Warga Abdya Minta Saluran Jalan Nasional Dibongkar

- Aceh
  • Bagikan

BLANGPIDIE (Waspada): Selama belasan tahun terakhir, ratusan pemukiman penduduk dalam sejumlah desa, dalam Kemukhiman Kuta Tinggi, Kecamatan Blangpidie, Aceh Barat Daya (Abdya), sering dilanda banjir luapan.

Dimana, banjir luapan tersebut, juga merembes dan mengenangi jalan nasional Blangpidie-Tapak Tuan, kawasan Desa Geulumpang Payong, Kecamatan Blangpidie. akibatnya, selain merendam ratusan pemukiman penduduk, genangan banjir luapan yang menggenangi jalan raya, juga mengakibatkan jalanan macet, hingga genangan banjir surut. Andaipun pengendara memaksa untuk melintas, harus ekstra hati-hati.

Penelusuran Waspada Sabtu (7/5) diketahui, penyebab utama sering terjadinya banjir luapan yang diderita ribuan jiwa dalam Kemukhiman Kuta Tinggi itu, dikarenakan saluran badan jalan yang berada di pinggir jalan nasional tersebut, hanya difasilitasi 2 unit lubang gorong-gorong kecil, yang ditanam dibawah jalan nasional, sebagai sarana aliran air dari hulu ke hilir. Sementara salurannya berdiameter besar, sekitar ketinggian dan lebar 1,5 meter x 1,5 meter.

Akibatnya, saat musim hujan melanda Abdya dan sekitarnya, saluran yang merupakan jaringan irigasi Krung Susoh sayap kiri dimaksud, sangat mudah meluap dan merendam ratusan pemukiman penduduk di wilayah Kuta Tinggi, diantaranya dalam Desa Geulumpang Payong, Desa Kuta Tinggi, Desa Mata Ie dan Babah Lhueng. “Yang lebih parahnya, saat sungai Krueng Susoh meluap, banjirnya menyisakan lumpur dan kayu-kayu besar, yang terbawa arus,” ungkap Miswar, salah seorang warga Desa Geulumpang Payong.

Mursyidi, warga lainnya mengatakan, untuk mengatasi permasalahan yang sering dirasakan warga Kemukhiman Kuta Tinggi secara keseluruhan, aparatur dalam sejumlah desa itu, sudah sering membuat laporan kepada Pemkab Abdya, dengan meminta agar segera menanggulangi masalah tersebut, diantaranya dengan cara membongkar dan mengganti gorong-gorong kecil itu, dengan saluran yang lebih besar, seperti box culvert atau sejenisnya. “Namun, laporna kami tidak mendapat sambutan, atau lebih tepatnya tidak ada solusi dari Pemkab Abdya, dengan alas an, gorong-gorong dibawah jalan nasional itu, wewenang pemerintah Pemerintah Pusat, Pemkab Abdya tidak berwenang,” sebutnya.

Ditambahkan, musibah banjir luapan akibat terhambatnya aliran air di saluran itu, sudah sangat menyusahkan dan merugikan masyarakat sekitar. Berbagai upaya darurat sering dilakukan masyarakat sekitar, dalam menanggulangi. Seperti, bergotong royong membersihkan saluran air, dengan harapan banjir luapan itu bisa diminimalisir.

Sayangnya, upaya yang dilakukan masyarakat setempat, belum juga membuahkan hasil dan harus tetap bersabar, dengan hadirnya banjir luapan setiap debit air meningkat. “Kami berharap, Pemerintah segera melakukan upaya khusus pelebaran saluran air, agar desa kami, juga rumah kami, bebas dari banjir luapan,” harapnya.

Hal senada juga diutarakan Julinardi, salah seorang anggota DPRK Abdya dari Partai Hanura. Putra asli kelahiran Desa Kuta Tinggi ini mengatakan, jika saluran dimaksud tidak lancar, dipastikan akan menghambat aliran air ke arah hilir. Hambatan aliran air pada gorong-gorong yang menjadi pemicu utama terjadinya banjir luapan, sudah sangat lama dirasakan oleh warga sekitar.

Julinardi juga menyebutkan, jalan tersebut merupakan kewenangan pemerintah pusat. Karenanya, pihaknya meminta instansi terkait, untuk melakukan upaya pembongkaran saluran gorong-gorong yang sudah sempit, digantikan dengan box culvert atau sejenisnya yang lebih besar. Sehingga aliran air menjadi lancar dan masyarakat tidak resah dengan banjir luapan langganan itu.

Laporan masyarakat terkait banjir luapan, yang disebabkan sempitnya saluran air itu katanya, sudah berulang kali disampaikan. Namun sejauh ini, belum ada respon maupun upaya khusus dari pihak pemerintah. Padahal, masyarakat sangat dirugikan dengan kondisi banjir luapan yang sangat sering merendam rumah mereka dan merusak banyak fasilitas. “Kami berharap sangat, keluhan masyarakat ini dapat ditampung dan direaliasasi oleh pemerintah. Apalagi persoalan banjir luapan ini bukan kali pertama terjadi, namun telah menjadi langganan tetap bagi masyarakat sekitar,” pungkas Julinardi.(b21)

Teks foto: Kondisi saluran air yang terlalu sempit, penyebab seringnya terjadi banjir luapan yang merendam jalan nasional dan pemukiman penduduk, di kawasan Desa Geulumpang Payong Kecamatan Blangpidie, Abdya. Foto direkam Sabtu (6/5). Waspada/Syafrizal

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *