pembahasan Dan Pembuktian

Golongan AhlusSunnah Waljamaah (ASW) ialah golongan yang keyakinan dan pengamalannya sejujurnya sesuai ajaran/petunjuk Sunnah Nabi SAW. Maka kita berikan beberapa contoh untuk pembuktian benarkah mereka ASW?

Contoh 1 : Sesuai Sunnah (HR.Muslim): Nabi SAW mengajarkan bershalawat adalah seperti: “Allahumma sholli ala Muhammad…” Adalah Nabi SAW, Sahabat, golongan Wahabi atau “Sebagian Umat Islam Indonesia” (SUII) bershalawat: “Allahumma sholli ala Muhammad…”

Tetapi ada golongan di Indonesia (yaitu golongan yang menuduh Wahabi dan golongan lain adalah bukan ASW) mereka bershalawat: “Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad…” Apakah mereka yang tidak patuh/tidak meniru contoh shalawat yang dicontohkan Nabi SAW (tanpa “Sayyidina”), itu masih AhlusSunnah Waljamaah?

Contoh 2 : Nabi SAW, Sahabat, Wahabi dan golongan SUII tidak pernah ada mengajarkan atau mencontohkan bila memberangkatkan jamaah Haji di dalam acara doa disertai dengan “Tepung Tawar”. Apakah ini masih golongan ASW?

Contoh 3 : Ketika memasukkan mayat ke liang lahat, maka mereka azan-kan (mengumandangkan azan). Apakah ini termasuk ASW? Karena Nabi SAW, sahabat, Wahabi, dan SUII tidak melakukannya.

Contoh 4 : Shalat jenazah yang diajarkan Nabi SAW, setelah salam, maka jenazah segera diangkat diantar ke kuburan. Tetapi mereka (yang mengaku ASW) lakukan selesai salam, ada lagi disambung dengan doa-doa (bentuk/ciptaan mazhab-nya). Selesai doa tambahan ini, baru mayat diangkat ke kuburan. Apakah mereka ini ASW?

Contoh 5 : Mereka membenarkan acara“kenduri laut” (membuang ayam/kepala kerbau ke laut) bersamaan dengan doa doa agar nelayan selamat, banyak tangkapan nya dan terhindar dari bahaya. Ayam dan kepala kerbau mungkin mereka yakini  “sogok” pada dewa laut? Apakah mereka ini masih ASW? Kalangan Wahabi dan SUII tidak mengerjakannya.

Contoh 6 : Ketika berdoa melakukan tawassul pada Nabi SAW yang telah wafat sebagai wasilah kepada Allah SWT, untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Semoga doanya didengar/diterima Allah SWT. Padahal Sahabat melakukan tawassul pada Nabi SAW minta hujan ketika Nabi SAW masih hidup. Setelah Nabi SAW wafat, mereka bertawassul pada Ibnu Abbas paman Nabi SAW yang masih hidup. Pertanda tidak boleh bertawassul pada yang telah wafat. Apakah mereka ini masih ASW?

Contoh 7 : Tahlilan (baca Yasin, doa, wirit) di malam ke7, malam ke40 dan malam ke100 atau malam ke1000 kematian, menghadiahkan pahala. Mungkin mereka menganggap malam ke 40, 100, 1000 itu berkat dengan baca Yasin beramai-ramai, semua itu tidak ada dalam ajaran Islam, tidak pernah di kerjakan Nabi SAW, Sahabat, Wahabi dan SUII. Apakah mereka yang mengamalkan tahlilan di atas termasuk ASW?

Contoh 8 : Mengeramatkan kuburan para wali, dianggap tempat makbul berdoa. Apakah mereka ini ASW?

Contoh 9 : Berkeyakinan pahala bacaan Yasin (Al Qur’an) bisa dihadiahkan pada yang sudah wafat. Bertentangan dengan QS. An Najm 39, Allah SWT menyatakan :“Sesungguhnya seseorang itu akan mendapat ganjaran melainkan dari apa yang dikerjakan sendiri”. Apakah mereka ASW? Adalah Nabi SAW, Sahabat, Wahabi dan SUII tidak mengamalkannya.

Contoh 10 : Menyendiri di suatu tempat yang sunyi untuk mengkhusuk-kan diri ketika bermunajat ke pada Allah SWT. Cara (ibadah) ini bukan ajaran Nabi SAW/bukan Sunnah. Ajaran Nabi SAW, untuk bermunajat ke padaAllah SWT cukup dengan mengadakan i’tikaf di masjid pada malam hari. Apakah mereka masih ASW?

Contoh 11 : Memperingati hari lahir/wafat wali-wali dengan cara upacara besar-besaran, potong kerbau/lembu dan sebagainya. Tidak pernah diamalkan oleh Nabi SAW, maupun Sahabat, maupun Wahabi, maupun SUII. Apakah mereka masih ASW?

Contoh 12 : Azan shalat Jum’at 2 kali, keduanya di masjid dan sudah masuk waktu shalat Jum’at. Cara itu petunjuk mazhab. Tidak pernah dibuat Nabi SAW dan Sahabat Ustman RA, Wahabi dan SUII. Apakah mereka masih tergolong ASW?

Contoh 13 : Mengadakan “talqin” di kuburan (mengajari yang sudah wafat). Tidak pernah dilakukan Nabi SAW dan Sahabat, Wahabi, SUII. Apakah mereka masih tergolong ASW?

Contoh 14 : Kenduri (makan makan) atau  potong kerbau di rumah kematian. Hal seperti ini  dilarang Nabi SAW, ajaran Nabi SAW (Sunnah) : “Berikan kamu makan keluarga Jakfar karena mereka sedang dirundung musibah (Jakfar wafat)”. Apakah mereka ini masih ASW?

Contoh 15 : Menganggap atau meyakini Bid’ah ada 2 macam, 3 macam, 4 macam (bid’ah haram sesat, bid’ah hasanah, bid’ah makruh, bid’ah mubah, bid’ah sunat. Nabi SAW menyatakan : “Bid’ah hanya sesat” (satu macam). Apakah mereka ASW?

Contoh 16 : Mereka memahami wudhu sentuh istri/wanita batal wudhu. Nabi SAW sentuh Aisyah tidak batal wudhunya. Apakah mereka ASW?

Contoh 17 : Baca Al Qur’an/zikir serentak beramai-ramai bertentangan dengan QS. Al A’raf 204. Apakah mereka golongan ASW?

Contoh 18 : Niat shalat mereka lakukan di dalam “Takbiraturikhram”. Hal ini (merusak kekhusukan Takbiraturikhram). Seharusnya di dalam hatinya tergerak pengakuan Allah Yang Mahabesar. Tapi justru diisinya di hatinya: “sengaja aku shalat Subuh dua rakaat…”. Merusak rukun shalat. Seharusnya niat di hati sebelum Takbiraturikhram.

Contoh 19 : Mereka tidak puasa atau tidak Hari Raya karena tidak melihat hilal (anak bulan). Tapi mereka sudah tau hilal (bulan) sudah berada 1 derjat atau 2 derjat, atau 4 derjat di atas ufuk (horizon) dengan ilmu hisab.

Berarti mereka membohongi diri tidak puasa atau tidak hari raya karena mengatakan belum melihat hilal. Tapi mengetahui hilal sudah wujud(muncul) 1 derjat atau 2 derjat atau 3 derjat di atas ufuk. Adapun Nabi SAW tidak puasa atau tidak hari raya, memang Beliau yakin hilal (bulan) belum di atas ufuk (karena ketika itu ilmu hisab belum berkembang).

Contoh 20 : Kalaulah ada orang atau golongan menganggap ada “Islam Indonesia” (ada Islam pengamalannya disesuaikan dengan kehendak adat di Indonesia), apakah ini masih ASW?

Kesimpulan

Kelompok/golongan mana sesungguhnya yang ASW? Apakah golongan Wahabi atau sebagian SUII yang ada di Indonesia yang sependapat dengan Wahabi yang mengamalkan Sunnah, itulah yang ASW? Tegasnya,orang/golongan yang mengikut/mengamalkan ajaran Al Qur’an dan Sunnah (Hadis sahih) itulah yang tergolong ASW.   WASPADA

Dokter Spesialis

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2