Awas Hal Sepele Merusak Tauhid?

Awas Hal Sepele Merusak Tauhid?

  • Bagikan

Sayyidina Hamzah satu ketika berkelahi, menimpa dan menghimpit segera akan membunuh seorang kafir karena mengatakan Allah itu punya anak dan istri (menghina Islam). Tiba-tiba si kafir berkata: ”Tunggu, sebelum kau bunuh aku, ada satu permintaanku”. Hamzah berkata: “Sebut apa itu”. Secepat kilat si kafir menyemburkan ludahnya ke wajah Hamzah. Segera Hamzah menyarungkan pedangnya. Dan si kafir dilepaskannya

Tulisan ini dibuat terdorong oleh Hadis Nabi SAW yang menyatakan: “Gara gara wudhu’ yang tidak beres terhalang orang masuk surga”. Atau Hadis lain menyatakan: Tidak masuk surga orang yang di hatinya dendam sebesar zarrah. Atau Hadis lain menyatakan : “Syirik itu lebih samar dari langkah kaki semut, di atas batu hitam, di malam gelap gulita”.

Tentu hal ini karena rusak Tauhidnya, meski sekecil sekilas apapun, wajib dijaga. Sebaliknya begitu agung dan dahsyatnya kualitas Tauhid itu, di mana Allah SWT menyatakan: Akan masuk surga orang yang di akhir hayatnya (menjelang akan menghembuskan nafasnya) menggerakkan di hatinya: “Laila ha illallah” = “Tidak ada Tuhan selain Allah”.

Berarti hanya dengan keteguhan Tauhid di hati sudah bisa melebur mengikis semua dosa besar maupun kecil. Kesimpulannya, jangan bermain-main dengan Tauhid, pandang sepele, acuh tak acuh masalah Tauhid.

Pembahasan

Pertama, contohnya: Seseorang mengatakan “Semua agama itu bagus, baik dan benar”. Menyatakan baik dan bagus itu boleh. Tapi mengatakan semua benar, itu merusak Tauhid. Karena yang wajib kita yakini adalah agama Islam yang menyatakan Allah itu Esa (mutlak, tidak beranak atau tidak ada pendampingnya, dan Mahasegala-galanya).

Kedua, contohnya: Mengucapkan “Selamat Hari Natal”. Ucapan ini berarti mengakui Nabi Isa as itu anak Tuhan dan Tuhan itu beranak. Berarti rusak Tauhidnya. Ketiga, contohnya: Mengatakan: “Pembegal itu dapat ditangkap segera, berkat ketangkasan polisi itu”. Ada yang mengatakan pemakaian kata “berkat” di sini bermaksud “oleh karena”. Padahal kata “berkat” hanya diperuntuk kan pada Allah SWT yang berarti “kemampuan” Allah yang tidak dipunyai oleh siapapun. Menggunakan “berkat” untuk polisi berarti mengambil hak Allah, bisa merusak Tauhid. Jadi sebaiknya cukup dikatakan “oleh karena” kemampuan polisi itu…

Kemudian ada yang mengatakan “Kita harapkan anak yang baru lahir ini membawa berkat kepada orang tuanya. Ucapan ini merusak Tauhid. Yang benar seharusnya : “Semoga anak yang baru lahir ini diberkati oleh Allah SWT”. Atau “Dengan lahirnya anak ini semoga Allah SWT memberkati kedua orang tuanya”. Sebagai bandingan, bolehkah berkata: “Kita harapkan hidayah dari presiden untuk penyelesaian masalah yang menjadi pertikaian itu?

Keempat, contohnya : QS An-Nisa’: 59 menyuruh kita supaya taat kepada Allah SWT dan taat pada Rasul-Nya. Tapi seseorang lebih taat pada mazhabnya ketimbang pada Allah SWT dan Nabi SAW. Misalnya Allah SWT dan Nabi SAW (HR Muslim) menyuruh bershalawat pada Nabi SAW dengan: Allahumma solli ala Muhammad…. Tapi ada orang bershalawat: Allahumma solli ala sayyidina Muhammad… Maka ketidaktaatan pada Allah dan Rasul-Nya akan merusak Tauhid?

Kelima, Nabi SAW mengajarkan sesudah masuk waktu shalat Jumat maka azannya hanya sekali. Tapi ada masjid membuat dua kali. Apakah ini tidak merusak Tauhid? Rujuk pada QS. An-Nisa’: 80: Apabila seseorang mengikut Rasul berarti ia mengikut Allah”.

Keenam, Nabi SAW mengajarkan setiap memulai pekerjaan baca Bismillah dan setelah selesai maka ucapkan Alhamdulillah sebagai tanda kesyukuran pada Allah SWT. Mengucap Sadakallahul azim, tidak ada petunjuk Allah atau Nabi SAW.

Ketujuh, orang minta syafaat pada Nabi SAW, pada wali yang telah wafat. Padahal QS Az Zumar: 44 menyatakan: “Kepunyaan Allah syafaat itu semua”. Maka kenapa meminta syafaat pada yang lain selain Allah SWT? Kemarahan Allah meminta syafaat kepada yang lain, dinyatakan-Nya melalui QS Az Zumar: 43: “Apakah mereka meminta syafaat pada selain Allah?

Apakah ini tidak merusak Tauhid? Yang benar minta syafaat pada Allah dan Allah akan memberikannya melalui Rasul-Nya dan wali-Nya sebagai perantara. Apalagi meminta syafaat atau doa pada yang sudah wafat. Kita boleh mohon pertolongan doa (bukan syafaat) dari Nabi SAW ketika beliau masih hidup.

Kedelapan, menutup doa dengan ucapan Subhana robbika robbil izzati amma ya sifun (Mahasuci Tuhanmu, Tuhan dari apa yang mereka sifatkan). QS Asy Saffa’at: 180 ini adalah firman (ucapan) Allah SWT di hadapkan-Nya pada Nabi SAW. Kata “mu” dalam ayat itu berarti Muhammad SAW, ketika ayat itu dihadapkan pada Nabi SAW oleh Allah SWT. Bila ayat ini di pakai sebagai doa (bermunazat, berkata-kata) kepada Allah SWT, maka “mu” itu berarti Allah. Maka apakah ini tidak merusak Tauhid, di mana dituduh bahwa Allah itu mempunyai tuhan?

Kesembilan, setelah seorang meninggal dunia, maka kita berkata Innaalillahi wainnaa ilaihi raazi unn (sesungguhnya kami dari Allah dan kami akan kembali kepada-Nya (Allah)). Tetapi ada anggapan ruh seseorang dapat kembali lagi ke bumi (ke rumahnya, liang lahatnya) untuk ditanyai? Apakah ini tidak merusak Tauhid?

Kesepuluh, mengerjakan shalat dengan niat cari pahala. Apakah ini tidak merusak Tauhid? Seharusnya kita shalat karena kewajiban menjalankan perintah Allah SWT. Sebagai bandingan: Sayyidina Hamzah satu ketika berkelahi, menimpa dan menghimpit segera akan membunuh seorang kafir karena mengatakan Allah itu punya anak dan istri (menghina Islam).

Ketika Hamzah hendak menghunjamkan pedangnya, tiba-tiba si kafir berkata :”Tunggu sebelum kau bunuh aku, ada satu permintaanku”. Hamzah berkata: “Sebut apa itu”. Secepat kilat si kafir menyemburkan ludahnya ke wajah Hamzah. Apa yang terjadi? Segera Hamzah menyarungkan pedangnya. Dan si kafir dilepaskannya.

Hamzah ra berpikir, kalau kuteruskan membunuh si kafir ini maka aku bunuh karena diludahinya wajahku (maka timbul kemarahan dan kebencian) bukan lagi karena membela Islam. Jadi niatnya telah berubah seketika dari membunuh karena Allah (membela Islam) tapi berubah karena kemarahan wajahnya diludahi.

Suatu ketika seseorang mengundang Imam Sofyan Atstsaury dan kawannya ke rumahnya. Ketika tiba waktu makan maka si pengundang menyeru pada istrinya: “Wahai istriku, hidangkan makanan menggunakan talam yang kita bawa dari ibadah haji yang kedua”. Spontan Imam Sofyan Atstsaury berbisik pada temannya: “Kasihan si pengundang ini, telah merusak kedua ibadah hajinya (terjebak riya, di mana riya termasuk syirik). Maka rusak Tauhidnya.

Kesebelas, Ulama adalah pewaris Nabi SAW. Nabi SAW menyatakan: “Bid’ah itu semua sesat” (HR Muslim). Berarti bid’ah itu hanya satu macam. Bila mengatakan bid’ah itu dua macam (ada yang sesat dan ada yang hasanah), berarti mengingkari Nabi SAW dan bukan sebagai pewaris Nabi SAW lagi. Tidak mengikut Nabi SAW, berarti tidak mengikut Allah (QS An-Nisa’: 80): “Barang siapa menaati Rasul SAW maka berarti ia telah mentaati Allah SWT.

Keduabelas, ucapan: “Marilah kita hadiahkan pahala bacaan Fatihah kita pada Nabi SAW”. Apa pahala itu kepunyaan atau bentukan yang baca Fatihah? Apa sudah tahu ia, apakah Allah memberi pahala pada bacaannya? Bukankah ini satu kesombongan, apakah ini tidak merusak Tauhid ?.

Ketigabelas seorang berucap: “Marilah kita panjatkan puja dan puji kita ini kepada Allah SWT. Pertanyaan: Pakai apa dipanjatkannya? Apakah Allah itu jauh, di mana? Padahal diyakini Allah itu dekat, lebih dekat dari urat nadi leher. Apakah ini tidak merusak Tauhid?

Keempatbelas mana yang benar, mengatakan: “Shalawat dan salam kita sampaikan pada Nabi SAW ?” atau “Shalawat dan salam (doa) kita ucapkan untuk Nabi SAW? Di mana shalawat itu adalah doa. Berarti, barangkali lebih tepat dikatakan shalawat dan salam (doa) kita sampaikan pada Allah SWT untuk Nabi SAW. Agar Tauhidnya tidak kacau?

Kelimabelas, mengadakan tahlilan pada kematian niat menghadiahkan pahala pada malam ke 1,2,3 dan ke 40,100,1000.

Tidak ada Allah SWT dan Nabi SAW menyatakan atau mengajarkan adanya hadiah pahala dan memberi keyakinan malam-malam itu adalah malam yang berkat untuk tahlilan. Apakah ini tidak merusak Tauhid?

Keenambelas, mengatakan kalau bukan karena aku dulu maka dia tidak akan menjadi dokter sekarang. Apakah ucapan ini merusak Tauhid. Waspada

Dokter Spesialis

  • Bagikan