Aqikah Anak
Oleh Dirja Hasibuan

  • Bagikan

“Dengan nama Allah, ya Allah terimalah (kurban) dari Muhammad dan keluarga Muhammad serta dari umat Muhammad” (HR. Imam Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud).

“Saya perlindungkan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang prima, dari tiap-tiap godaan syaitan, serta tiap-tiap pandangan yang penuh kebencian.“ Lahirnya anak tentunya anugerah dan kebahagiaan bagi orang tua.

Rasa syukur kepada Allah atas hadirnya sang buah hati. Banyak cara mengungkapkan rasa syukur kepada Allah. Mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran sang buah hati biasanya disebut aqiqah.

Aqiqah dilakukan dengan menyembelih binatang ternak lalu dibagikan kepada kerabat dan tetangga. Aqiqah berarti memotong, proses pemotongan hewan sembelihan pada hari ke tujuh setelah bayi dilahirkan.

Hewan yang digunakan untuk aqiqah biasanya hewan ternak seperti kambing. Aqiqah dapat dilakukan di hari ke-7, 14, atau 21 setelah kelahiran. Untuk anak laki-laki dua ekor, perempuan satu ekor kambing.

“Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih, diberi nama dan dicukur rambutnya.” Menurut sabda tersebut maka para ulama sepakat, bahwa waktu aqiqah yang paling utama adalah hari ke-7 dari awal kelahirannya.

Bahkan jika berhalangan anda tetap dapat melaksanakannya hingga hari ke-14 atau ke-21. Dan jika seorang muslim dalam kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan, maka terlepaslah kewajiban melakukan aqiqah ini.

Tidak akan berdosa seorang muslim jika meninggalkan ibadah ini, kecuali jika ia memang tidak mampu. Tata cara aqiqah menurut islam, hewan yang menjadi syarat untuk disembelih aqiqah adalah hewan yang memiliki kriteria sama dengan hewan kurban.

Sangat dianjurkan untuk memilih hewan kurban berjenis domba putih dan sehat. Umur dari hewan ini minimal ½ tahun. Membagikan daging aqiqah berbeda halnya dengan qurban. Dalam aqiqah, membagikan daging yang sudah disembelih tadi dalam kondisi sudah masak.

Hadis Aisyah ra, “Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh” (HR. Imam Baihaqi).

”Dalam kondisi seperti ini, kita dan keluarga disunnahkan untuk mengkonsumsi daging aqiqah. Sedangkan daging sepertiganya, dihadiahkan kepada tetangga dan fakir miskin. “Mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan, dengan perasaan senang” (QS. Al-Insan: 8).

Tata cara aqiqah, disunnahkan cukur rambut dan memberikan nama kepada anak yang baru lahir. Memberikan nama baik kepada anak akan mencerminkan bagaimana akhlak dan imannya kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW menganjurkan agar melakukan cukur rambut anak yang baru lahir pada hari ke-7 nya. Tidak ada hadits yang menjelaskan, bahwa harus mencukur rambut anak atau tidak, yang jelas harus dilakukan merata.

Terdapat beberapa hikmah pelaksanaan aqiqah, diantaranya: rasa syukur atas karunia lahirnya anak sebagai penerus dalam keluarganya Meneladani dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Momen untuk berbagi kepada sesama dan mempererat tali persaudaraan. Rasa gembira dan membagikan kebahagiaan tersebut kepada orang lain.

Sebagai bagian dari ajaran Islam. Aqiqah memiliki beberapa tujuan. Menghidupkan sunah Rasulullah dan meneladani Nabi Ibrahim AS, saat Allah SWT menebus putra Nabi Ismail AS yang merupakan putra Nabi Ibrahim AS.

Simbol dapat melindungi anak dari setan yang dapat mengganggu saat anak dilahirkan. Tebusan dari orang tua bagi anak mereka-guna memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya nanti saat mereka meninggal. Pendekatan diri kepada Allah SWT dan wujud rasa syukur kepada Allah SWT. Memperkuat ukhuwah Islamiyah. Mewujudkan prinsip keadilan sosial. WASPADA

(Dosen FAI Univa Medan, GPAI SMKN 1 Lubukpakam, Pengurus MGMP PAI SMK Kab. Deliserdang)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *