Waspada
Waspada » Sektor Pekebunan Aceh Utara Penyangga Inflasi di Tengah Pandemi
Aceh

Sektor Pekebunan Aceh Utara Penyangga Inflasi di Tengah Pandemi

Kelapa sawit dan beberapa jenis hasil perkebunan lainnya telah menjadi penyangga inflasi di Aceh Utara, di masa pandemi Covid-19. Dinas terkait bersama LSM sedang menjadi format perkebunan berkelanjutan yang tidak merusah lingkungan. Waspada/Zainal Abidin
Kelapa sawit dan beberapa jenis hasil perkebunan lainnya telah menjadi penyangga inflasi di Aceh Utara, di masa pandemi Covid-19. Dinas terkait bersama LSM sedang menjadi format perkebunan berkelanjutan yang tidak merusah lingkungan. Waspada/Zainal Abidin

LHOKSUKON (Waspada): Tingginya harga hasil perkebunan di Aceh Utara telah mejadikan sektor ini sebagai penyangga inflasi di tengah pandemi Covid-19.

Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Aceh Utara Ir Lilis Indriansyah, MP, Kamis (11/6) menjelaskan, harga hasil perkebunan semakin meningkat. Kondisi tersebut telah menjadikan, pinang, kelapa, kelapa sawit dan beberapa jenis hasil perkebunan lainnya, sebagai penyangga inflasi di Aceh Utara. “Bayangkan di tengah-tengah Covid, penyangga inflasi di daerah kita, dari produk pertanian,” jelas Lilis usai kegiatan Sosialisasi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim, Dalam Tata Kelola Perkebunan Sawit Aceh Utara.

Kecamatan Sawang, Nisam, Tanah Luas, Panya Bakong dan sejumlah kecamatan lainnya merupakan pusat perkebunan di kabupaten tersebut. Ketika kondisi ekonomi di sektor lain cenderung melemah, sektor perkebunan malah menguat. “Pinang menjadi Rp.2500 per kilogram,” sebutnya. Pada hal, sebelumnya harga pinang hanya Rp10.000.

Kenaikan juga terjadi pada perkebunan kakao. Harga jual kakao sekarang mencapai Rp2100 per kilogram, harga sebelumnya lebih rendah. Kenaikan juga terjadi pada kelapa sawit. Harga TBS kelapa sawit di tingkat petani rata-rata Rp1.800 per kilogram. Sebelumnya, harga sangat rendah, sehingga petani membiarkan kebun sawit terlantar karena biaya panen lebih mahal dari harga TBS. “Sekarang harga lebih mahan,” tambah Lilis Indriansyah.

Untuk menjaga lingkungan hidup di kawasan perkubnan sawit, LSM Bitra bersama Dinas Perkebunan melakukan Sosialisasi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Dalam Tata Kelola Perkebunan Sawit Aceh Utara.

Ketua LSM Bitra Saifuddin menegaskan, kegiatan tersebut untuk melindungi lingkungan, sekaligus mencari solusi supaya perusahaan bisa aktif berproduksi. Dia berharap ke depan perusahaan sawit dan PKS di Aceh Utara mendapatkan sertifikasi melalui Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).(b08)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2