Amanah Yang Dipertanggungjawabkan Di Hadapan Allah SWT
Oleh Prof Muzakkir

  • Bagikan

“Setiap daging manusia yang tumbuh dan dibesarkan dari perkara-perkara yang haram (makanan, minuman, sumber rezeki dari yang haram) maka Neraka lebih utama baginya” (HR.Ahmad)

Allah SWT tidaklah menciptakan sesuatu kecuali memiliki maksud dan tujuan khusus, begitu pula dengan penciptaan manusia yang tidak diciptakan sia-sia, yang kelak semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.Firman Allah SWT:

“Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS. Al-Mu’minun: 115), disebut juga di ayat lain, “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36).

Kehidupan yang terbaik adalah mampu menemukan keseimbangan antara dunia dan Akhirat, menjadikan kehidupan dunia sebagai media mencapai kehidupan Akhirat. Kehidupan dunia yang sesaat ini penuh dengan permainan, canda tawa yang melalaikan bahkan kesenangan yang menipu.

Jadikanlah dunia ini sebagai sawah ladang Akhirat, siapa yang menabur benih-benih kebaikan pasti akan memetik kebahagiaan, dan siapa yang menabur benih-benih kejahatan pasti akan menuai penyesalan di hari Akhirat nanti.

“Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin” )َQS. As-Sajadah : 12).

Penyesalan sering datang terlambat, apalagi disaat penyesalan itu tidak berguna lagi, karena itu di sisa kehidupan yang masih ada ini sejatinya kita mempersiapkan skenario kehidupan yang terbaik, sebelum saatnya Allah SWT meminta pertanggungjawaban amanah kehidupan di mahkamah Akhirat.

Dalam hadis Nabi SAW pernah mengingatkan, “Kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada Hari Kiamat sampai dia ditanyai: tentang umurnya dalam hal apa dia habiskan semasa hidupnya, tentang ilmunya, dalam hal apa dia amalkan, tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan, dan tentang tubuhnya, dalam hal apa dia manfaatkan” (HR. at-Tirmizi).

Berdasarkan riwayat Hadis tersebut setidaknya ada 4 (empat) hal amanah kehidupan yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Pertama, tentang umur yang di berdayagunakan semasa hidup, ada orang yang lama hidupnya di dunia ini, tapi usianya berlalu sia-sia tanpa berbuat sesuatu yang baik, menyia-nyiakan waktu, menjadi hamba-hamba dunia, terlena hanya mencari kesenangan sesaat di dunia, padahal kesenangan dunia hanya setitik air.

“Perumpamaan antara dunia dan Akhirat ibarat seorang diantara kalian mencelupkan jarinya ke dalam lautan, maka hendaklah ia melihat apa yang menempel/tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut? Lalu beliau memberi isyarat dengan jari telunjuknya” (HR. Muslim).

Ada pula orang yang singkat usianya di dunia ini, tapi banyak kebaikan yang dilakukannya, dia tidak mabuk kepayang dengan dunia ini, dan alangkah mulianya ketika kita diberi Allah SWT kesempatan hidup yang lebih lama dan banyak pula kebaikan yang dilakukan:

“Wahai Rasulullah SAW, siapakah sebaik-baik manusia? Beliau menjawab, orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR.Tirmizi). Panjang umur juga difahami bahwa sekalipun seseorang itu telah wafat, tetapi namanya, kebaikannya menjadi kenangan.

Ada kata bijak, “Kehidupan itu pasti akan berakhir, tetapi arti dari kehidupan itu tidak akan pernah berakhir”. Usia pasti akan berakhir, tetapi kebaikan, karya-karya besar yang kita lakukan, akan selalu dikenang, meskipun kita telah tiada. Nabi saw bersabda:

“Sebut-sebutlah atau kenanglah jasa dan kebaikan orang-orang yang telah meninggal di antara kamu. (HR. Abu Daud). Nabi Muhammad Saw telah tiada, tetapi bukankah al-Quran dan Sunnah-nya menjadi petunjuk bagi kita sepanjang zaman bahkan sampai akhir zaman?

Ajarannya selalu menjadi teladan, konsep hidup dan pemikirannya selalu menjadi rujukan umat, bahkan selalu merindu untuk bershalawat menyebut namanya dan berziaran dipusaranya.

Sejenak kita merenung siapapun dan apapun diri kita, sampai saat ini adakah sesuatu kebaikan, karya nyata, gagasan cemerlang yang telah kita persembahkan yang akan dikenang oleh generasi kita?

Sejatinya kita menjadi kenangan terindah mampu mewarisi karya-karya monumental yang akan dikenang oleh generasi-generasi yang datang dibelakang hari. Allah SWT menyadarkan kita, tiada yang abadi di dunia ini, begitu juga umur semakin bertambah semakin pula bertambah lemah supaya manusia tidak sombong dan lupa diri.

