Ahlussunnah Wal Jamaah Mazhab Dalam Berakidah

Ahlussunnah Wal Jamaah Mazhab Dalam Berakidah

  • Bagikan

Ahli Sunnah: rukun iman 6: iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari kiamat, qada dan qadar. Syiah: rukun iman 5: At-Tauhid, An-Nubuwwah, Al-Imamah, Al-Adlu, Al-Ma’ad

Ahli sunnah secara kebahasaan diartikan sebagai keluarga sunnah, penganut sunnah. Sedangkan jamaah adalah kelompok besar, mayoritas kaum Muslimin. Secara terminologi ahli sunnah wal jamaah diartikan sebagai kaum Muslimin mayoritas penganut i’tiqad yang dianut oleh Nabi Muhammad SAW dan Sahabat beliau yang dilandasi dengan Alquran dan sunnah-sunnah Rasul SAW.

Pada mulanya kumpulan akidah/keyakinan tersebut masih terpencar-pencar di berbagai ayat di dalam Alquran dan hadis-hadis Nabi SAW, belum terkumpul dan dirumuskan menjadi disiplin ilmu. Atau belum dikemas menjadi suatu aliran atau mazhab aqidah yang dianut oleh mayoritas kaum Muslimin.

Setelah wafat Rasul SAW dan berlalunya khulafaurrasyidin yang empat (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali), umat Islam terjerumus kepada perang saudara yaitu perang Siffin sebagai buntut dari terbunuhnya Usman bin Affan. Disebabkan telah tertanam suatu keyakinan pada sekelompok kaum Muslimin, bahwa khalifah Usman dan khalifah sebelumnya dianggap tidak konstitusional atau illegal.

Karena yang paling berhak menjadi khalifah setelah Nabi Muhammad SAW adalah ahlil bait, yaitu Ali bin Abi Thalib. Padahal sewaktu pengangkatan Abu Bakar menjadi khalifah dilakukan secara aklamasi antara kaum Anshar dan Muhajirin bahkan Ali bin Abi Thalib ra pun ikut membai’at (melantik) Abu Bakar menjadi khalifah.

Pendek kata, tidak ada barisan sakit hati atas kekhalifahan Abu Bakar ra, sampai akhir kekhalifahan Abu Bakar ra pun di saat Beliau mewasiatkan jabatan khlaifah kepada Umar bin Khattab, belum ada tanda-tanda perpecahan karena semuanya dilakukan atas prinsip syura’ (musyawarah). Jika ada sekelompok keturunan Bani Hasyim mengutamakan Ali ra yang berhak menjadi khalifah.

Mereka cukup yakin dan sangat paham tentang prinsip-prinsip musyawarah di dalam Alquran. Ketaatan mereka terhadap keputusan musyawarah tidak diragukan. Kuat dugaan perpecahan di tubuh umat Islam terjadi karena provokasi Abdullah bin Saba’ (seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam).

Perang saudara antara dua kelompok kaum Muslimin, yang dipimpin khalifah Ali bin Thalib ra dan Muawiyah bin Abi Sufyan (Gubernur Syiria) pada tahun 37 Hijriah, melahirkan firqah-firqah (kelompok Islam). Ada yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah disebut dengan Khawarij. Ada pula yang mendukung perjuangan Ali ra, mereka disebut kelompok Syiah, dan lahir pula kelompok lain seperti Mu’tazilah, Murjiah, Qadariah, Murjiah.

Perlu digarisbawahi, perpecahan yang terjadi di tubuh Islam pada mulanya kental dengan politik. Tetapi tidak dapat dipungkiri kelompok (firqah) kecil tersebut dipastikan mereka telah menganut keyakinan tersendiri untuk mendukung keabsahan kelompok mereka. Agar tidak keluar dari koridor Islam. Sehingga setiap kelompok membangun dan merumuskan doktrin mereka yang dikemas dalam bentuk akidah, meskipun telah menyimpang.

Reaksi dari semua itu lahirlah golongan Ahli Sunnah wal Jamaah pada abad ke-3 hijriah yang dipelopori Syekh Abu Hasan Ali Al-Asy’ari dan Syekh Abu Mansur Al-Maturidi, yang berupaya meluruskan kembali penyimpangan akidah yang telah dilakukan kelompok di atas.

