Waspada
Waspada » Ayyamul Bidh
Al-bayan Headlines

Ayyamul Bidh

Oleh Darwis Simbolon, S.Pd., M.Pd

 

Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan kepadaku tiga nasehat penting yang aku tidak pernah meninggalkannya hingga aku mati; yaitu berpuasa tiga hari setiap bulannya, mengerjakan shalat dhuha, dan mengerjakan shalat witir sebelum tidur (HR. Bukhari no. 1178)

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik bagi siapapun. Bukan hanya untuk umat Islam bahkan seluruh umat manusia. Setiap perkataan, perbuatan hingga taqrir (persetujuannya) mengandung hikmah kebaikan. Maka pantaslah Beliau disebut sebagai uswatuh hasanah (suri teladan). Disutusnya Rasulullah sebagai rahmatan lil alamin.

Rasulullah SAW telah mewasiatkan kepada umatnya agar jangan meninggalkan tiga amalan utama, yaitu berpuasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha, dan shalat witir sebelum tidur. Puasa termasuk amalan istimewa seorang hamba yang akan dibalas langsung oleh Allah. Dalam hadits Qudsi disebutkan:

Allah SWT berfirman: “Puasa itu untukku dan Aku yang akan langsung memberi ganjarannya”(HR. Bukhari)

Puasa Ayyamul Bidh termasuk kebiasaan Rasulullah sepanjang hayat. Maka hendaknya kita bisa meneladani dan mengikuti kebiasaan baik dari suri teladan terbaik manusia ini. Puasa Ayyamul Bidh termasuk amalan istimewa yang disunnahkan untuk dilaksanakan pada setiap bulannya berdasarkan penanggalan Qomariyah atau bulan Hijriyah.

Dr Mustofa Al Bugho dalam kitabnya Al fiqhu Al Manhaj ‘ala Madzhabil Imam Asy Syafi’i menjelaskan, disebut sebagai puasa Ayyamul Bidh (hari putih) karena pada malam-malam tersebut bersinarnya bulan purnama dengan sinar rembulan yang putih.

Berdasarkan kalender Hijriyah, dapat dihitung bahwa bulan Februari 2021 bertepatan Rajab 1442 tahun ini. Sehingga puasa Ayyamul Bidh bisa dikerjakan sejak 25 sampai 27 Februari 2021 bertepatan 13, 14 dan 15 Rajab 1442 H. Namun ada pengecualian larangan berpuasa 13 Djulhijjah karena bertepatan dengan hari Tasyriq hari diharamkan berpuasa.

Dalam kitab Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin menjelaskan, puasa tiga hari setiap bulan tersebut boleh dilakukan pada sepuluh hari pertama, pertengahan atau sepuluh hari terakhir dari bulan Hijriyah. Atau bisa juga dikerjakan sehari pada setiap sepuluh hari dari bulan Hijriyah.

Ini menunjukkan keluwesan waktu bagi orang yang berusaha mengerjakannya. Pernyataan ini dikuatkan dari perkataan Aisyah ra: Beliau tidak peduli hari apa beliau berpuasa, bisa diawal, pertengahan, atau akhir bulan Hijriyah (Syarh Riyadhus Sholihin).

Hikmah mengerjakan puasa ayyamul bidh, Pertama, meraih pahala laksana berpuasa sepanjang tahun. Dari Abdullah bin Amr Al Ash, Rasulullah SAW bersabda: Berpuasa sebanyak tiga hari setiap bulannya adalah seperti berpuasa sepanjang tahun (HR. Bukhari no. 1979)

Kedua, sebagai bukti kecintaan dan menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah. Rasulullah SAW memiliki kebiasaan dan akhlak terpuji sehingga beliau selalu menjadi contoh terdepan dalam setiap kebaikan. Rasulullah mewasiatkan kepada para sahabat dan umat Beliau untuk berpuasa tiga hari setiap bulannya.

Dari Abu Dzar, Rasulullah SAW bersabda: Jika engkau hendak berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (pada bulan hijriyah) (HR. Tirmidzi no. 761 dan An-Nasai no. 2424)

Inilah bukti kecintaan kepada Allah lalu kecintaan kepada Rasulullah. Allah SWT berfirman: Katakanlah, jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah (pasti) mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian (QS. Ali Imran: 31).

Ketiga, mengajarkan sikap istiqomah atau konsistensi dalam beramal shaleh. Rasulullah tidak pernah melewatkan puasa ayyamul bidh walau dalam kondisi apapun. Termasuk ketika sedang di rumah bahkan dalam perjalanan sekalipun.

Dari Ibnu Abbas ra, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa berpuasa pada ayyamul bidh baik ketika tidak bepergian atau sedang bersafar(perjalanan) (HR. An-Nasai no. 2345).

Oleh sebab itu, setiap jiwa yang mengharap kebaikan dari Allah semata harus bersikap sabar dan istiqomah dalam ketaatan. Karena sabar dan istiqomah termasuk kunci diterimanya amal shaleh. Sebagaimana Rasulullah yang tetap istiqomah atau konsisten mengerjakan puasa Ayyamul Bidh di sepanjang hidupnya.  WASPADA

Wakil Bidang Ilmu Komputer dan Robotika di Pesantren “Darul Mursyid”, Tapanuli Selatan

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2