Bahaya Istidraj Menurut Alquran

Bahaya Istidraj Menurut Alquran

  • Bagikan

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” (QS. al-Fajr: 15-16)

Dinamika dan romantika kehidupan ini ternyata penuh dengan berbagai ujian; suka dan duka, susah dan senang, kaya dan miskin, cinta dan benci, sehat dan sakit semua itu adalah ujian Allah SWT yang harus disikapi dengan berfikir positif. Alquran juga menjelaskan hal tersebut sebagaimana ayat di atas.

Ada sebagian orang mampu bertahan dalam keimanannya ketika diuji Allah SWT dengan segala keterbatasan hidupnya, terbatas harta, kesehatan, fisik dan lainnya. Namun ada pula sebagian orang tidak mampu bertahan dalam keimanannya ketika diuji Allah SWT dengan berbagai karunia-NYA berupa harta, kekuasaan, popularitas, dan lain sebagainya.

                                             

Sehingga mereka melupakan Allah SWT yang memberi segala kesenangan itu. Lebih ironis lagi mereka baru tersadar untuk mencari Tuhan ketika dirundung berbagai kepahitan dan penderitaan dalam hidupnya.

Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa” (QS. Fussilat : 51). Sejatinya dalam hidup ini selalu berbaik sangka kepada Allah SWT, bahwa apapun yang telah dimiliki semua itu adalah yang terbaik untuk kita, Sehingga terhindar dari kehidupan yang penuh keluh kesah dan tidak bersyukur.

boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS.al-Baqarah : 216).

Memahami hakikat kehidupan ini adalah ujian menurut Alquran, maka manusia itu tidak boleh terlena dalam hidupnya, berhati-hati karena Allah SWT tidak akan pernah diam mengurus hamba-NYA. Siapa yang berbuat kejahatan, kebatilan, kezaliman sementara dia senantiasa mendapatkan banyak nikmat dari Allah SWT, itulah yang disebut Istidraj, nikmat dalam maksiat.

Istidraj, yaitu ketika seseorang meraih apa saja yang diinginkannya. Sementara dia senantiasa dalam berbuat kemaksiatan, suka melakukan dosa, tapi dia meraih berbagai kesuksesan, seakan dunia ini terbuka lebar baginya.

Boleh jadi hartanya terus bertambah sementara tidak pernah berzakat, badannya sehat saja, sementara gemar berbuat dosa, selalu dimuliakan manusia, dihormati, bahkan diidolakan sementara hidupnya tidak bermoral.

Berhati-hati dengan istidraj, jangan sampai nikmat membawa sengsara, ada duka di balik canda tawa duniawi bagi orang yang melampaui batas. Allah SWT ingatkan kita, “dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui” (QS. al-A’raaf: 182).

Dalam satu riwayat dari ‘Uqbah bin ‘Amar Nabi SAW menyebutkan, “Apabila engkau melihat seseorang mendapatkan nikmat, kesenangan dalam segala urusan duniawinya dari Allah SWT. Sementara dia banyak berbuat dosa, bahkan tidak takut kepada Allah SWT, maka itulah yang disebut istidraj.

Kemudian Nabi SAW membaca ayat Alquran, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputusasa” (QS. al-An’am: 44).

Berhati-hatilah kita di saat banyak mendapatkan kesenangan dunia ini, sementara kita juga banyak berbuat dosa, melalaikan dan meninggalkan perintah Allah SWT. Jangan-jangan itu adalah istidraj.

Allah SWT memang tidak serta merta memberikan hukuman-NYA, Dia masih menangguhkan turunnya berbagai hukuman, siksaan itu bagi orang-orang yang zalim, pelaku dosa besar, karena begitu besarnya kasih sayang Allah SWT kepada hamba-NYA sekalipun mereka telah berbuat dosa, masih dibuka pintu-pintu untuk bertaubat.

Dan aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku Amat tangguh” (QS. al-Qalam: 45). Sebelum hukuman itu datang, sejatinya kita semakin memperbanyak ibadah; memakmurkan masjid shalat berjamaah di awal waktu, menghidupkan majlis Alquran dan ilmu, menjaga shilaturrahim tanpa adanya permusuhan, dendam dan perpecahan di tengah umat dan senantiasa amar ma’ruf nahi a’nil mungkar.

Tetapi jika ruang dan waktu yang telah Allah SWT sediakan itu disia-siakan tanpa segera berhijrah menuju ketaatan, maka saatnya hukuman Allah SWT itu pun datang. Bahkan secara tiba-tiba karena manusia itu benar-benar telah melampaui batas, bahkan hati mereka sudah mati.

Bagi yang sehat, tiba-tiba sakit tak berdaya, yang berbisnis, tiba-tiba hancur dalam kerugian, yang berkuasa tiba-tiba dicopot dari kekuasaannya, canda tawa tiba-tiba menjadi airmata dan yang sangat mengerikan, yang masih hidup dia mengalami kematian yang tiba-tiba sementara belum sempat bertaubat.

Allah SWT telah murka, “Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” (QS. al-An’am: 45). Juga diingatkan, “Dan Begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras” (QS. Huud: 102).

Sungguh istidraj harus dihindari, karena bahayanya bagi kehidupan manusia yang terlena dalam kegemerlapan duniawi ini. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menyebutkan, bahwa jika seorang hamba yang suka berbuat dosa kepada Allah SWT, dia akan merasakan empat hal:

Pertama, tidak terhalang baginya kesehatannya, kedua, tidak terhalang pula baginya rezeki dan berbagai nikmat lainnya, ketiga, Allah SWT tidak menampakkan dosanya, dan keempat Allah SWT tidak serta merta menghukumnya.

Semua itu adalah karena Allah SWT Mahapengasih, Penyayang, Penerima taubat kepada hamba-hamba-NYA. Tetapi malangnya adalah ketika si hamba pula yang melupakan Rabb-nya. Allah SWT selalu menepati janji-NYA.

Hujan yang turun menyejukkan bumi, menyuburkan tanaman, cahaya matahari yang sangat bermanfaat, sinar rembulan di malam hari, lautan, gunung, sungai, yang membawa manfaat dan keindahan alam bagi semua manusia. Bahkan manusia yang berbuat dosa pun merasakan semua nikmat tersebut.

Ironisnya ada pula di antara manusia itu yang berani mengingkari janjinya, menghkianati Allah SWT, “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah:

“Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran)” (QS. At-Taubah : 75-75).

Jika istidraj adalah nikmat dalam maksiat, maka yang terindah adalah ketika kita mendapatkan nikmat dalam taat. Nikmat yang diperoleh karena kepatuhan, ketundukan dan kebaikan yang dipersembahkan kepada Allah SWT.

Sebagaimana Nabi Sulaiman AS yang kaya raya, memiliki kekuasaan, kerajaan, sangat menyadari bahwa itu semua anugerah terindah dari Allah SWT. “…Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya)…” (QS.An-Naml: 40).

Semoga momentum Tahun Baru Islam 1443 H menjadikan kehidupan kita lebih baik dari masa lalu dan mampu melakukan perubahan diri agar terhindar dari istidraj.    WASPADA

Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumatera Utara

  • Bagikan