Tim PKM Unsam Terapkan Sistem Kualitas Air Berbasis IoT Bagi Benih Ikan Lele

Tim PKM Unsam Terapkan Sistem Kualitas Air Berbasis IoT Bagi Benih Ikan Lele

  • Bagikan
Tim PKM Fakultas Teknik Universitas Samudra saat melakukan kegiatan penerapan rancang bangun sistem kualitas air berbasis IoT untuk meningkatkan produksi benih ikan lele di Gampong Seriget, Kecamatan Langsa Barat, Jumat (15/10).Waspada/dede
Tim PKM Fakultas Teknik Universitas Samudra saat melakukan kegiatan penerapan rancang bangun sistem kualitas air berbasis IoT untuk meningkatkan produksi benih ikan lele di Gampong Seriget, Kecamatan Langsa Barat, Jumat (15/10).Waspada/dede

LANGSA (Waspada): Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Teknik Universitas Samudra (Unsam) menyelenggarakan kegiatan penerapan rancang bangun sistem kualitas air berbasis IoT untuk meningkatkan produksi benih ikan lele di Gampong Seriget, Kecamatan Langsa Barat, Jumat (15/10).

Ketua Tim PKM Universitas Samudra, Rachmad Almi Putra, S.Pd.,M.Sc didampingi anggota Ida Ratna Nila, S.Pd, M.Si dan Salman, S.E, M.Si mengatakan, budidaya perairan ikan lele (Clarias sp.) saat ini sangat diminati oleh masyarakat baik dalam skala besar maupun skala kecil rumah tangga, khususnya di kalangan masyarakat Kota Langsa yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup.

Lanjutnya, ikan lele merupakan salah satu spesies ikan air tawar yang memiliki nilai protein yang tinggi serta harganya yang ekonomis. Karena komoditas perikanan ikan lele yang terus bertambah setiap tahunnya, sehingga dibutuhkan suatu inovasi sistem budidaya terbarukan agar performa produksi budidaya terus meningkat.

Selain itu, dalam budidaya ikan lele tersebut membutuhkan suatu manajemen pengelolaan yang baik untuk menghindari dari dampak pencemaran lingkungan yang menyebabkan turunnya kualitas air.

“Kualitas air merupakan salah satu faktor penting dalam mencapai keberhasilan budidaya perairan ikan lele, dilihat dari tingkat keasaman (pH) dan suhu air perairan tersebut,” ungkapnya.

Sedangkan untuk parameter tingkat keasaaman (pH) budidaya ikan lele yaitu 6.5-8.5, kurang dari 5 sangat tidak baik untuk lele, karena bisa menyebabkan penggumpalan lendir pada insang, sedangkan pH 8 ke atas akan menyebabkan berkurangnya nafsu makan ikan lele.

Untuk suhu air optimum pada budidaya ikan lele berkisar dari 20°C-30°C. Kondisi lingkungan tidak optimal akan mengakibatkan probabilitas hidup ikan lele menurun.

Oleh karena itu, hal ini merupakaan salah satu manfaat terhadap pertumbuhan dan daya tahan ikan budidaya. Untuk itu, diharuskan para pembudidaya agar setiap saat melakukan pengamatan berkala terhadap kondisi air kolam budidaya untuk kemudian diberikan perlakuan tertentu agar kondisi air tetap sesuai dengan prasyarat tumbuh kembang ikan lele yang dibudidayakan.

Namun, permasalahan yang dihadapi sekarang, pengukuran keasaman (pH) dan pengukur suhu yang dilakukan oleh pembudidaya Gampoeng Seuriget masih secara tradisional, sehingga membutuhkan waktu yang sangat lama dan memerlukan tenaga pembudidaya secara periodik pada kolam budidaya.

Hal ini menyebabkan tidak efektif dan efisien apalagi jika ukuran kolam yang terlalu luas dan keadaan air yang dapat berubah dalam waktu yang relatif cepat, maka dari itu dibutuhkan suatu sistem kontrol yang dapat memonitoring secara akurat dan real-time.

Alasan lain dari solusi yang ditawarkan agar dapat meminimalisirkan pekerjaan pembudidaya dalam melakukan pengamatan.

“Untuk mengantisipasi itu, tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Teknik Universitas Samudra melakukan penerapan rancang bangun sistem kualitas air berbasis IoT untuk meningkatkan produksi benih ikan lele,” tandasnya. (b13)


  • Bagikan