Anak Shalih
Oleh Tantomi Simamora

  • Bagikan

“Apabila seorang manusia meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga, yakni sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak shalih yang mendoakannya” (H.R Muslim)

Semua orang tua pasti berharap penuh untuk menjadikan anaknya menjadi anak yang shalih, anak yang berkarakter baik serta ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, kebanyakan para orang tua selalu berusaha dan bersungguh-sungguh untuk memberikan pendidikan dan pola parenting terbaik bagi anaknya.

Bahkan sejak dalam kandunganpun orang tua sudah mulau memberikan pendidikan seperti memperdengarkannya baca’an Al-Qur’an, mengajaknya berbicara dengan lembut dan lain sebagainya.

Begitu besarnya harapan orang tua untuk menjadikan anaknya menjadi anak yang shalih, karena anak yang shalih adalah investasi yang sangat berharga dan tidak akan ada putus-putusnya walaupun orang tuanya sudah meninggal dunia.

Hubungan orang tua dengan anak adalah hubungan yang sangat istimewa sehingga kita dianjurkan untuk terus menjalin hubungan yang baik dan mempertahankannya sehingga kelak akan menjadi penghubung mereka ke jalan yang diridhai-Nya.

Jika para orang tua berhasil menjadikan anaknya menjadi anak yang shalih, maka orang tua akan mendapatkan investasi yang sangat berharga dalam hidupnya, baik kehidupan di dunia maupun di Akhirat.

Begitu juga kepada anak yang terus berusaha untuk menjadi anak yang soleh, maka pada saat itu juga ia telah menemukan jalan yang mudah menuju surga-Nya.

Pentingnya menjadi anak yang shalih sehingga anak diwajibkan untuk berbakti kepada orang tua. Lebih dari itu, orang tua juga menduduki posisi penting dalam ajaran Islam. Jasa dan pengorbanan orang tua dalam membesarkan dan mendidik anaknya begitu berat, terutama sang ibu.

Hal ini juga dijelaskan dalam Al-Qur’an: “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (Q.S Luqman: 14)

Kemudian bagi seorang Muslim yang mengaku beriman, sudah seharusnyalah bagi seorang anak untuk berbuat baik kepada orangtuanya, karena orang yang berakal tentu tidak akan melupakan kebaikan orang tua yang penuh dengan nilai-nilai lkasih sayang yang sangat tinggi.

Maka untuk menjadi anak yang solih itu adalah kewajiban bagi anak mengingat pengorbanan orang tua yang tidak bisa dinilai dengan harta, tahta dan lain sebagainya. Amat tidak layak bagi seorang anak untuk melupakan kebaikan orangtuanya sehingga anak diuntut menjadi manusia terbaik bagi orang tuanya.

Intinya bagi seorang anak hendaknya melakukan yang terbaik bagi orang tuanya dan tidak menyakitinya, karena para orang tua telah mengeluarkan pengorbanan yang sangat besar bahkan terkadang sampai mempertaruhkan nyawanya.

Menurut Imam Al-Ghazali dalam bukunya “Menggapai Hidayah”, adab-adab yang baik terhadap orang tua antara lain adalah: Pertama, mendengarkan perkataannya walau tidak memerlukan jawaban. Kedua, ikut berdiri apabila Beliau berdiri sebagai penghormatan.

Ketiga, taat kepada perintahnya walau berbahaya sepanjang tidak maksiat kepada Allah SWT. Keempat, tidak melintas di hadapannya tetapi berjalan di samping atau di belakangnya. Kecuali atas perintah Beliau untuk sesuatu maksud.

Kelima, tidak mengeraskan suara lebih keras dari pada suaranya. Keenam, Menjawab dan memenuhi panggilannya dengan suara lembut. Ketujuh, senantiasa memelihara, jangan sampai berbuat sesuatu yang melanggar ridhanya, baik dalam sikap maupun kata-perbuatan.

Kedelapan, merendahkan diri dengan sopan dan lemah lembut serta berusaha untuk senantiasa ikut meringankan beban beliau. Kesembilan, tidak melakukan suatu kebaikan kepadanya atas dasar balas jasa melainkan atas dasar kewajiban demi ridhanya dan ridha Allah SWT.

Kesepuluh, tidak memandangnya dengan pandangan sinis, atau marah atau bermuka masam. Kesebelas, tidak bermuram wajah menghadap wajahnya. Kedua belas, tidak bepergian jauh kecuali dengan izinnya.

Ada banyak cara untuk menjadi anak yang soleh, bahkan luasnya kesempatan itu sepanjang kita mau berbuat baik atau berbakti kepada orangtua. Selagi kesempatan itu masih terbuka, kenapa kita tidak berusaha untuk menggapainya.

Jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan untuk menjalankan kewajiban yang mulia ini. jika kita lihat sejarah pula betapa besarnya semangat para sahabat dalam menjalankan kewajiban berbakti kepada orang tua. Maka bagaimanakah dengan kita? Sudahkah kita mengikuti jalan salafush shalih dalam amalan ini?

Seorang yang berbuat baik kepada orang tua juga akan diberi jalan menuju kebaikan dan surga. “Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW Beliau bersabda: “Celaka, kemudian celaka, kemudian celaka” kemudian Beliau bertanya, “siapa ya Rasulullah”?

Beliau SAW menjawab, “orang yang mendapati kedua orangtuanya berusia lanjut, salah satu atau keduanya, tetapi ia tidak masuk Surga” (HR. Muslim). WASPADA

Guru Pesantren Modern Unggulan Terpadu “Darul Mursyid”/PDM Kab. Tapanuli Selatan

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.