Anwar al Tanzil Wa Asrar al Ta’wil al Ma’ruf Bitafsiri al Baidhawi ( انوار التنزيل و اسرار التاويل المعروف بتفسير البيضاوي ) adalah kitab tafsir yang bercorak lughawi, fikih, dan ‘ilmi yang ditulis dengan ringkas dengan bahasa yang lugas mudah untuk dimengerti dan dipahami. Kitab tafsir Anwar al Tanzil karya imam al Baidhawi dipandang sangat menarik, karena menjadi kitab tafsir yang paling banyak mendapatkan hasyiyah (catatan tepi) dari para ulama.
Berdasarkan hasil penelitian al Majma’ al Malaki, ditemukan ada 300 kitab hasyiyah (catatan tepi) tentang kitab tafsir Anwar al Tanzil karya imam al Baidhawi. Imam Muhammad Husein al Dzahabi mengatakan bahwa kitab tafsir Anwar al Tanzil karya imam al Baidhawi adalah salah satu kitab induk di antara kitab-kitab tafsir lainnya, sehingga perlu untuk dihargai dan diapresiasi (Lihat imam Muhammad Husein al Dzahabi, al Tafsir Wa al Mufassirun, jilid 1, halaman 303-304).
Kitab tafsir Anwar al Tanzil Wa Asrar al Ta’wil diterbitkan di Beirut oleh penerbit Dar al Ihya’ Li al Turats pada tahun 1418 Hijriah. Kitab tafsir Anwar al Tanzil ini ditahqiq oleh syekh Muhammad Abdurrahman al Mar’asyli ( محمد عبد الرحمن المرعشلي), dan Kitab tafsir Anwar al Tanzil yang telah tahqiq ini terdiri atas 5 jilid. Kitab tafsir Anwar al Tanzil merupakan karya besar atau masterpiecenya imam Nashiruddin Abil Khair Abdullah Bin Umar Bin Muhammad al Syirazi al Syafi’i al Baidhawi yang dikenal dengan sebutan imam al Baidhawi.
Imam al Baidhawi lahir di Baidha’ desa yang terletak di Barat Daya Iran pada tahun 613 Hijriah dan menurut imam al Subkhi dan imam al Nawawi, bahwa imam al Baidhawi wafat di Tabridz – Iran pada tahun 691 Hijriah (1291.M) dalam usia 78 tahun. Imam al Baidhawi memiliki banyak guru di antaranya adalah ayahnya sendiri yaitu al imam Abu al Qasim Umar Bin Muhammad Bin Ali al Baidhawi yang wafat pada tahun 672 Hijriah, dari ayahnya imam al Baidhawi banyak belajar fikih madzhab Syafi’i dengan posisi ayahnya sebagai qadhi atau hakim di kota Syiraz yang terkenal luas wawasan keilmuannya dan ketaqwaannya. Guru imam al Baidhawi yang lainnya adalah syekh Muhammad bin Muhammad al Khata’i al Shufi, syekh Syarafuddin Umar al Busykani al Zaki, dan lain-lainnya.
Adapun murid-murid imam al Baidhawi di antaranya adalah syekh imam Fakhruddin Abu al Makarim Ahmad Bin Hasan al Jarbardi, syekh Jamaluddin Muhammad Bin Abi Bakar Bin Muhammad al Muqri’, syekh Ruhuddin Bin Syekh Jalaluddin al Thayyar, al Qadhi Zainuddin Ali Bin Ruzbiha Bin Muhammad al Khanaji, al Qadhi Ruhuddin Abu al Ma’ali, Tajuddin al Hanaki, dan lain lainnya.
Imam al Baidhawi meninggalkan banyak karya ilmiah, di samping kitab tafsir Anwar al Tanzil ada banyak kitab lainnya seperti kitab Minhaj al Wushul Ila Ilmi Ushul dalam bidang ushul fikih, kitab Thawali al Anwar Fi Ushuliddin dalam bidang ilmu kalam, kitab al Ghayat al Qashwa Fi Dirayat al Fatwa ‘Ala Madzhab al Syafi’iyyah dalam bidang fikih, kitab Syarh al Mahshul Fi Ushul al Fiqh al Razi dalam bidang ilmu ushul fikih, kitab Mirshad al Afwam Ila Mabadi’ al Ahkam Syarh Mukhtashar Ibnu al Hajib dalam bidang ushul fikih, kitab Risalah Fi Maudhu’at al ‘Ulum Wa Ta’rifuha dalam bidan ilmu hadist, dan lain-lainnya.
Ada dua alasan menurut imam al Baidhawi mengapa ia menulis kitab tafsir Anwar al Tanzil. Alasan pertama karena bagi imam al Baidhawi tafsir dianggap sebagai ilmu tertinggi di antara ilmu ilmu agama. Kedua, Menunaikan apa yang diniatkan sejak lama berkaitan dengan menuangkan ilmu dan wawasan yang berkenaan dengan penafsiran Al Qur’an.
Dalam penulisan kirab tafsir Anwar al Tanzil, imam al Baidhawi mendapatkan bimbingan dari gurunya syekh Muhammad al Khata’i, dan gurunya ini juga yang memintanya untuk mundur dari jabatan hakim agung atau qadhi qudhat agar ia bisa fokus menyelesaikan kitab tafsirnya Anwar al Tanzil. Dalam narasi singkat pada tulisan ini, dipandang perlu penulis paparkan contoh penafsiran imam al Baidhawi. Pada jilid 1, halaman, 30 kitab Anwar al Tanzil dijelaskan tentang hidayah, penafsiran tentang hidayah yang terdapat di dalam surat al Fatihah ayat 6 yang berbunyi اهدنا الصراط المستقيم yang artinya tunjuki kami jalan yang lurus.
Oleh Imam al Baidhawi dijelaskan sebagai berikut : و هداية الله تعالى تتنوع انواعا لا يحصيها عد كما قال تعالى و ان تعدوا نعمة الله لا تحصوها ولكنها تنحصر في اجناس متربة الاول افاضة القوى التي بها يتمكن المرء من الاهتداء الى مصالحه كالقوة العقلية و الحواس الباطنة المشاعر الظاهرة الثاني نصب الدلاءل الفارقة بين الحق و الباطل و الصلح و الفساد و اليه اشار حيث قال و هديناه النجدين و قال و اما ثمود فهديناهم فاستحبوا العمى على الهدي اثالث الهداية باءرسال الرسل و انزال الكتب و اياها عنى بقوله و جعلناهم اءمة يهدون بامرنا و قوله ان هذا القران يهدي للتي هي اقوم الرابع ان يكشف على قلوبهم السراءر و يريهم الاشياء كما هي با لوحي او الاءلهام و ابمناماتالصدقة و هذا قسم يختص بنيله الانبياءالاولياء و اياه عنى بقوله اولءك الذين هدى الله فبهداهم اقتده و قوله و الذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا.
Artinya, Hidayah Allah itu bermacam-macam, tidak terhitung jumlahnya. Hal itu sebagaimana yang Allah firmankan di dalam surat Ibrahim ayat 34 yang berbunyi, Jika kamu menghitung hitung nikmat Allah niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.
Hidayah Allah terangkum dalam beberapa jenis berikut ini, Pertama, menguasakan kekuatan yang membantu seseorang untuk mencapai kemashlahatannya, seperti berpikir, rasa dalam batin, berfungsinya panca indra, dan lain lainnya. Kedua, memberikan bukti bukti yang memisahkan antara yang haq dan yang batil, antara kebaikan dengan keburukan dan kerusakan sebagaimana yang Allah Swt firmankan di dalam surat al Balad ayat, 10: Kami telah memberinya dua jalan, dan firman Allah Swt di dalam surat Fushilat, ayat,17, Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih munyukai kebutaan (kesesatan) dari pada petunjuk tersebut.
Ketiga, hidayah dalam bentuk mengutus rasul rasul dan menurunkan kitab sebagaimana yang Allah Swt firmankan di dalam surat al Anbiya’, ayat, 73, Kami telah menjadikan mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberikan petunjuk atas perintah kami. Dan firman Allah Swt di dalam surat al Isra’ ayat, 9, Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus.
Keempat, hidayah itu membukakan hati akan rahasia dan memberi tahu akan sesuatu seperti melalui wahyu (bagi para Rasul), ilham, dan mimpi yang benar, dimana ini hal yang sangat spesifik diperoleh oleh para wali (dan orang-orang shalih), sebagaimana yang Allah Swt firmankan di dalam surat al An’am, ayat, 90, Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka, dan firman Allah Swt di dalam surat al Ankabut ayat, 69, Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan, kami akan benar-benar akan tunjukkan kepada mereka jalan jalan Kami.
Banyak ilmu tentang tafsir Al Qur’an yang tersimpan di dalam kitab tafsir Anwar al Tanzil karya imam al Baidhawi, oleh karenanya terasa ada yang kurang khazanah tafsir yang kita miliki jika tidak menyempatkan diri untuk mendalaminya.
Semoga para pecinta ilmu terus semangat untuk dapat menggali kekayaan ilmu turats warisan masa lalu yang kaya akan khazanah keilmuan. Wallahu’alam. WASPADA.id
Penulis adalah Dosen Hadist Ahkam dan Hukum Keluarga Islam di Asia Tenggara Pascasarjana IAIN Langsa
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.