4 Tipologi Jahiliyah
Oleh H.Muhammad Nasir, Lc, MA

  • Bagikan

Apakah hukum (cara) jahiliyah yang kamu inginkan? Padahal siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang orang yang meyakini agamanya (QS. al-Maidah: 50).

Secara harfiah jahiliyah berasal dari kata jahil berarti ‘bodoh’ zaman jahiliyah berarti zaman ’kebodohan’. Istilah yang popular, jahiliyah berarti zaman penyembahan berhala (wasaniyah) di semananjung Arabia sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Beberapa alasan menyebut zaman praIslam (sebelum kelahiran nabi muhammad SAW) sebagai zaman jahiliyah. Pertama, alasan nash/teks al-Qur’an berulangkali menyebut kata jahiliyah, antara lain surah Ali Imran: 154:

“Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia Menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata, adakah sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini? Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Allah. Mereka menyembunyikan dalam hatinya apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata, Sekiranya ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini. Katakanlah (Muhammad), Meskipun kamu ada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh. Allah (Berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada di dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Mahamengetahui isi hati. ”

Ayat di atas diawali menceritakan kondisi Sahabat Nabi SAW dalam perang Uhud, di antara mereka ada yang mementingkan diri sendiri sehingga menduga kepada Allah dugaan yang tidak benar yaitu mereka melihat kerugian yang menimpa mereka menimbulkan penyesalan. Banyak hal yang lalu mereka ingat Kembali. Ada yang merasa sekiranya tempo hari mereka patuhi saja pendapat Rasul bertahan di dalam kota tentu tidak akan sampai sebanyak itu yang tewas.

Perkataan mereka: ”Kalau ada pikiran kita dalam hal ini tentu tidak akan kita terbunuh di sini”. Tampaklah keluhan karena kelemahan hati sehingga yang dikatakan di pangkal ayat tadi disebut sangkaan jahiliyah (Tafsir Al-Azhar jilid 2 halaman 958 Buya Hamka).

Ayat tersebut meskipun diturunkan kepada Sahabat Nabi SAW yang diyakini telah keluar dari kejahiliyahan namun kemungkinan masih tersisa cara berpikir jahiliyah yaitu mementingkan diri sendiri dan menyesali atau menyebut-nyebut keputusan yang sudah diambil bersama yaitu harus keluar dari kota Madinah menyongsong kedatangan musuh.

Dalam konteks keindonesiaan, cara berpikir jahiliyah jadi fenomenal. Berpikir mementingkan diri sendiri, menginjak orang lain seperti politik belah bamboo, mengabaikan kesetiaan kepada pemimpin yang berpikir benar dan lurus. Sebaliknya membela mati-matian pemimpinnya yang berpikir kotor dan individualistik dan mementingkan kelompok sendiri, partai, dengan cara tidak benar. Dan selalu menyesali dan mengungkit keputusan bersama masa lalu.

Kedua, al-Qur’an menyebut hukum pada praIslam adalah hukum jahiliyah yaitu yang ditegakkan bukan atas prinsip keadilan tapi atas dasar kekuatan. Hukum ketika itu tidak menganut prinsip perlindungan yang kuat atas yang lemah. Malah yang kuat dari sisi apa saja memakan yang lemah. Maka kerap terjadi perang suku, tawuran antarkelompok, disebabkan tidak ada standar kebenaran yang harus dipedomani, akhirnya hukum rimbalah yang berlaku.

Allah SWT berfirman: “Apakah hukum (cara) jahiliyah yang kamu inginkan? Padahal siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang orang yang meyakini agamanya” (QS. al-Maidah: 50).

Menurut riwayat dari Ibnu Abbas, sekelompok Yahudi datang kepada Nabi Muhammmad SAW, menawarkan suatu persyaratan untuk masuk Islam, yaitu memberlakukan hukum yang pernah berlaku terhadap orang Yahudi yaitu keberpihakan kepada orang terhormat dan tidak membela kepentingan orang lemah. Persis seperti seperti kaum jahiliyah, maka Allah menurunkan ayat di atas membantah tawaran mereka.

Dalam metodologi hukum Islam (ushul fikih) dirumuskan sebab turun ayat tidak menjadi pertimbangan menetapkan suatu hukum, tetapi yang dipandang keumuman teks ayat/Al’ibrotu bi umumillafzi la bi khususissababi. Maksudnya meskipun ayat di atas secara historis membantah keinginan orang yahudi mengadopsi hukum jahiliyah ke dalam hukum Islam.

Tetapi yang ditekankan melarang siapa saja, bangsa mana saja, yang telah menyatakan dirinya Muslim tidak dibenarkan mengadopsi hukum jahiliyah ke dalam sistim hukum Islam, karena tujuan Islam datang adalah untuk meyelamatkan manusia dari kejahilan.

Ketiga, Al Qur’an menyebut pakaian perempuan yang menampakkan auratnya dan memamerkankan kecantikannya di hadapan laki-laki mahram adalah tabarujjul jahiliyah. Karena perempuan jahiliyah berhias supaya nampak cantik menarik di pandang laki-laki, supaya kelihatan montok dan bermaksud menggoda kaum laki-laki (tafsir Buya-hamka juz. 8 – hal 5710).

Al-Qur’an melarang istri Nabi Muhammad SAW keluar rumah terkecuali hal penting dan dianjurkan lebih banyak di rumah. Allah SWT berfirman: “Hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias seperti orang jahiliyah dahulu” (QS. al-Ahzab: 33).

Keempat, Allah SWT berfirman: “Ketika orang-orang kafir menanamkan kesombongan di dalam hati mereka, kesombongan jahiliyah Allah SWT menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang orang Mukmin dan mewajibkan kepada mereka tetap taat menjalankan kalimat takwa (tauhid)” (QS. al-Fatah: 26).

Ayat di atas menerangkan kesombongan jahiliyah (hamiyyatul jahiliyah) yaitu merasa benar sendiri tidak mau menerima kebenaran dari orang lain dan itu membawa mereka kepada fanatisme.

Mereka tidak mau mengalah dan senantiasa memaksakan kehendak sendiri, ini nampak jelas ketika perjanjian Hudaibiyah dimana mereka tidak rela menggunakan kata Bismillahirrahmanirrahim pada pembukaan piagam kesepakatan Hudaibiyah dan menggantinya dengan Bismikalllahumma.

Demikian juga penandatanganan kesepakatan tersebut mereka memaksakan mengganti nama Muhammad Rasulullah dengan Muhammad bin Abdullah. Ternyata Nabi Muhammmad SAW menerimanya dengan sikap mengalah karena Islam datang untuk menghilangkan fanatisme yang identik dengan keangkuhan dan kesombongan.

Dapat disimpulkan dan sekaligus diditeksi kriteria jahiliyah yang hakiki yang menganut asas ”masa bodoh” terhadap orang lain baik dari cara berpikir, berinteraksi, sesama manusia, berhukum, berbudaya. Sampai pada fanatisme dan beragama dengan menganalogikan perilaku manusia.

Nampaknya sisa-sisa jahiliyah praIslam eksis di masyarakat moderen, bahkan jahiliyah yang tersisa sekarang lebih tersistem. Jahiliyah praIslam dilegitimasi oleh manusia pada zamannya sedangkan jahiliyah sekarang membungkus kejahiliyaan mereka dengan simbol keadilan. Wallahu a’lamu bishsawab.(Wakil Ketua Dewan Fatwa Alwashliyahir)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *