Waspada
Waspada » Terjebak di Wu Han Yang Lumpuh, 12 Warga Aceh Terancam Kelaparan
Aceh

Terjebak di Wu Han Yang Lumpuh, 12 Warga Aceh Terancam Kelaparan

LHOKSEUMAWE (Waspada ): Dampak buruk munculnya virus Corona membuat Kota Wu Han Negara China lumpuh bagai kota mati serta 12 warga Aceh masih terisolasi dan terancam kelaparan dengan menipisnya stok makanan dan minuman.

Terhitung sebanyak 10 mahasiswa Aceh dan dua warga Aceh yang sedang berwisata di China kini masih terjebak bersama dalam apartemen di Kota Wu Han.
Hal itu diungkapkan Fadil mahasiswa Gampong Baru Kecamatan Lhoksukon Kab. Aceh Utara kepada Waspada via telepon selulernya terkait situasi perkembangan 12 warga Aceh yang terisolasi di Kota Wu Han dengan suasana mencengkam.
Dikatakannya, semula jumlah mahasiswa Aceh hanya 10 orang yang menuntut ilmu dan meraih gelar S3 di Kota Wu Han. Mengingat suasana darurat virus Corona, kini para mahasiswa sepakat tinggal bersama dalam satu apartemen.
Kemudian secara kebetulan mahasiswa Aceh itu bertemu dengan dua orang wisatawan Aceh Supriadi dan Intan yang terkatung-katung di Kota Wu Han.
Semula Supriadi dan Intan sedang menikmati liburan luar negeri Di Provinsi China di Kota Chang Chun.
Tapi malangnya, keduanya masih dengan semangat melanjutkan perjalanannya ke Kota Wu Han yang sedang dilanda Virus Corona mematikan.
Dimana orang-orang yang terinfeksi dengan Virus Corona tiba-tiba jatuh satu persatu dan tumbang ditempat umum.
Pasca itu, Pemerintah China mengambil tindakan pencegahan dan penyelamatan dengan mengumumkan keadaan darurat bahayanya penularan Virus Corona yang tidak bisa dikendalikan.
Sehingga dalam sekejap saja status Kota Wu Han menjadi terisolasi langsung berubah menjadi kota mati dan seluruh aktivitas masyarakat pun lumpuh total.
Ketika itulah, Supriadi dan Intan ikut terkena imbasnya, karena Pemerintah China melarang orang keluar atau masuk ke Kota Wu Han yang menjadi sumber penularan virus Corona.
Secara otomatis, Supriadi dan Intan ikut terjebak dan terisolasi di Kota Wu Han.
Beruntungnya, dalam kondisi tidak ada arah dan tujuan, keduanya pun merasa bahagia saat secara kebetulan bertemu dengan mahasiswa asal Aceh di Kota Wu Han. Lalu keduanya pun menumpang tinggal bersama di apartemen mahasiswa setempat.
Masing-masingnya Fadil Kab. Aceh Utara, Siti Mawaddah asal Sigli, Alfirian Kab Aceh Utara, Ory Safwar Kota Banda Aceh, Siti Sahara Kab. Aceh Tenggara, Hayatul Kota Lhokseumawe, Maisal Kab. Aceh Besar, Jihadullah Kota Banda Aceh, Ita Kurniawan Nagan Raya, Agus Kota Sabang serta Intan Maghfirah Kota Banda Aceh Dan Supriadi Kota Meulaboh.

Fadil mengaku meski saat ini kondisi mereka masih sehat dan aman, namun dengan lumpuhnya Kota Wu Han akan mempersulit keadaan. Mereka tidak mungkin bisa bertahan hidup lebih lama bila keadaan darurat berkepanjangan.

Ketakutan China terhadap Virus Corona membuat semua pusat perbelanjaan tutup, seluruh alat transportasi umum dan pribadi juga sama sekali tidak beraktivitas.
Bahkan orang-orang memilih mengurung dan berdiam diri dalam rumah serta dilarang mengkonsumsi air kran, kecuali minuman botol yang tidak terkontaminasi Virus Corona.
Fadil menjelaskan karena tidak ada angkutan umum, maka untuk mendapatkan stok makanan mahasiswa Aceh terpaksa berjalan kaki mencari pusat perbelanjaan. Namun hanya ada satu toko Muslim yang masih buka usaha melayani konsumen Kota Wu Han.
Fadil dan warga Aceh lainnya berharap Pemerintah Ri dan Aceh segera turun tangan untuk menjemput mereka pulang ke tanah air.
Karena mereka kini terisolasi di Kota Wu Han dan tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama lagi dalam kondisi sulit memperoleh makanan serta ketakutan dengan penularan Virus Corona.
Sementara itu, ibu Kandung Fadil bernama Risna di Gampong Baru Kec. Lhoksukon Kab. Aceh Utara mengaku merasa sangat cemas dengan nasib anaknya yang masih terjebak di Kota Wu Han.
Pasca kejadian itu, Risna mengakui dirinya telah mendapat info bahwa ada perhatian pemerintah aceh dikirimkan utk anaknya yg terjebak di Kota Wu Han.
Namun bagi Risna uang tidak ada artinya dalam situasi kritis di Kota Wu Han, karena kesulitan sulitnya memperoleh makanan dan minuman.
Risna berharap Pemerintah Indonesia dan Aceh turun tangan untuk melakukan upaya menjemput anaknya dengan berbagai cara.
(b16)

12 Warga Aceh kesulitan memperoleh makanan dan minuman, serta hanya ada satu toko Muslim yang melayani konsumen di Kota Wu Han, Selasa (28/1).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2