Al-Quran Sebagai Peringatan

Al-Quran Sebagai Peringatan
Oleh : Islahuddin Panggabean, S.Pd

  • Bagikan

Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh umat (QS Al-An’am: 90)

Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad Saw untuk menyampaikan risalah-Nya kepada seluruh ummat manusia. Perintah-Nya ini dalam beberapa hal berbeda dengan perintah-Nya kepada nabi-nabi yang lain.

Sebab, Allah SWT menurunkan Nabi Muhammad Saw bukan hanya untuk orang-orang Arab, melainkan untuk seluruh manusia, bahkan semua makhluk Allah di alam semesta.

Sebagai seorang rasul, Allah menugaskan Nabi Musa untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada Bani Israil, dan tidak harus mengajarkan kepada kaum lain.

Ringkasnya lain, nabi-nabi selain Nabi Muhammad Saw, hanya bertugas menyampaikan wahyu-Nya kepada umatnya masing-masing.

Adapun Nabi Muhammad diutus oleh Allah sebagai penyelamat bagi seluruh ummat manusia, siapapun mereka. Ia bukanlah milik orang Arab semata, melainkan milik seluruh manusia di dunia.

Nabi Muhammad Saw tidak hanya harus memikirkan nasib kaumnya semata, melainkan harus juga bertanggungjawab untuk membimbing seluruh manusia, di mana saja berada.

Al-Quran sebagai kumpulan risalah yang diterimanya dari Allah ditujukan bukan hanya untuk kaum Quraisy, melainkan juga merupakan sumber petunjuk bagi semua makhluk Allah, baik manusia maupun jin.

Bahwa bahasa Arab dipilih Allah SWT sebagai pengantar al-Quran tidaklah bermakna bahwa al-Quran diturunkan untuk orang Arab semata. Setiap makhluk Allah yang ada di alam semesta, bagaimanapun dan apapun bahasa mereka dapat menjadikan al-Quran sebagai sumber keselamatan.

Inilah al-Quran yang mengandung pelajaran dan peringatan bagi manusia di mana saja dan kapan saja. Demikian dari al-Khazin.

Dalam ayat di atas, disebutkan bahwa al-Quran itu adalah peringatan bagi seluruh alam. Fungsi Quran ini bersanding dengan penyebutan tugas dakwah dan pengajaran Nabi yang tulus kepada umatnya.

Di dalam Tafsir Mafatihul Gaib dikemukakan dua penafsiran terhadap kata zikr pada ayat ini.

Pertama, zikr artinya al-Quran menyampaikan ajaran yang mulia (QS 43: 44 dan 21:10). Kedua, zikr artinya al-Quran menyampaikan penjelasan-penjelasan (QS 54: 22).

Penjelasan yang dimaksud adalah berbagai informasi yang dikandung al-Quran, baik berkaitan dengan keyakinan, kisah, pengetahuan alam maupun ketentuan hukum. Zikr seakar pula dengan kata tazkirah yang artinya peringatan.

Makna peringatan ini dapat pula melengkapi dua pemaknaan yang disampaikan di atas. Ajaran mulia dan penjelasan-penjelasan yang dikandung al-Quran berfungsi sebagai peringatan bagi para pembacanya.

Fungsi al-Quran sebagai peringatan disebut berulang-ulang dalam al-Quran sendiri. Ayat ini sekaligus bantahan terhadap tuduhan orang-orang kafir Quraisy yang menyatakan al-Quran sihir, ucapan manusia, rakayasa Nabi Muhammad Saw atau dongeng orang dahulu. Al-Quran adalah peringatan dari Allah.

Ia juga membantah tuduhan kaum kafir bahwa Nabi Muhammad Saw adalah orang gila karena telah menyampaikan al-Quran. Orang yang menerima wahyu berupa al-Quran tidak layak disifati dengan gila. Al-Quran itu bukan ucapan orang gila, tetapi peringatan bagi manusia.

Al-Quran sebagai zikr setidaknya meliputi, Pertama, peringatan bagi orang yang takut pada Allah. Sebagaimana Firman Allah, “Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu, agar kamu menjadi susah,” “tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)” (QS.20:2-3).

Imam Qatadah mengatakan, ”Tidak demi Allah, Allah tidak menjadikan al-Quran sebagai kesusahan. Tapi ia sebagai rahmat, cahaya dan petunjuk ke surga. Dan orang yang takut pada Allah, akan sadar jika diperingatkan dengan al-Quran. Firman Allah, Maka beri peringatanlah dengan Al Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku” (QS 50: 45).

Kedua, peringatan pada orang yang menempuh jalan Allah. Sebagaimana firman Allah Sesunguhnya ini adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang menghendaki niscaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Tuhannya” (QS.73: 19).

Ketiga, peringatan ke semesta alam/seluruh manusia. Firman Allah, “Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” (QS 25:1). Begitu juga dalam QS. 38:87.

Bagi orang yang takut pada Allah dan menempuh jalan Tuhan, Al-Quran ialah pedoman yang mengingatkan mereka akan rambu-rambu kehidupan sehingga menyampaikan mereka pada jalan lurus.

Bagi yang ingkar, al-Quran memperingatkan mereka akan ancaman-ancaman siksa Allah. Yang berpaling akan dapat azab yang pedih (QS 72: 17), akan disesatkan setan (QS 43:36), memperoleh penghidupan yang sempit dan dihimpun di hari Kiamat dalam keadaan buta (QS 20:124).

Risalah Islam ditujukan untuk seluruh manusia dan alam semesta. Dan Al-Quran adalah kitab yang memuat petunjuk hidup dan peringatan.

Sebagai peringatan ke seluruh semesta, al-Quran bermanfaat bagi orang yang takut pada Allah dan menempuh jalan-Nya. Sesiapa yang berpaling dari peringatan dalam al-Quran akan merasakan kerugian besar. Wallahua’lam. WASPADA

Pengurus Mathla’ul Anwar Sumatera Utara

  • Bagikan