Arti Penting Keluarga - Waspada

Arti Penting Keluarga

  • Bagikan

 

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa (QS Thaha: 132)

 

                                             

Ayat sebelumnya berbunyi: Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang. dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal (QS Thaha: 130-131).

Abu Hayyan dalam Al-Bahr al-Muhit menjelaskan kelompok ayat ini turun ketika kaum musyrik semakin mengingkari kenabian Muhammad SAW dan ajaran Beliau. Mereka mengolok-olok Beliau sebagai orang gila dan penyihir sembari menganiaya kaum Muslimin. Allah SWT mengingatkan mereka betapa banyak umat terdahulu dibinasakan akibat mengufuri keberadaan Allah SWT.

Peringatan ini tidak diperhatikan, namun Allah Yang Mahapemurah tidak menyegerakan azab kepada mereka, melainkan menangguhkannya hingga hari Kiamat. Turunnya ayat ini pada intinya menguatkan kesabaran Nabi Muhammad SAW atas buruknya akhlak kaum penyembah berhala serta hinaan mereka.

Nabi dan para sahabat dianjurkan untuk tidak larut dalam kesedihan dan mengisi waktunya dengan hal positif seperti membaca tasbih dan tahmid : subhanallah dan alhamdulilah. Nabi dan para Sahabat dilarang mengagumi harta kekayaan orang Musyrik, sebab sesungguhnya amal ibadah lebih berharga dan abadi.

Allah juga memerintahkan Nabi Muhammad SAW mengajak keluarga dan seluruh umat mendirikan shalat dan bersabar menjalankannya. Beribadah kepada Allah SWT merupakan tujuan penciptaan manusia. Beribadah tidak akan mempersempit kesempatan mencari rezeki, sehingga kaum Muslim tidak usah resah sebab Allah akan memberikan rezeki kepada mereka. Allah berjanji orang yang beribadah dan takut pada Allah akan beroleh Surga. Ciri-ciri mereka adalah pekerjaan dan kesibukannya tidak menyebabkan mereka lupa pada Allah.

Dalam ayat 132 surah Thaha juga terlihat secara khusus peran pendidikan agama dalam keluarga. Agama sejatinya kebutuhan pokok manusia. Agama menyediakan tuntunan hidup lengkap, sejak manusia lahir hingga wafat. Bahkan menggiring manusia meraih kebahagiaan hidup di Dunia sampai Akhirat.

Dalam Tafsir al-Maraghi dijelaskan, keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak. Di rumah anak mulai mengenal orang lain, mengenal benda, bahasa. Dari rumahnya anak mulai mengenal Tuhannya. Bagaimana al-Quran mengajarkan agama pada keluarga? ”Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya.”

Kata wa’mur dalam ayat mengisyaratkan perintah berkelanjutan atau pembiasaan baik dalam melakukan pendidikan agama. Secara bertahap, anak diharapkan memahami dan menghayati–bukan sebatas meniru apa yang orangtua lakukan secara lebih intens. Demikian dari al-Maraghi.

Demikianlah keluarga sejatinya merupakan ruang penempaan karakter. Ia bukan hanya ruang mempertemukan hubungan kekerabatan dan peristirahatan fisik. Keluarga ialah sekolah pertama yang mengajarkan langsung keteladanan nilai cinta, kasihsayang, keadilan, kejujuran dan solidaritas. Ungkapan indah ”Rumahku Surgaku” merupakan cerminan keluarga Muslim.

Di zaman yang saat ini penuh fitnah, salah satu yang bisa jadi kekuatan adalah keluarga. Dengan catatan, dalam keluarga terdapat pendidikan agama, ada tarbiyah Islamiyah. Sebagaimana Nabi SAW dahulu yang senantiasa membangunkan anak dan menantu shalat malam. Beliau bersabda, ”Apakah engkau berdua tidak shalat?”

Ali bin Abu Thalib menceritakan, suatu malam Rasulullah membangunkan dirinya dan Fatimah, lalu berkata, ”Mengapa kalian tidak shalat malam?” Ali menjawab, ”Rasulullah, jiwa-jiwa kami ada di tangan Allah, jika Dia menghendaki membangunkan kami pasti kami akan bangun juga.” Maka Beliau berpaling pergi ketika mereka mengatakan seperti itu, dan tidak berkata sepatah kata pun.

Kemudian Ali mendengar ketika Beliau pergi sambil memukul pahanya berkata, ”Memang manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah” (HR Al-Bukhari). Begitulah setidaknya gambaran pendidikan agama yang diterapkan Baginda. Beliau senantiasa mengingatkan keluarga beribadah.

Semoga Allah menjadikan kita tetap istiqamah dalam jalan kebaikan perbaikan. Serta menjadikan keluarga kita sebagai tempat terindah menegakkan dan menanamkan nilai-nilai Islam. Selamat Hari Keluarga Nasional. Wallahua’lam.  WASPADA

Pengurus Mathlaul Anwar Sumut

  • Bagikan