Waspada
Waspada » AL-QUR’AN, MUKJIZAT TERAKHIR
Al-bayan Opini

AL-QUR’AN, MUKJIZAT TERAKHIR

By Hasan Bakti Nasution

 

Setiap Nabi memiliki mukjizat atau sesuatu peristiwa yang di luar kebiasaan (amrun khariqun lil-‘adat). Fungsinya ialah agar dakwah yang disampaikan dapat diterima, karena penyampai dakwah (Nabi dan Rasul) dipandang memiliki keluar biasaan.

Misalnya Nabi Musa AS atas izin Allah bisa merubah tongkat menjadi ular besar, sehingga mampu menelan semua ular penyihir Fir’aun. Dengan kelebihan ini para penyihir kemudian beriman walaupun tangannya dipotong Fir’aun raja zalim, sebagaimana dikisahkan al-Qur’an pada surat Thaha/: 71.

Begitu juga Nabi Isa AS, dengan izin Allah bisa “menghidupkan orang mati”, menyembuhkan yang buta, dan sebagainya. Dengan kemukjizatan itu masyarakat yang disampaikan ajaran seharusnya menerima kerasulannya, karena memiliki kelebihan tersebut.

Tetapi yang terjadi sebaliknya, mereka berusaha membunuhnya, sehingga ia wafat di tiang salib dalam versi Kristen. Tetapi dalam Islam, ia diselamatkan Tuhan dengan mengangkatnya ke sisi-Nya, sebagaimana dikisahkan al-Quran surat an-Nisa’/4: 157-158.

Kemukjizatan juga dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Namun kemukjizatannya tidak dalam bentuk peristiwa, karena tidak bisa diulang kembali, sementara mukjizat tetap perlu dihadirkan dalam kehidupan manusia. Sebab itu, kemukjizatannya harus abadi dalam bentuk tertulis dan bisa dihafal.

Atas dasar alas pikir itulah, kemukjizatan Nabi Muhammad Saw ialah al-Qur’an.
Lalu di mana letak kemukjizatannya, tanya salah seorang mahasiswa dalam kuliah Metode Studi Islam di semester I ?.
Kemukjizatannya paling tidak dalam tiga hal.

Pertama, dari segi bahasa, tidak bisa dicontoh oleh kalangan ahli bahasa dan sastera. Masyarakat Arab pra Islam sangat ahli sastera, namun tidak cukup tangguh menyamai al-Qur’an. Ketidak mampuan itu dikisahkan al-Qur’an pada beberapa surat, seperti surat al-Baqarah/2: 23-24. Tentu setelah dicoba dibuat surat tandingan.

Kedua, dari segi kandungan, al-Qur’an mampu menghadirkan berbagai informasi aktual dan yang belum terpikirkan manusia (supra rasional). Informasi itu baru terungkap kemudian satu persatu sesuai temuan manusia. Ini terbukti dengan banyaknya ahli dalam bidang tertentu masuk Islam setelah melihat temuan terbarunya yang dianggap sebagai masterpiecenya, ternyata al-Qur’an sudah menginformasikannya abad 7 yang lalu.

Sekedar contoh, sebutlah Alexis Color, ahli kebidanan Jerman yang sangat bangga dengan temuannya tentang proses penciptaan manusia. Keahliannya yang diperoleh setelah mengadakan kajian bertahun-tahun, ternyata sudah dikisahkan al-Qur’an 15 abad yang lalu. Terpesona dengan informais al-Qur’an itulah yang menghantarkannya menjadi Muslim.

Kemukjizatan al-Qur’an, menurut saya yang tidak kalah pentingnya ialah, al-Qur’an adalah kitab suci yang bisa dihafal oleh manusia, termasuk yang masih berusia 4 tahun. Begitu hafalnya, ada yang sanggup membaca al-Qur’an terbalik.

Ini tentu terjadi karena kemukjizatan yang dimiliki. Paling tidak, hal ini tidak dimiliki kita suci lain.
Kembali ke judul, itulah mengapa al-Qur’an menjadi mukjizat Nabi Muhammad Sawa sebagai Nabi terakhir, sehingga ia bisa kita saksikan sampai hari ini. Dan insya Allah al-Qur’an tetap dalam keasliannya. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk memutar balikkan ayat perayat, namun sejauh hari ini tetap terpelihara. Di sini para huffaz (penghafal al-Qur’an) menjadi pertahanan terakhir.

Mungkin itulah salah satu faktor tingginya animo masyarakat memasukkan anaknya pada lembaga yang concern pada tahfiz al-Qur’an, seperti Darul Qur’an di pasar I Amplas yang cukup spektakuler. Bayangkan, hanya dalam usia 3 tahun santrinya sudah mencapai 1800-an orang. Itupun dengan kelulusan yang dibatasi.

…26-5-2021…

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2