Sekretaris Komisi III DPRK Aceh Utara: Pj Gubernur Harus Prioritaskan Putra Daerah Bekerja Di PT PGE

  • Bagikan

DALAM sambutannya, Gubernur Aceh, Nova Iriansyah kepada ratusan tamu undangan pada acara kenduri syukuran satu tahun alih kelola wilayah kerja B di Gedung Multi Purpose Komplek Perumahan PAG/PT Arun, Kamis (26/5) pagi dengan suara terang mengatakan, pada perekrutan tenaga kerja di PT. PEMA Global Energi (PGE) beberapa bulan sebelumnya, 70 persen yang lulus adalah anak-anak Aceh.

Mendengar penjelasan tersebut, nyaris semua tamu undangan bertepuk tangan, sebagai tanda bahagia. Namun ada juga sebagian kecil yang enggan bertepuk tangan. Mereka itu adalah para anggota DPRK Aceh Utara. Bukan hanya tidak bertepuk tangan, melainkan wajah-wajah mereka juga menampakkan rasa kecewa.

“Saya tidak mengatakan kalau data yang disampaikan oleh Gubernur Aceh itu bohong, tetapi, saya bersama kawan-kawan di Komisi II DPRK Aceh Utara waktu itu, pernah menjumpai manajemen PT. PEMA Global Energi di Poin A. Waktu itu kepada kita mereka mengatakan ada 70 bahkan 80 persen anak Aceh diterima bekerja di situ. Namun saat kami minta data dan nama lengkap seluruh tenaga kerja tersebut, mereka tidak berani. Makanya saya tidak percaya ada 70 persen anak Aceh bekerja di PT itu,” sebut Sekretaris Komisi III DPRK Aceh Utara itu.

Tepuk tangan kembali membahana seluruh ruangan, ketika orang nomor satu di Aceh itu menyampaikan, bahwa mulai bulan depan, PT. PEMA Global Energi (PGE) mulai menyetor Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh. Seluruh hadiran merespon dengan bahagia. Rasa bahagia itu muncul atas dasar, bahwa PAD tersebut turut akan dinikmati oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.

“Kalau orang-orang di Pemkot Lhokseuamwe saya pikir pantas bahagia, karena dalam perusahaan itu, PDPL milik mereka diberikan kesempatan untuk penyertaan modal 1 persen. padahal Kota Lhokseumawe bukan pemilik sumur. Artinya, PDPL milik Lhokseumawe ikut menikmati bagi hasil bukan kecipratan PAD yang diterima oleh Pemerintah Aceh. Sementara Aceh Utara nihil untuk bagi hasil,” surah Ismed AJ Hasan panjang lebar.

Artinya, kata Ismed, dari dua hal yang disampaikan, Nova Iriansyah, satupun tidak menyenangkan Aceh Utara. Kalau angka 70 persen yang disebutkan adalah jumlah seluruh anak Aceh yang tertampung pada perekrutan kemarin itu bisa diterima. Namun jika angka 70 persen itu adalah tenaga kerja dari 9 atau 6 kecamatan di lingkungan PT. PEMA Global Energi, itu belum.

“Persyaratan yang dibuat terlalu berat. Harus memiliki pengalaman kerja minimal 5 tahun. Kalau persyaratan seperti itu, saya pikir sampai kiamatpun tidak ada anak Aceh yang berpengalaman kerja di Migas 5 tahun. Kalau mereka sudah berpengalaman 5 tahun, mana mungkin mereka keluar dari perusahaan tempat mereka kerja lalu masuk mendaftar ke PT. PEMA Global Energi. Yang kita sayangkan, cukup banyak putra dan putri di lingkungan perusahaan dengan ijazah S1 dan S2 tidak berkesempatan untuk bekerja di sana,” sebutnya.

Jika demikian kenyataannya, sebut Ismed AJ Hasan, pepatah Aceh masa lalu masih kontekstual untuk saat ini. Pepatah Aceh itu adalah buya krueng teudong-dong, buya tamong meuraseuki. Artinya, putra dan putri di sekitaran WK B dibiarkan menjadi pengangguran, tetapi para pendatang mendapat kemudahan dan fasilitas di perusahaan itu.

“Pada masa kejayaan Exxon dan Mobil, mereka memberikan peluang pada putra dan putri di lingkungan. Mereka merekrut anak-anak lulusan SMA. Lalu kemudian diberikan kesempatan untuk ikut training (pelatihan) sesuai penempatan masing-masing. Namun sekarang itu tidak dilakukan, malah syaratnya terlalu diperberat,” imbuhnya.

Terkait data yang disampaikan Gubernur Aceh, Nova Iriansyah itu tidak bohong, namun kata Ismed AJ Hasan, berita yang disampaikan oleh PT. PEMA Global Energi kepada gubernur, itu yang bohong. Kalau memang data itu benar, kata Ismed, berikan data ril kepada pihaknya secara lengkap.

“Saya tahu persis bagaimana proses perekrutan tenaga kerja kemarin. Saya tinggal di cluster II yang jaraknya Cuma 1 Km dari Poin A. kalau jaraknya dihitung diujung landasan pacu, maka tidak lebih dari 300 meter antara desa kami dengan lokasi perusahaan. Maka saya katakan, angka 70 persen itu belum terjadi. Kalau untuk seluruh Aceh mungkin iya, tapi untuk warga lingkungan 6 atau 9 kecamatan itu belum,” terang Ismed lebih jauh.

Dulu, sambung Ismed, Wilayah Kerja (WK) B dikelola oleh perusahaan asing yaitu Exxon dan Mobil dapat ditolerir, jika rekrutan tenaga kerja anak-anak lingkungan minim, namun WK B sekarang dikelola oleh BUMD nya Aceh yaitu BPMA. Sesama diri sendiri tidak bisa berlaku adil bagaimana mungkin menuntut keadilan dari perusahaan asing.

Kepada Pj Gubernur Aceh nantinya diharapkan, perekrutan tenaga kerja berikutnya di perusahaan tersebut harus lebih memprioritaskan anak-anak lingkungan. Tidak membuat persyaratan yang terlalu berat seperti memiliki pengalaman 5 tahun. Itu persyaratannya masih seperti itu, maka sampai kiamat dunia tidak ada anak-anak lingkungan yang bisa bekerja di sana.

Perekrutan tenaga kerja yang dilakukan oleh Medco di Aceh Timur lebih baik. Kemarin itu, sebut Ismed, Medco merekrut 40 orang putra dan putri di lingkungan perusahaan untuk detraining sesuai penempatan kerja nantinya. Harusnya, metode seperti itu ditiru oleh PT. PEMA Global Energi di Aceh Utara.

“Karena persoalan inilah saya tidak mau bertepuk tangan saat mendengar pidato Gubernur Aceh. Hanya orang-orang yang tidak mengetahui masalah yang bertepuk tangan,” ucap Ismed.

Terakhir, Ismed meminta Direktur PT Pase Energi untuk lebih giat dan fokus dalam bekerja. Jangan hanya pintar berbicara. Pengalaman yang terjadi beberapa bulan lalu, telah membuat seluruh warga Aceh Utara bersedih karena tidak dapat melakukan penyertaan modal hanya karena perusahaan daerah belum ber PT. “Sekarang sudah ada Perseroda, maka bekerjalah dengan giat dan fokus. Jangan cuma berbicara,” pintanya.

Pada kesempatan itu, tokoh masyarakat dari Kecamatan Syamtalira Aron, H Yusuf Hasan kepada Waspada menyebutkan, persyaratan pada perekrutan tenaga kerja yang dilakukan PT. PEMA Global Energi adalah bentuk dari menghadang anak-anak Aceh terutama anak lingkungan agar tidak lulus tes. Ke depan, persyaratan seperti itu harus dihilangkan.

“Saya juga tidak percaya, tentang data 70 persen anak Aceh diterima bekerja di PT. PEMA Global Energi. Harusnya, PT. PEMA Global Energi menyampaikan data yang benar dan valid, lengkap nama dan KTP-nya. Kalau keberatan terhadap komentar saya, maka serahkan data lengkap kepada kami. Saya tahu benar, tidak ada warga lingkungan yang lulus kemarin. Kalau tidak percaya kita sama-sama turun ke lapangan,” ajak H Yusuf Hasan.

Hal ini juga dibenarkan oleh Geusyiek Gampong Teungoh, Badruddin dan Geusyiek Gampong Blang, Teuku Nazmi Fuadi. Selama PT. PEMA Global Energi mengambil alih kelola Wilayah Kerja B, belum ada keuntungan apapun yang diterima oleh warga lingkungan 9 kecamatan dari Syamtalira Arun hingga Kecamatan Langkahan. Apakah itu yang bersifat CSR maupun dalam penerimaan tenaga kerja.

“Kami setuju dengan apa yang disampaikan oleh H Yusuf Hasan dan Ismed Aj Hasan bahwa ke depan harus ada putra dan putri warga lingkungan yang detraining seperti yang dilakukan Medco di Aceh Timur,” kata Badrddin dan Nazmi Fuadi.

Menjawab beberapa hal yang disampaikan oleh anggota DPRK Aceh Utara, tokoh masyarakat dan geusyiek gampong di lingkungan perusahaan, maka Gubernur Aceh, Nova Iriansyah kepada Waspada usai menepung tawari alat berat di lokasi acara mengatakan, angka 70 persen itu adalah angka untuk seluruh Aceh yang diterima bekerja di PT. PGE.

Dan ini kata Nova Iriansyah adalah bisnis. Urusan angka-angka itu selalu mnjadi pekerjaan rumah (PR) bagi kita untuk dinegosiasikan. Lalu tidak karena itu semuanya harus berhenti. “Bisnis to bisnis. Itu berjalan terus dan pada saatnya nanti akan sesuai secara proposional. Tenaga kerja ditempatkan sesuai keahliannya masing-masing,” kata Nova Iriansyah.

Nova melanjutkan, tidak mungkin semuanya langsung 100 persen. “Tadi saya laporkan ada 70 persen putra dan putri Aceh Utara yang diterima di PT. PGE dan belasan persen untuk Kota Lhokseumawe dan seterusnya. Jadikan, saya sudah katakan, pada dasarnya putra dan putri sekarang sudah siap belajar dari Cepu dan nanti ada anak-anak Aceh yang sudah siap kuliah di Amerika Serikat. Mereka nanti menjadi top level,” katanya.

Nah, sebut Nova, terkait Pemkab Aceh Utara kecewa karena tidak ikut dalam penyertaan modal pada PT. PGE sebut Nova, semua itu dikarenakan Aceh Utara belum siap dengan Perserodanya. Ketika itu perusahaan daerah masih berbentuk PD. Untuk ke depan, jika sudah siap dengan Perserodanya, maka diusulkan kembali agar sama dengan Kota Lhokseuamwe dalam penyertaan modal.

“Namun ini sama ajalah. Pada dasarnya wilayah yang menjadi pemilik sumur paling besar menerima manfaat dan PEMA sebagai BUMD milik Aceh mulai bulan depan mulai menyetor PAD untuk Aceh. Sesuai aturan PAD tersebut juga akan dinikmati oleh Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe mulai bulan depan,” demikian penjelasan Nova Iriansyah ketika diwawancarai Waspada.id. WASPADA/Maimun Asnawi, S.Hi.,M.Kom.I

Keterangan foto: Sambutan Direktur PT. PGE pada acara syukuran satu tahun alih kelola wilayah kerja B oleh PT. PEMA Global Energi di Gedung Multi Purpose PT PAG/PT Arun. Waspada/Maimun

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.