UNHCR Jelaskan Tentang Penanganan Pengungsi Luar Negeri

UNHCR Jelaskan Tentang Penanganan Pengungsi Luar Negeri

- Aceh
  • Bagikan
Panglima Laot Aceh Utara Hamdani Yakob didampingi Faisal Rahman dan Nurul Lubis dari UNHCR, menjelaskan tentang hukum adat laut dan penyediaan pertolongan di laut, Jumat (15/10). Waspada/Zainal Abidin
Panglima Laot Aceh Utara Hamdani Yakob didampingi Faisal Rahman dan Nurul Lubis dari UNHCR, menjelaskan tentang hukum adat laut dan penyediaan pertolongan di laut, Jumat (15/10). Waspada/Zainal Abidin

LHOKSEUMAWE (Waspada): UNHCR menyampaikan pemahaman tentang pengungsi dari luar negeri kepada para Panglim Laot (pemangku humum adat laut) di kawasan pesisir Selat Malaka. Intensitas kedatangan pengungsi di kawasan ini dinilai tinggi dalam tiga tahun terakhir.

Kegiatan sosialisasi penanganan pengungsi diadakan Yayasan Kemanusian Madani Indonesia (YKMI), sebagai mitra The United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), Jumat (15/10).

Ketua YKMI-Kantor Lhokseumawe Faisal Rahman menjelaskan, sosialisasi disampikan kepada Panglima Laot Aceh Taming, Langsa, Aceh Timur, Bireuen, Lhokseumawe dan Aceh Utara. Kegiatan itu juga diikuti perwakilan dari BPBD, SAR dan beberapa unsur terkait lainnya.

Menurut Faisal Rahman, dalam tiga tahun terakhir tingkat kedatangan pengungsi di kawasan ini kian tinggi. Pengungsi datang melalui perairan Selat Malaka, sehingga para nelayan sangat berperan dalan penangan pengungsi selama ini. “Karena Panglima Laot dan masyarakat pesisir adalah pihak pertama yang berhubungan dengan pengungsi-pengungsi yang bergerak dari laut,” jelas Faisal usai kegiatan di Lhokseumawe. Sosialisai pengungsi luar negeri, hasil kejasama YKMI, UNHCR dan The European Union.

Dalam kesempatan itu Nurul Lubis dari UNHCR menjelaskan tentang pengungsi. Dia mendefinisikan pengungsi, sebagai orang yang berada di luar negara kebangsaannya. Mereka mengalami ketakutan yang beralasan akan penganiayaan, yang disebabkan oleh alasan ras, agama, kebangsaan, keanggotaan dalam kelompok sosial dan partai politik tertentu.

Nurul juga membedakan antara pengungsi dengan pencari suaka. Seorang pencari suaka adalah seseorang yang menyebut dirinya sebagai pengungsi, namun permintaan mereka akan perlindungan belum selesai dipertimbangkan.
Selain tentang pengungsi, para panglima laot juga mendapat pemahaman tentang Pepres Nomor 125 Tahun 2016, penanganan pengangan pengungsi dari luar negeri. Materi tentang peraturan tersebut disampaikan pakar hukum dari akademisi Unimal Lhokseumawe.

Selain itu, Panglima Laot juga mendapat penjelaskan tentang human trafficing. Sedangkan Panglima Laot Aceh Utara Hamdani Yakob, menjelaskan tentang hukum adat laut dan penyediaan pertolongan di laut.

Sementara pemateri dari Kantor Imigrasi Kelas II TPI Lhokseumawe Rifki Mulya, SH, menjelaskan tentang peran dan fungsi imigrasi dalam penangan pengungsi. “Imigrasi melakukan penanganan pada kesempatan pertama,” jelas Rifki, Analisis Keimigrasian Seksi Tikki Kantor Imigrasi Kelas II TPI Lhokseumawe.

Penanganan Imigrasi meliputi, pengamanan dan pendataan. Selain itu, Imigrasi juga menghubungi perwakilin orang asing bersangkutan, melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk fasilitas penampungan sementara. Melakukan koordinasi dengan UNHCR untuk penentuan statusnya. (b08)


  • Bagikan