Wabup Pidie: Stunting Masuk Katagori Gizi Buruk

Wabup Pidie: Stunting Masuk Katagori Gizi Buruk

  • Bagikan
WABUP Pidie Fadhlullah TM Daud, ST ketika membuka acara Rembuk Stunting di Klinik DH Sigli, Rabu (4/8). Waspada/Muhammad Riza
WABUP Pidie Fadhlullah TM Daud, ST ketika membuka acara Rembuk Stunting di Klinik DH Sigli, Rabu (4/8). Waspada/Muhammad Riza

SIGLI (Waspada): Stunting termasuk katagori kasus kurang gizi yang menyebabkan gangguan pertumbuhan pada anak. Yakni, tinggi badan lebih pendek atau kerdil jika dibandingkan dengan standar anak usianya.

“Kalau bahasa lamanya, stunting termasuk dalam kategori persoalan gizi buruk. Bagaimana seorang ibu hamil ketika asupan gizinya kurang, itu berdampak pada janin yang dikandungnya,” kata Wakil Bupati (Wabup) Pidie Fadhlullah TM Daud, ST, saat membuka acara Rembuk Stunting di Aula Klinik Darul Husada (DH), Kota Sigli, Rabu (4/8).

Menurut Fadhlullah, persoalan stunting bukan hanya menimpa pada postur badan anak saja, melainkan bisa juga menyerang sistem metabolisme dan perkembangan otak anak. “Stunting itu bukan persoalan tinggi atau kependekan, sesungguhnya bukan hanya itu, melainkan juga persoalan kekerdilan. Kekerdilan, itu bisa fisik, bisa juga jejaring otak yang kerdil,” kata Wabup Pidie.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pidie dr Arika Husnayanti Aboebakar, SpOG (K) yang diundang sebagai pembicara dalam kegiatan Rembuk Stunting menjelaskan stunting adalah sebuah kondisi di mana tinggi badan seseorang lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain pada umunya.

Penyebabnya kata dia, terjadi akibat kurangnya asupan gizi yang diterima saat orang tersebut berada dalam dalam kandungan. Dia menjelaskan, kalau stunting itu terjadi sejak dalam kandungan dan akan terlihat ketika anak tersebut berusia dua tahun.

“Saat ini sekira 8 juta atau lebih satu dari tiga anak Indonesia mengalami stunting atau pertumbuhannya tidak maksimal,” terang dr Ika, sapaan akrab dr Arika Husnayanti Aboebakar, SpOG (K).

Pun begitu ujar dr Ika, stunting masih bisa dicegah dengan beberapa cara, diantaranya dengan melakukan pemberian ASI dan MPASI, akses air bersih dan fasilitas sanitasi yang baik, pemenuhan kebutuhan gizi bagi ibu hamil, dan memantau pertumbuhan Balita di Posyandu.

“Begitupun pencegahan dapat dilakukan 1000 hari pertama kehidupan (HPK) dan penanganan stimulasi pengasuhan dan pendidikan berkelanjutan,” demikian dr Ika.(b06)

 

  • Bagikan