Kitab al Ikhtiyaar Li Ta’lil al Mukhtaar ( الاختيار لتعليل المختار ) adalah kitab fikih madzhab Hanafi yang sangat populer pada abad ke-6 Hijriah. Kitab al Ikhtiyaar Li Ta’lil al Mukhtaar terdiri atas 5 jilid, dan dita’liq oleh syekh Mahmud Abu Daqiqah seorang ulama besar madzhab Hanafi yang mengajar pada Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar – Kairo. Kitab al Ikhtiyar Li Ta’lil al Mukhtaar diterbitkan di Beirut oleh penerbit Dar al Kutub al ‘Ilmiyyah tahun 2009 Miladiah
Kitab ini buah karya dari syekh al Islam Abdullah Bin Mahmud Bin Maudud Bin Mahmud al Baldijiy al Mausiliy al Hanafiy yang masyhur dengan sebutan imam al Mausiliy al Hanafiy (Lihat Abdul Qadir al Qarsyi, al Jawahir al Mudliyyah Fi Thabaqat al Hanafiyyah, jilid 1, juz 2, 1993, halaman, 349). Imam al Mausility al Hanafiy lahir di kota Mosul – Iraq pada hari Jum’at akhir bulan Syawal tahun 599 Hijriah dan wafat di kota Baghdad – Iraq pada hari Sabtu pagi tanggal 19 Muharram tahun 683 Hijriah dalam usia 84 tahun.
Al Mausiliy pada nama imam Abdullah Bin Mahmud adalah sebutan yang dinisbatkan kepada Kota Mosul tempat dimana dia dilahirkan. Kota Mosul adalah sebuah kota kuno yang sangat besar di bagian Utara Irak. Menurut Yaqut al Harmawiy (W.626.H) di dalam kitab Mu’jam al Buldan, Kota Mosul adalah adalah kota yang sangat terkenal di dalam jajaran kota-kota besar dunia Islam pada masa itu. Pada saat ini Mosul menjadi ibukota kegubernuran Ninawa yang bermuara di Sungai Tigris dan terletak 396 km arah Utara Baghdad. Mosul pada saat ini menjadi kota ketiga terbesar di Irak setelah Kota Baghdad dan Kota Bashra.
Sejak dahulu kala Mosul telah menjadi kota yang strategis karena letaknya tepat pada persimpangan dua kota besar kuno yaitu Naisabur dan Damaskus. Kota Mosul terkenal dengan julukan Bab al Iraq Wa Miftah Khurasan artinya, Pintu Gerbang Irak dan Kunci Negeri Khurasan. Pada era itu, ada tiga kota besar dunia. Pertama, Kota Naisabur sebagai pintu gerbang belahan dunia Timur (Bab al Syarq). Kedua, Kota Damaskus, merupakan pintu gerbang belahan dunia Barat (Bab al Gharb). Ketiga, Kota Mosul yang berada pada persimpangan antara keduannya (Naisabur dan Damaskus).
Imam Abdullah Bin Mahmud al Mausiliy al Hanafiy lahir dari keluarga pendidik, ayahnya syekh Mahmud al Mausiliy adalah ulama kota Mosul yang mendidik sendiri imam Abdullah Bin Mahmud al Mausiliy kecil besarta tiga saudara laki-lakinya yaitu Abdul Da’im, Abdul Karim, dan Abdul ‘Aziz, yang kelak keempatnya menjadi ulama besar madzhab Hanafi pada zamannya.
Pengembaraan keilmuan imam Abdullah Bin Mahmud al Mausiliy al Hanafiy di mulai dari Damaskus, di kota ini ia banyak mendapatkan ilmu berkaitan dengan fikih Hanafiah dan hadist. Untuk fikih madzhab Hanafi ia belajar dengan ulama besar mafzhab Hanafi di Damaskus yang bernama syekh Abu al Mahamid Mahmud Bin Ahmad al Hasiriy (W. 636.H).
Imam Abdullah Bin Mahmud al Mausiliy al Hanafiy memiliki banyak guru, di antaranya ayahnya sendiri yang bernama al ‘Allamah Abi al Tsana’ Mahmud al Mausiliy (W.597.H), Abu Hafs Muwaffiquddin Umar Bin Muhammad Bin Mu’ammar al Baghdadi yang masyhur dengan panggilan Ibnu Tabrazaz (W.609.H), Syihabuddin Abu Hafs Umar Bin Muhammad Bin Abdullah al Qurasyi al Taimiy al Bakri (W.632.H), Abu Muhammad Abdul Qadir Bin Abdullah al Rahawiy al Hanbaliy ( W.612.H), Abu al Hasan Ali Bin Abi Bakar Bin Rawazbah al Baghdadi al Qalanisiy (W.633.H), dan lain-lainnya.
Selain itu, Imam Adullah Bin Mahmud al Mausiliy al Hanafiy memiliki banyak murid di antaranya adalah, Abdul Mu’min Bin Khalaf al Dimyati al Syafi’i ( W.705.H), Ibrahim Bin Ahmad Bin Barakah al Mausiliy, Abu Muhammad Abdul Karim Bin Abdil Nur al Hanbali, Abi Hayyan al Andalusi, dan lain-lainnya. Kemudian, Imam Abdullah Bin Mahmud al Mausiliy al Hanafiy memiliki banyak karya akademik, di antaranya adalah kitab Syarh al Jami’ al Kabir Li Muhammad Bin Hasan al Syaibani Fi al Furu’, kitab al Musytamil ‘Ala Masa’il al Mukhtashar, kitab al Fawa’id, al Mukhtar Li al Fatawa, dan puncak karya akademiknya adalah kitab al Ikhtiyaar Li Ta’lil al Mukhtar.
Selanjutnya penulis mengutip salah satu isi kitab al Ikhtiyaar Li Ta’lil al Mukhtar, jilid 1, halaman 65, karya imam Abdullah Bin Mahmud al Mausiliy al Hanafiy yang berisi tentang penjelasan shalat sunat rawatib berikut ini : باب النوافل : عن ام حبيبة و عاءشة و ابى هريرة و ابى موسى الاشعرى و ابن عمر رضى الله عنهم قالوا قال رسول الله ص من ثابر على ثنتى عشرة ركعة فى اليوم و اليلة بنى الله له بيتا فى الجنة ركعتين قبل الفجر و اربعا قبل الظهر و ركعتين بعدها و ركعتن بعد المغرب و ركعتين بعد العشاء فهذه مؤكدات لا ينبغى تركها فقد قال عليه الصلاة الفجر هما خير من الدنيا و فيها.
Artinya, Bab Shalat Shalat Sunat, Dari ummi Habibah, Aisyah, Abu Hurairah, Abu Musa al Asy’ari, dan Ibnu Umar, semoga Allah Swt meridhai mereka, mereka berkata telah bersabda Rasulullah Saw
Barang siapa mengerjakan 12 reka’at siang dan malam, maka Allah Swt akan buatkan rumah baginya di surga. Dua belas rekaat tersebut terdiri atas 2 reka’at sebelum Subuh, 4 reka’at sebelum Dzuhur, 2 reka’at setelah Dzuhur, 2 reka’at setelah Maghrib, dan 2 reka’at setelah Isya’.
Kesemua shalat sunat rawatib tersebut, adalah sunat mu’akadah atau sunat yang disangatkan untuk ditunaikan, sebaiknya jangan ditinggalkan. Maka sungguh Nabi Saw juga bersabda, Dua reka’at shalat sunat fajar keduanya lebih baik dari pada dunia beserta isinya.
Di dalam kitab al Ikhtiyaar Li Ta’lil al Mukhtar, jilid,1, halaman, 50, imam Abdullah Bin Mahmud al Mausiliy al Hanafiy menjelaskan bahwa di dalam madzhab Hanafi bacaan Aamiin setelah membaca surat al Fatihah di dalam shalat jahar seperti Maghrib, Isya’, dan Subuh dibaca khafi atau lirih tidak dijaharkan seperti di dalam madzhab Syafi’i.
Berikut kutipan penjelasan di dalam kitab al Ikhtiyaar Li Ta’lil al Mukhtar, jilid,1, halaman,50 : و اذا قال الامام و لا الضالين قال امين و يقول لها الماموم و يخفيها Artinya, Apabila imam telah mengucapkan Waladhaaliin, maka ucapkalah Aamiin dan ma’mum mengucapkannya dengan khafi (lirih) tidak jahar. Dunia keilmuan selalu kaya dengan wawasan yang membuat siapapun yang mencintai dunia keilmuan akan semakin tertantang untuk terus mendalami dan mengkaji ilmu.
Semoga Allah Swt menganugrahkan pahala yang besar kepada imam Abdullah Bin Mahmud al Mausiliy al Hanafiy yang telah mempersembahkan karya akademiknya sebagai wawasan dalam dunia Islam, begitu juga hendaknya kepada seluruh kaum Muslimin yang telah bersusah payah dalan menekuni dunia ilmu. Aamiin Ya Rabbal’alamiin. Wallahu’alam. WASPADA.id
Penulis adalah Dosen Hadist Ahkam dan Hukum Keluarga Islam di Asia Tenggara Pascasarjana IAIN Langsa
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.