Target Prestasi OSN, POSI Latih Puluhan Guru SMP Di Aceh Singkil

Target Prestasi OSN, POSI Latih Puluhan Guru SMP Di Aceh Singkil

  • Bagikan
Kabid GTK Sugiarto bersama 3 narasumber dari POSI saat penutupan pelatihan pembinaan guru, Minggu (17/10) di Subulussalam. Waspada/Ist
Kabid GTK Sugiarto bersama 3 narasumber dari POSI saat penutupan pelatihan pembinaan guru, Minggu (17/10) di Subulussalam. Waspada/Ist

SINGKIL (Waspada): Puluhan guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Aceh Singkil mengikuti pembinaan dan pembengkalan materi untuk menghadapi Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SMP.

Kegiatan yang dilaksanakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil, berlangsung selama 5 hari mulai, 13 sampai 17 Oktober 2021 dilaksanakan di Hermes Hotel Kota Subulussalam.

Kabid Guru dan Tenaga Pendidik (GTK) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Singkil, Sugiarto kepada Waspada.id, Senin (18/10) di Singkil mengatakan, kegiatan tersebut dilaksanakan untuk melatih para guru yang akan membina siswa-siswi untuk bertanding pada OSN tahun 2021.

“Ada sebanyak 40 guru pembina OSN yang mengikuti pembinaan dari POSI. Selanjutnya POSI yang akan memberikan materi dan strategi bagaimana membina siswa dalam menghadapi ajang kompetensi sains nasional mendatang,” sebutnya

Sugik menjelaskan, narasumber seluruhnya diambil dari POSI (Pusat Olimpiade Sains Indonesia). POSI merupakan lembaga swasta yang aktif dibidang pembinaan Olimpiade. POSI merupakan kumpulan dari mantan mantan juara Olimpiade baik nasional maupun internasional.

Dalam pelatihan ini, guru dibekali pengetahuan, bagaimana metode dan strategi dalam membina siswa, serta penguatan materi olimpiade. Materi yang diberikan adalah membahas soal-soal yang sering keluar pada saat Olimpiade. “Sehingga untuk menghasilkan prestasi maupun seorang juara Olimpiade tentu tidak bisa secara instan, butuh proses panjang,” katanya

Mulai dari pemilihan siswa yang memiliki potensi, kemudian dibina oleh guru yang memiliki kompetensi dalam bidang pembinaan siswa, harus sering mengikuti ajang kompetensi siswa yang dilaksanakan oleh lembaga non pemerintah.

“Dan yang tak kalah penting adalah reward yang harus diberikan kepada siswa maupun guru pembina ketika berhasil memperoleh medali,” beber Sugik. (B25)

  • Bagikan