Meskipun Ahli Sunnah wal Jamaah lahir setelah aliran di atas, akidah yang dianut oleh aliran ini adalah akidah yang dianut oleh Nabi Muhammad SAW bersama para Sahabat. Karena ahli sunnah jamaah lahir untuk membela dan memurnikan kembali aqidah mayoritas kaum Muslimin.

Perbedaan keyakinan antara Ahli Sunnah wal Jamaah dan firqah-firqah yang terjadi dalam tubuh Islam tidak dapat dikatakan khilafiah furuiyah (pertikaian masalah cabang-cabang) ajaran Islam atau pertikaian fikih. Seperti perbedaan antara mazhab Syafii, Hanafi, Maliki dan Hanbali.

Perbedaan dalam persoalan fikih dapat dimaafkan, sesuai jati diri syariat-syariat tersebut berbeda menurut tempat dan masa. Tetapi persoalan akidah tidak dapat ditolerir, sebab itu Nabi SAW bersabda sebagaimana hadis di awal tulisan.

Di dalam tulisan ini akan dijelaskan perbedaan antara akidah Ahli Sunnah wal Jamaah dengan akidah Syiah, yang dikutip dari berbagai sumber kitab-kitab Syiah:

  1. Ahli Sunnah:meyakini rukun Islam 5 yaitu syahadatain, shalat, puasa, zakat, haji. Sedangkan Syiah:rukun Islamnya juga 5 tapi berbeda yaitu shalat, puasa, zakat, haji, wilayah (kesetiaan/kekuasaan).
  1. Ahli Sunnah:rukun iman 6: iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari kiamat, qada dan qadar. Syiah:rukun iman 5: At-Tauhid, An-Nubuwwah, Al-Imamah, Al-Adlu, Al-Ma’ad.
  1. Ahli Sunnah:meyakini Dua kalimat syahadat, sedangkan Syiah meyakini Tiga kalimat syahadat.
  1. Ahli Sunnah:Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman, sedangkan Syiah: Percaya kepada 12 imam-imam mereka termasuk rukun iman.
  1. Ahli Sunnah:Khulafaurrasyidin yang diakui (sah): Abu Bakar ra, Umar ra, Usman ra dan Ali ra. Sedangkan Syiah:Abu Bakar, Umar dan Usman merampok kekuasaan dari Ali bin Abi Thalib.
  1. Ahli Sunnah:Khalifah (imam) manusia biasa, sedangkan Syiah: Khalifah (imam) manusia suci (ma’sum).
  1. Ahli Sunnah:Dilarang mencaci-maki para sahabat Nabi SAW, sedangkan Syiah: membolehkan mencaci-maki para sahabat Nabi SAW kecuali Ali bin Abi Thalib ra
  2. Ahli Sunnah:Menghormati Aisyah ra (istri Nabi SAW), sedangkan Syiah:Mencaci-maki, memfitnah bahkan mengkafirkan Aisyah ra.
  3. Ahli Sunnah:Kitab-kitab hadis sebagai rujukan adalah Kutubussitah (Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmuzi, Ibnu Majah dan An-Nasai), sedangkan Syiah:Kitab-kitabnya ada 4 (Al-Kaafi, Al-Istibshar, Man Laa Yah Dhuruhu Al-Faqih dan Att- Tahziib)
  1. Ahli Sunnah:Alquran tetap orisinil, sedangkan Syiah:Alquran tidak orisinil.
  1. Ahli Sunnah:Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul, dan neraka bagi orang-orang yang tidak taat, sedangkan Syiah:Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali walaupun tidak taat kepada Rasulullah, dan neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun taat kepada Rasulullah.
  1. Ahli Sunnah:Mengucapkan “amin” di akhir surat Al-Fatihah sunnah, sedangkan Syiah: Mengucapkan “amin” di akhir surat Al-Fatihah dianggap tidak sah/batal shalatnya.
  1. Ahli Sunnah:Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan yang uzur syar’i, sedangkan Syiah:Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.
  1. Ahli Sunnah:Shalat Dhuha disunnahkan, sedangkan Syiah:Shalat Dhuha tidak dibenarkan.

Dengan demikian perbedaan antara syiah dan sunni merupakan hal hal yang sangat prinsip yang sulit untuk dipertemukan, dapatkah mereka dikatakan sebagai saudara ahlissunnah seakidah dan seagama? Atau seagama berbeda aqidah atau ber beda akidah dan agama? Wallahua’lamu bisshashawab.  WASPADA

Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Alquran Al Mukhlishin Batubara

  • Bagikan