“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?” (QS. Yasin: 68).

Kedua, tentang ilmunya, dalam hal apa dia amalkan. Ilmu adalah cahaya kehidupan dan sumber kebahagiaan, bersyukurlah jika setitik ilmu yang kita miliki dapat memberi pencerahan bagi diri sendiri dan orang lain, ilmu-ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan, bukan untuk menyesatkan dan membodohi orang lain.

Investasi yang berharga dalam hidup ini diantaranya adalah, Ilmu yang pernah ia ajarkan atau siarkan (ilman a’llamahu wa nasyarahu ) dan pengamalan terhadap ilmu itu sendiri, apalagi ilmu agama sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sepanjang hidup ini adalah belajar, terlebih dalam menghadapi era society 5.0 ilmu pengetahuan semakin berkembang untuk menjawab tantangan revolusi industri 4.0 diperlukan kecakapan hidup abad 21 yang lebih dikenal dengan istilah 4C (Creativity, Critical thinking, Communication, Collaboration).

Intinya adalah bahwa ilmu merupakan pemberian Allah SWT, dipersembahkan sebagai pengabdian kepada Allah SWT dan didedikasikan bagi pengembangan peradaban dan kesejahteraaan manusia.

Ketiga, tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan. Hidup yang paling indah ketika kita mampu memberikan sesuatu yang juga bisa membahagiakan orang lain, Nabi SAW bersabda:

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di Dunia dan Akhirat. ‘Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan Akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya”(HR.Muslim).

Harta adalah amanah dan anugerah Allah SWT, yang sesungguhnya di dalam harta itu ada hak orang lain yang harus diberikan, bukan untuk dinikmati sendiri apalagi dibelanjakan sia-sia dalam perbuatan dosa.

Salah satu penyesalan yang sangat mendalam adalah ketika manusia itu tidak pernah berbagi hartanya kepada orang lain sampai kematian telah menghampiri dirinya, “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. Al-Munafiqun: 10).

Penyesalan itu pun tiada berguna lagi, karena itu selagi kita masih dalam limpahan rezeki karunia dari Allah SWT, berdayagunakan harta itu dengan baik, diperoleh dengan cara yang baik dan dikelola dengan baik pula.

Keempat, dan tentang tubuhnya, dalam hal apa dia manfaatkan. Potensi yang dimiliki manusia ini adalah karunia Allah SWT dan juga sebagai amanah yang dipercayakan Allah SWT kepada manusia.

Pemanfaatan amanah tersebut ditunjukkan dengan kesungguhannya untuk memfungsikan indera dan potensi diri lainnya sesuai dengan ketentuan syariat Allah.

Ketika ia memfungsikan akal, nafs, qalb, mata, telinga, tangan, kaki sesuai dengan perintah-perintah Allah SWT; akal dan nafs untuk berkreativitas dalam menjalankan tugas-tugas kekhalifahannya, mata untuk melihat, mengamati ayat-ayat Allah SWT baik yang qauliyyah (wahyu) ataupun kauniyyah (alam dengan segala isinya).

Sedang telinga untuk mendengarkan “pesan-pesan” Allah dalam makna yang luas, tangan dan kaki untuk beribadah dan bekerja mencari nafkah yang halal, maka sebenarnya seseorang tersebut telah menjalankan amanah yang dititipkan kepadanya.

Sebaliknya, apabila dimanfaatkan untuk kemaksiatan, maka pada hakikatnya ia telah berkhianat pada dirinya sendiri dan tentunya kepada Allah SWT. Dalam surah Yaasin ayat 65 Allah SWT berfirman, yang artinya:

“Pada hari ini, Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada kami tangan mereka, dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang mereka lakukan selama ini.” Menjaga amanah terhadap panca indera tidak saja ditunjukkan dengan memanfaatkannya secara baik dan sesuai dengan ketentuan agama, tetapi juga harus memberikan hak-haknya.

Dalam satu riwayat, pernah dinyatakan bahwa Rasulullah saw menegur sahabat yang selalu saja beribadah sampai malam hari sehingga ia tidak tidur-tidur. Rasul mengatakan, wafi ‘ainika haqqun, dan pada matamu itu ada haknya untuk tidur, hak tangan dan kaki untuk istirahat dan sebagainya.

Adanya pembalasan fisik di Akhirat bagi manusia pelaku dosa di dunia, sebagai bukti pertanggungjawaban hidup di hadapan Allah SWT:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam Neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS.An-Nisa : 56).

Semoga dengan bekal iman, ilmu dan amal sholeh kita mampu mempertanggungjawabkan kehidupan ini di Akhirat nantinya. WASPADA

Guru Besar Fakultas Ushuluddin & Studi Islam UIN SU

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *