Waspada
Waspada » Bahaya Sifat Ego
Al-bayan Headlines

Bahaya Sifat Ego

Oleh Tantomi Simamora

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS. Al-Baqarah: 34)

Dosa egois sesungguhnya jauh lebih besar dari pada sebuah kelalaian. Kita tentu sudah lihat sejarah, Iblis itu terkutuk karena keegoaannya, sedangkan nabi Adam itu tertipu karena provokasi Iblis. Nabi Adam AS diampuni sedangkan Iblis itu dikutuk selamanya. Anehnya Iblis tidak menyesali perbuatannya, bahkan ia terus berusaha menggoda manusia ke jalan kesesatan sehingga ia kelak mendapatkan banyak teman karib menuju neraka.

Setan terkutuk karena kesombongan. Berawal dari rasa puas, bangga terhadap diri sendiri sampai kepada kehilangan jati dirinya secara hakiki. Sehingga ia merasa lebih super dari makhluk ciptaan Allah yaitu manusia.

Besarnya dosa egois karena akan melahirkan sifat buruk lainnya seperti sombong, tidak menghargai pendapat orang lain, selalu merasa benar dan selalu merasa bangga terhadap dirinya. Ia merasa telah menggapai sebuah kebahagiaan, padahal kebahagiaan yang ia dapatkan adalah kebahagiaan semu yang justru membuat dirinya hampa.

Sikap egois memang selalu menjadi penghalang untuk meraih ridha-Nya. Ketika sikap egois telah menguasai hati, maka sulit menerima kebenaran yang hakiki. Dosa egois akan merambat kepada karakter manusia, kalau sebelumnya lembut, maka bisa saja berubah menjadi sangat keras sehingga tidak bisa menerima nasehat walaupun itu sebenarnya baik.

Ketika kita mulai egois, maka sebenarnya kita telah menodai diri kita sendiri. Ketinggian hati, rasa lebih hebat, lebih kuat hanyalah perasaan palsu. Padahal sebenarnya kita lemah dan tidak berdaya. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung (QS. Al-Isra:37).

Perilaku orang yang lupa diri dan tidak bersyukur karena ada rasa egois dan sombong. Karena egois, seseorang bisa riya, syirik bahkan sampai lupa kepada Allah SWT. Firman Allah dalam Al-Qur’an: Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan (QS. Yunus: 12).

Teruslah berzikir kepada Allah SWT di manapun, bagaimanapun keadaan kita. Karena manusia tidak pernah luput dari pantauan dari kekuasaan Allah SWT. Desiran kalimat takbir, tahmid dan tasbih yang tertancap dan sudah mendarah daging dalam diri manusia akan membentuk manusia paripurna.

Ketika sudah behasil menjadikan zikir sebagai pengingat Allah, maka hal itu juga akan menjadi benteng pertahanan kuat menghadapi berbagai persoalan hati. Apabila kita telah yakin kekuatan zikir, maka kita akan paham, bahwa manusia selaku hamba Allah SWT memiliki beban mutlak, hidup semata untuk mengingat Allah SWT. Semoga kita semua tidak termasuk golongan yang memiliki sikap egois.   WASPADA

(Guru Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid/PDM Kab. Tapanuli Selatan)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2