Tim Gugus Tugas Multipihak Kemitraan Konservasi Diminta Jangan Tertutup

- Aceh
  • Bagikan

      KUTACANE (Waspada): Berbagai elemen masyarakat di Aceh Tenggara mengkritik dan menyoroti tajam langkah serta kiprah tim Gugus Tugas Multipihak Konservasi Leuser yang dituding tertutup dan kurang transparan.

Kritikan tajam tersebut datang dari Mursal Gayo, salah seorang pemerhati lingkungan, saat menghadiri acara pertemuan Gugus Tugas Multipihak Kemitraan Konservasi yang digelar di Oproom Setdakab Aceh Tenggara, Rabu (1/12) yang dihadiri Plt. Kepala BBTNGL Adi Nurul Hadi, Sekdakab Mhd.Ridwan, Kepala Bappeda, Yusrizal dan pencinta lingkungan lainnya.

“SK Multi Tugas Multipihak Kemitraan Multipihak Kemitraan Konservasi Pemberdayaan Masyarakat dan pemulihan Ekosistem TNGL telah lama kami terima, namun anehnya sampai saat ini, kami sama sekali tak mengetahui apa yang telah dan akan dikerjakan tim gugus tugas,” ungkap Mursal.

Padahal yang masuk dalam SK tim Gugus Tugas itu, tambah Mursal, hampir sebagian besar OPD yang ada di Aceh Tenggara, mulai dari Dinas Pariwisata, Bappeda, Dinas Pertanian, Perikanan, PUPR, Perkimtan, Camat dan beberapa OPD lainnya, ditambah NGO pegiat lingkungan hidup yang ada di Aceh Tenggara.

“Bahkan kesannya, SK yang telah diterima hanya masuk kantong saja karena tak ada tindak lanjutnya bagi tim Gugus Tugas secara keseluruhan, program pun kesannya tertutup dan tak transparan, padahal masyarakat perlu tahu apa program dan tugas tim, apalagi bagi masyarakat yang berdomisili atau berdampingan dengan hutan TNGL, bahkan yang lebih miris lagi, sekretariat Tim Gugus pun banyak tak diketahui personil yang ada dalam SK,” ujar Mursal yang mengaku telah terlibat di TNGL sejak tahun 1980 lalu.

Terpisah, Pegiat Lingkungan Hidup, Yashut mengatakan, menyejahterakan masyarakat merupakan tugas utama dari tim gugus tugas, karena bila masyarakat di pinggiran hutan TNGL sejahtera, otomatis hutan akan terjaga, karena itu, kelompok tani hutan juga harus dibimbing, dibina dan disejahterakan agar mereka sendiri yang langsung bergerak jika hutan dirusak oleh orang yang tak bertanggung jawab.

Sementara Kadis Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga, Julkifli meminta pihak TNGL agar mengusulkan pemanfaatan jalan pariwisata bagi wilayah objek wisata yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

Sebelumnya, Plt. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Adi Nurul Hadi yang juga Kabid Teknis menyampaikan, dari 18 ribu luas areal yang belum tersentuh dan akan dihijaukan dengan tanaman bermanfaat yang berakar tunggal, baru 2.000 hektar yang telah tersentuh melalui 26 Kelompok Tani Hutan Konservasi (KTHK).

      Selain itu, BP DAS juga telah memberikan bantuan 5.000 batang bibit durian unggul bagi KTHK dari 7.500 batang yang akan diterima kelompok tani, bantuan tersebut harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, karena hanya 14 persen luas areal Aceh Tenggara yang bisa digunakan melalui Area Penggunaan Lain, sedangkan sisanya merupakan hutan lindung dan hutan TNGL.(b16)

Plt.Kepala BBTNGL, Pemkab melalui Sekdakab Mhd. Ridwan dan sejumlah OPD ,sedang membahas program Tim Gugus Tugas Multipihak Konservasi Leuser di Oproom Pemkab Aceh Tenggara. Waspada/Ist

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *