Waspada
Waspada » Al-Ihsan
Al-bayan Headlines

Al-Ihsan

Oleh Tgk Helmi Abu Bakar el-Langkawi

(Allah) yang memperindah segala sesuatu yang Ia ciptakan… (QS. As-Sajdah: 7)

Salah satu hal yang dianjurkan dalam Islam adalah ihsan. Dalam terminologinya ihsan secara general berarti menyembah Allah seakan melihat Allah, dan yakin dilihat Allah. Adapun secara literal berarti kebaikan. Ada pula makna ihsan yang tak dapat diabaikan, yaitu profesionalitas, etis kerja yang maksimal.

Rasulullah SAW menegaskan konteks profesionalitas dalam makna ihsan. “Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku ihsan atas segala sesuatu. Maka, jika kalian membunuh, bunuhlah dengan cara ihsan dan jika kalian menyembelih, menyembelihlah, maka sembelihlah dengan cara ihsan…” (HR. Al-Bukhari)

Sikap ihsan memiliki dimensi ma’iyyatullah dan berbuat baik karena Allah SAW akan mendorong seorang Muslim senantiasa memasang niat baik untuk segala aktivitas. Maka tiada hasil didapatkannya kecuali kebaikan (ihsan) pula. Ihsan kepada sesama makhluk adalah mendermakan dengan segala jenis kebaikan sesuai hak dan kedudukannya.

Al-Jurjani mengatakan kebaikan adalah adanya sesuatu yang selaras tabiat/perangai, seperti rasa senang, adanya sifat yang sempurna. Seperti ilmu, adanya sesuatu berkaitan hal terpuji, seperti ibadah, dan apapun yang berkaitan dengan hal terpuji baik di dunia maupun pahala di Akhirat.

Rasulullah SAW telah memberikan teladan mulia. Alangkah mulianya bila seorang Muslim menghiasi hidupnya dengan senantiasa berbuat baik kepada sesamanya, kepada binatang, dan kepada alam semesta.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran (QS. An-Nahl: 90).

Dalam penafsiran ayat ini sebagian ulama menyebutkan ihsan adalah keutamaan yang dianjurkan seperti memberikan manfaat kepada manusia dengan harta, badan, ilmu dan lainnya. Hingga berbuat baik pada hewan.

Sayyid Thanthawi mengatakan, objek kata ihsan pada Surat An-Nahl: 90 tidak disebutkan memberikan efek keumuman sasaran dan bentuk dari perbuatan ihsan itu sendiri. Perbuatan ihsan dilaksanakan dalam bentuk perbuatan maupun ucapan kepada manusia, hewan, dan ciptaan lainnya.

Satu kesatuan iman, Islam, dan ihsan akan tampak pada hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang menyebutkan riwayat Jibril yang menjelaskan ihsan selain iman dan Islam kepada Rasulullah. “Ihsan adalah menyembah Allah seolah kau melihat-Nya. Tetapi kalaupun kau tidak melihat-Nya, niscaya Dia tetap mengawasimu.”

Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya (ihsan) (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ahmad, Al-Baihaqi, dan Ad-Darimi). Syekh Al-Munawi menjelaskan tempat penting ihsan sebagai perwujudan keimanan karena agama Islam berdiri di atas pilar ihsan dan kemurahan hati.

Tanpa keduanya, keislaman seseorang tidak akan bernilai baik. Nilai sempurna dan cacat keimanan seseorang bergantung pada kebaikan budi pekertinya. Dengan demikian, orang yang berakhlak buruk adalah orang yang kurang imannya.

Pembeda antara seorang Muslim melakukan perbuatan baik dengan yang lainnya hanya satu yaitu ketakwaannya. Berdasarkan ketakwaan tersebut seseorang akan mendapatkan kemuliaan atau kehinaan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (QS. An-Nahl: 128).

Konsep ihsan dalam tasawuf akan memunculkan dimensi vertikal pandangan hidup seorang Muslim (hablun minallah) juga melahirkan dimensi horizontal pandangan hidup seorang Muslim (hablun minannas). Hablun minallah adalah interaksi seorang hamba kepada Tuhan, yang direfleksikan dalam bentuk keshalehan ritual (batin).

Hablun minannas adalah interaksi seorang hamba kepada hamba lainnya yang direfleksikan dalam bentuk keshalehan sosial (perilaku, perbuatan dan larangan). Jadi, inti konsep ihsan dalam tasawuf selalu berbuat baik dan selalu memperbaiki kepada sesama manusia maupun kepada Tuhan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Mari berusaha merealisasikan ihsan dalam kehidupan sehari-hari. Ihsan dalam konteks tasawuf sama-sama sebagai pembina atau memperbaikin tingkah laku manusia. Ihsan dalam konteks berbuat kebaikan, sedangkan tasawuf dalam konteks keagamaan. Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq.    WASPADA

Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga, Ketua PC Ansor Pidie Jaya, Aceh

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2