Al Burhan Fi Ushul Fiqh ( البرهان في اصول الفقه ) adalah sebuah kitab tentang ushul fikih yang ditulis pada abad ke-5 Hijriah dan menjadi referensi utama dalam bidang ilmu ushul fikih hingga saat ini. Kitab al Burhan Fi Ushul al Fiqh terdiri atas 260 halaman dengan lebar 24 cm, cetakan pertama diterbitkan di Beirut oleh penerbit Dar al Kutub al Ilmiyah pada tahun 1997. Selain itu, Kitab al Burhan Fi Ushul al Fiqh ditulis oleh seorang ulama terkemuka ahli fikih dan ushul fikih dari desa Juwain – Naisabur – Persia yang bernama Abu al Ma’ali Abdul Malik Bin Abdillah Bin Yusuf Bin Muhammad Bin Abdillah Bin Hayuwiyyah al Juwaini al Naisaburi.
Imam al Juwaini juga masyhur dengan panggilan imam al Haramain (imam dua kota suci Mekkah dan Madinah) karena imam al Juwaini pernah selama lima tahun menjadi imam di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Selanjutnya, Imam al Juwaini lahir di desa Juwain – Naisabur – Khurasan pada tanggal 18 Muharram tahun 419 Hijriah bertepatan dengan tanggal 17 Februari 1028 Miladiah dan wafat di Naisabur pada hari Selasa tanggal 25 Rabi’ul Akhir tahun 478 Hijriah bertepatan dengan tanggal 20 Agustus 1085 Miladiah dalam usia 59 tahun dan dimakamkan di desa Busytanikan – Naaisabur.
Kemudian, Desa Juwain – Naisabur tempat imam al Juwaini dilahirkan terkenal sebagai wilayah yang sangat subur sehingga sejak dahulu kala berbagai dinasti silih berganti menguasainya. Awalnya dikuasai oleh dinasti Safariyah kemudian dikuasai oleh dinasti Samaniyah lalu dinasti Ghaznawiyah, dinasti Buwaihiyah sampai akhirnya dikuasai oleh dinasti Saljukiyah. Imam al Juwaini belajar Al Qur’an dan Adab dari ayahnya sendiri yaitu Abu Ya’qub kemudian belajar hadits dan ilmu hadist dari imam al Qaffal al Marwazi.
Adapun ushul fikih dan fikih dipelajarinya dari Abu Thayyib al Sha’luki. Imam al Juwaini juga berguru kepada pamannya yang bernama syekh Abul Hasan Ali Bin Yusuf Bin Abdillah Bin Yusuf salah seorang ulama besar pada masa itu yang terkenal dengan sebutan syekh Hijaz. Adapun gurunya yang lain adalah Abu Muhammad al Juwaini (saudara kandungnya), Abu Nu’aim, Abu Abdurrahman al Sulami, Ibnu Syadzan, al Fourani, Abu al Qasim al Isfara’ini, imam al Baihaqi, Abu Abdullah al Khabazi dan lain-lainnya.
Sedangkan yang menjadi murid-muridnya juga sangat banyak seperti imam al Ghazali, Abu al Qasim al Anshari, Abu Nashr Ibn al Qusyairi dan lain lainnya. Imam al Juwaini meninggalkan Naisabur pada saat peristiwa fitnah al khunduri pada tahun 443 – 447 Hijriah menuju kota Mu’askar kemudian dilanjutkan ke Baghdad, Isfahan, Mekkah dan Madinah. Di kota Baghdad ini imam al Juwaini belajar kepada Abu Muhammad al Jauhari. Di samping itu, ia juga mendalami kitab-kitab karya al Baqilani yang berkaitan dengan ilmu kalam. Di Isfahan imam al Juwaini belajar kepada imam Abu Nu’aim al Isfahani penulis kitab Hilyat al Auliya’ yang sangat masyhur tersebut.
Selanjutnya pada tahun 1063 Miladiah, imam al Juwaini meninggalkan kota Mekkah untuk kembali ke Naisabur. Sesampainya di Naisabur imam al Juwaini resmi diangkat menjadi guru di Madrasah al Nidzamiyah Naisabur dan mengabdi sebagai seorang guru di madrasah itu selama 23 tahun sampai tutup usia. Selanjutnya, meskipun pemikiran imam al Juwaini memberikan porsi lebih terhadap akal namun imam al Juwaini tidak pernah menempatkan akal sejajar dengan naqal (Al Qur’an dan al Sunnah).
Di dalam pandangan imam al Juwaini, akal ditempatkan pada posisi lebih hanya semata mata untuk memahami naql dan akal tidak pernah disejajarkan dengan naql apalagi diposisikan lebih tinggi. Corak pemikiran imam al Juwaini tetap merupakan corak ahlu sunnah wal jama’ah yang senantiasa menempatkan al Qur’an dan al Sunnah sebagai sumber referensi utama. Pemikiran imam al Juwaini tidak hanya menyangkut filsafat, ilmu kalam dan ushul fikih serta fikih semata, ia juga merupakan peletak dasar dari ilmu dan kajian tentang maqashid syari’ah yang kelak dikemudian hari menjadi suatu disiplin ilmu baru yaitu ilmu maqashid syari’ah.
Imam al Juwaini adalah tipologi ulama yang telah melahirkan ulama ulama besar setelahnya, di antaranya seperti imam Abu Hamid al Ghazali, imam Abu Nashr Abdurrahim Bin Abdul Karim al Qusyairi, imam Abu Fatih Nashr Bin Ibrahim al Maqdisi dan lain lainnya. Dengan sebab itu, imam al Juwaini diberi gelar Abu al Mawali ( bapaknya orang orang besar). Imam al Juwaini memiliki banyak karya akademik di antaranya adalah kitab al Burhan Fi Ushul al Fiqh, kitab al Irsyad Fi Qawathi’ al Adillah Wa Ushul al I’tiqad, kitab Nihayah al Mathlab Fi Dirayah al Madzhab, kitab Risalah Fi Fiqh, kitab Gunyah al Murtasyidin Fi al Khilaf, kitab al Kaifiyah al Jadal, dan lain-lainnya.
Khusus dalam bidang ilmu kalam imam al Juwaini menulis 8 buah kitab, dalam bidang ushul fikih ia menulis 6 buah kitab yaitu kitab al Irsyad Fi Ushul al Fiqh, kitab al Waraqat Fi Ushul al Fiqh, kitab al Mujtahidin, kitab Risalatun Fi Taqlid Wa al Ijtihad, kitab al Tuhfah, dan kitab al Burhan Fi Ushul al Fiqh. Di dalam bidang fikih imam al Juwaini menulis 4 buah kitab, dalam bidang perbandingan madzhab ia menulis 4 buah kitab dan dalam bidang yang lain, ia menulis 2 buah kitab yaitu kitab Fi al Nafs dan kitab al Arba’in Fi al Hadits.
Kitab al Burhan Fi Ushul al Fiqh karya imam al Juwaini memiliki dua buah kitab syarah, yaitu kitab Idhah al Mahsul Min Burhan al Ushul ( ايضاح المحصول من برهان الاصول ) karya imam Abu Abdillah al Maziri al Maliki (W.536.H) dan kitab al Tahqiq Wa al Bayan Fi Syarh al Burhan Fi Ushul al Fiqh ( التحقيق و البيان في شرح اابرهان في اصوال الفقه ) karya syekh Syamsuddin Abu al Hasan Ali Bin Ismail al Abyari al Shanhaji al Maliki ( W.618.H). Moderasi keilmuan dan madzhab terlihat jelas di dalam dua kitab syarah tersebut di atas, dimana imam al Juwaini yang bermadzhab Syafi’i kitabnya disyarah oleh dua ulama bermadzhab Maliki.
Imam Tajuddin al Subkhi menegaskan bahwa kitab al Burhan Fi Ushul al Fiqh adalah kitab yang ditulis dengan gaya yang unik yang belum ditemukan pada periode sebelumnya (Lihat imam Tajuddin al Subkhi, Thabaqat al Syafi’iyyah al Kubra, jilid, 5, Beirut, Dar Fikri, 1982, halaman, 192).
Di antara yang menarik dari kitab al Burhan Fi Ushul al Fiqh karya imam al Juwaini adalah adanya arahan di dalam mempelajari suatu disiplin ilmu tertentu sebagaimana yang termaktub di dalam kitab al Burhan Fi Ushul Fiqh, jilid,1, halaman, 83, berikut ini : حق على كل من يحاول الخوض في فن من فنون العلوم ان يحيط بالمقصود منه و بالمواد التي منها يستمد ذلك الفن و بحفيفته و فنه وحده ان امكنت عبارة سديدة على صناعة الحد ة وان عسر فعليه ان يحاول الدرك بمسلك التقاسيم Artinya, Wajib bagi setiap orang yang ingin mendalami ilmu tertentu untuk mengetahui tujuan disiplin ilmu tersebut, fokus kepada isi materi yang dipelajari, jika memungkinkan harus mengetahui hakekat atau batasan dari disiplin ilmu tersebut. Jika terasa sulit, maka minimal menguasai pembagian cabang disiplin ilmu tersebut (Lihat imam al Juwaini, al Burhan Fi Ushul al Fiqh, jilid,1, Qatar, Matba’ah al Dawhah al Haditsah, 1399.H., halaman, 83).
Bagi para penggemar ilmu yang ingin mendalami ilmu ushul fikih maka sangat dianjurkan untuk membaca kitab al Burhan Fi Ushul Fiqh karya imam al Juwaini ini agar dasar dasar filosofis di sebalik ilmu uhul fikih dapat lebih terpahami dengan baik. Wallahu’alam. WASPADA.id
Penulis adalah Dosen Hadist Ahkam dan Hukum Keluarga Islam di Asia Tenggara Pascasarjana IAIN Langsa
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.