Tafakur Fihi Ma Fihi: Cahaya Kebijaksanaan Abad Ke-13 Dari Kota Balkh – Samarkand

  • Bagikan
Tafakur Fihi Ma Fihi: Cahaya Kebijaksanaan Abad Ke-13 Dari Kota Balkh - Samarkand

Fihi Ma Fihi ( فيه ما فيه ) adalah kitab sastra sufistik religious karya imam Jalaluddin al Rumi. Fihi Ma Fihi (Di Dalamnya Tidak Ada Di Dalamnya). Secara sastra diartikan “ini yang sesungguhnya.” Kitab Fihi Ma Fihi telah diterjemahkan ke dalam bahasa inggris menjadi In It What’s In It. Pada intinya isi dari kitab Fihi Ma Fihi berisi 71 buah ceramah imam Jalaluddin al Rumi tentang hakikat keterciptaan manusia dan hubungannya dengan tuhannya.

Imam Jalaluddin Muhammad al Rumi (جلال الدين محمد رومى ) atau imam Jalaluddin Muhammad Balkhi ( جلال الدين محمد بلخى ) lahir di Balkh – Samarkand pada tanggal 30 September tahun 1207 Miladiah dan wafat di Konya – Turki pada tanggal 17 Desember tahun 1273 Miladiah dalam usia 66 tahun dan dimakamkan di Mevlana Museum di Konya – Turki. Jalaluddin al Rumi terkenal sebagai penyair sufi dari Persia, teolog Maturidi dan seorang ulama. Karya-karya sya’ir sufistik dari imam Jalaluddin al Rumi sangat dikenal dan populer selama tujuh abad di kawasan Iran, Tajik, Turki, Yunani, dan Pasthun, pada orang-orang Islam di Asia Tengah, dan di anak benua India.

Karya-karya imam Jalaluddin al Rumi ditulisnya dalam berbagai bahasa ada Persia, Arab, Turki, Pashtun, Chagatai, Urdu, Bengali, bahkan Yunani. Salah satu kitab puisi terbaik imam Jalaluddin al Rumi adalah Masnawi atau Mathnawi yang disusun di Konya – Turki menggunakan bahasa Persia. Imam Jalaluddin al Rumi memiliki garis nasab sampai ke saidina Abu Bakar al Shiddiq. Ayahnya bernama Bahauddin Walad adalah seorang ulama terkenal di kota Balkh dari garis ibunya imam Jalaluddin al Rumi keturunan kerajaan Khawarzm.

Keluarga besar imam Jalaluddin al Rumi terpaksa meninggalkan Kota Balkh – Samarkhand karena invasi kekuasaan Mongol ke daerah itu. Keluarga besar imam Jalaluddin al Rumi meninggalkan kota Balkh menuju Khurasan dan kemudian ke Suriah sampai ke provinsi Rum di Anatolia Tengah yang merupakan wilayah Turki sekarang. Akhirnya keluarga besar Jalaludin al Rumi menetap di Qonya ibukota provinsi Rum dan di dalam pengembaraan tersebut mereka sempat singgah di Nishapur tempat kelahiran penyair besar Omar Khayyam.

Di kota Nisaphur ini, dalam usia 6 tahun imam Jalaluddin al Rumi diperkenalkan oleh ayahnya kepada ulama sufi besar yang bernama Fariduddin Attar yang kemudian memprediksi dirinya kelak akan menjadi orang yang masyhur yang menyalakan api ghairah spiritualitas. Imam Jalaluddin al Rumi menjadi lebih mendalam daya spiritualitasnya sejak berkenalan dan dibimbing oleh Syamsuddin al Tabrizi, seorang ulama sufi yang masyhur dengan panggilan Syams Tabrizi.

Syams Tabrizi sendiri adalah guru yang membimbing imam Jalaluddin al Rumi untuk meninggalkan segalanya kecuali hal hal yang dapat mendekatkan diri seorang hamba kepada Rabb yang Maha Memelihara alam semesta. Sampai pada suatu hari tiba-tiba Syams Tabrizi pergi meninggalkan imam Jalaluddin al Rumi tanpa kabar dan jejak apapun, sehingga timbul kesedihan di dalam dirinya maka kemudian imam Jalaluddin al Rumi mengungkapkan rasa sedih dan rindu kepada gurunya Syams Tabrizi dengan menulis kitab yang berjudul Diwan Syams Tabrizi yang berisi ghazal ghazal (ungkapan-ungkapan) kerinduan imam Jalaluddin al Rumi kepada gurunya Syams Tabrizi.

Selanjutnya imam Jalaludin al Rumi bertemu dengan gurunya yang lain, yaitu Husamuddin Ghalabi yang menginspirasinya untuk menulis semua pengalaman spiritualitasnya, maka kemudian lahir salah satu karya besarnya yang berjudul Matsnawi-el Ma’nawi. Di antara hal yang sangat menarik di dalam kitab Matsnawi adalah tulisan al Rumi tentang pentingnya kitab suci Al Qur’an diberi penafsiran dalam rangka menjawab realita kehidupan dan tantangan zaman. Puisi-puisi Rumi di dalam kitab Matsnawi el Ma’nawi banyak mengkritisi filsafat yang menurut Rumi arah dan langkahnya cendrung telah melampaui batas dari yang diharapkan, mengkebiri perasaan dan terlalu mengkultuskan rasio.

Melalui puisi puisinya imam Jalaluddin al Rumi menyampaikan pesan, bahwa pemahaman akan dunia hanya mungkin di dapat dengan melibatkan cinta dan rasa di dalam batin, bukan semata- mata lewat aktifitas fisik. Melalui puisi puisinya, imam Jalaluddin al Rumi juga berpesan, bahwa hakekat kehidupan adalah mengabdi dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Adapun kitab Fihi Ma Fihi adalah karya imam Jalaludin al Rumi yang berbentuk Prosa, dimana setiap pasal pasalnya merupakan jawaban dan tanggapan atas berbagai macam pertanyaan dalam konteks dan kesempatan yang berbeda-beda. Pada dasarnya kitab Fihi Ma Fihi berisi kumpulan materi perkuliahan, refleksi, dan komentar serta jawaban yang membahas masalah seputar akhlaq dan ilmu-ilmu irfani yang dilengkapi dengan tafsiran atas Al Qur’an dan Al Hadist.

Sedangkan karya imam Jalaluddin al Rumi yang lain, seperti Ruba’iyyat, Majmu’ah Min al Rasa’il, al Majalis al Sab’ah, dan lain lainnya juga menjadi bahagian penting untuk di baca dan didalami oleh umat Islam, karena di dalamnya tersimpan banyak nasihat nasihat kehidupan yang dapat menyegarkan dahaga spiritualitas batin. Wallahu’alam. WASPADA.id

Penulis adalah Dosen Hadist Ahkam dan Hukum Keluarga Islam di Asia Tenggara Pascasarjana IAIN Langsa


Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.

Tafakur Fihi Ma Fihi: Cahaya Kebijaksanaan Abad Ke-13 Dari Kota Balkh - Samarkand

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *