Amalan Pemberat Mizan
Oleh Alexander Zulkarnaen

  • Bagikan

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan kebaikannya, Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas” (QS. Al Qariah: 6-11)

Amal yang kita kerjakan di dunia kelak akan ditimbang pada hari penimbangan amal (Yaumul Mizan) dengan menggunakan Mizan (alat penimbangan amal) yang adil dan sangat akurat. Jika berat timbangan kebaikan maka surga bagi kita.

Pertanyaannya, amal apa yang mampu memberatkan timbangan kebaikan kita kelak di Mizan? Sejatinya semua amal kebaikan yang dilandasi ikhlas lillahi ta’ala serta ittiba’ sesuai petunjuk Rasulullah akan mampu mengisi dan memenuhi timbangan yang dimaksud.

Hanya saja secara eksplisit, terdapat amalan khusus pemberat timbangan kebaikan kita kelak sebagaimana yang telah disabdakan Baginda Nabi.

Pertama, ucapkan kalimat tauhid. Selain sebagai kunci surga dan syarat diterimanya semua amal kebaikan, kalimat La ilaha illallah ini juga mampu memberatkan timbangan kebaikan kita kelak.

Abu Said Al Khudri meriwayatkan Hadis Nabi, “Musa berkata, ‘Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu.’ Allah berfirman, “Ucapkan wahai Musa laa ilaha illallah.”

Musa berkata, “Ya Rabb, semua hamba-Mu mengucapkan itu.” Allah berfirman, “Wahai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya selain Aku dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu timbangan dan kalimat laa ilaha illallah diletakkan dalam timbangan yang lain, niscaya kalimat laa ilaha illallah lebih berat timbangannya” (HR. Ibnu Hibban dan Al Hakim).

Kedua, lantunkan zikir Subhanallahi wabihamdih subhanallahil ‘azhim. Tersusun indah hadis Nabi riwayat Abu Hurairah terkait perintah zikir ini.

“Dua kalimat yang ringan di lisan, namun berat dalam Mizan dan dicintai oleh Ar-Rahman, yaitu subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil ‘azhim.” (HR. Bukhari Muslim).

Ketiga, hiasi hidup dengan akhlak mulia. Abu Darda meriwayatkan pesan Nabi, “Tidak ada sesuatu amalan yang jika diletakkan dalam Mizan lebih berat dari akhlak mulia” (HR. Tirmidzi).

Tentu saja akhlak kepada Allah Ta’ala diprioritaskan dengan memastikan segala perintah dikerjakan dan semua larangan ditinggalkan. Akhlak kepada Rasul jangan dilupakan dengan meneladaninya.

Akhlak kepada sesama jangan diabaikan dengan senantiasa menebar kebaikan dan memastikan mereka akan merasa nyaman dan damai ketika bersama kita.

Mari jalani hidup ini dengan memastikan setiap detiknya adalah kebaikan. Mulailah dengan zikir pemberat timbangan sebagai latihan untuk menjadi pribadi yang selalu ingat kepada Dzat Mahamelihat hingga akhlak mulia melekat di semua aktivitas yang bermanfaat. Semoga kelak amal kebaikan kita semua lebih berat. (Guru PAI SMAN 2 Medan, Ketua Deputi Humas Ikadi Sumut, Wakil Ketua Majelis Dakwah PW Al Washliyah Sumut)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *