Waspada
Waspada » Satpol PP Dan WH Aceh Tamiang Nyaris Baku Hantam Dengan Pedagang
Aceh Headlines

Satpol PP Dan WH Aceh Tamiang Nyaris Baku Hantam Dengan Pedagang

Suasana perang mulut yang terjadi antara pedagang ikan dengan aparat Satpol PP dan WH Aceh Tamiang di Karang Baru, Kab. Aceh Tamiang, Senin (8/2). Satpol PP Dan WH Aceh Tamiang Nyaris Baku Hantam Dengan Pedagang. Waspada/Muhammad Hanafiah
Suasana perang mulut yang terjadi antara pedagang ikan dengan aparat Satpol PP dan WH Aceh Tamiang di Karang Baru, Kab. Aceh Tamiang, Senin (8/2). Satpol PP Dan WH Aceh Tamiang Nyaris Baku Hantam Dengan Pedagang. Waspada/Muhammad Hanafiah

KUALASIMPANG (Waspada): Satpol PP dan Wilayahtul Hisbah (WH) nyaris baku hantam dengan pedagang ikan yang berjualan ikan di dalam rumahnya sendiri dan pada insiden tersebut aparat Satpol PP dan WH menyita barang-barang milik pedagang ikan yang sempat memegang parang panjang (samurai) ketika terjadi perang mulut dengan aparat di Jalan Ir. H. Juanda, Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Senin (8/2).

Pengamatan Waspada.id di tempat kejadian peristiwa (TKP), Senin (8/2), rombongan aparat Satpol PP dan WH Kabupaten Aceh Tamiang ketika datang ke lokasi, pemilik rumah Mustafa, 33, yang berprofesi sebagai pedagang ikan yang biasanya menggelar dagangan pada sore hari pukul 16:00 WIB sampai malam hari, Satpol PP dan WH langsung mengambil tenda.

Begitu juga keluarga Zurafiah yang berjualan ikan di rumahnya yang bersebelahan dengan Mustafa, Satpol PP dan WH mengambil meja milik Zurafiah yang ada di dalam rumah anak Zurafiah.

Akibat terjadi ribut-ribut di lokasi tersebut, Mustafa langsung terbangun dari tidur dan terjadi perang mulut dengan aparat Satpol PP dan WH. Mustafa juga mengambil parang panjang (samurai) untuk melakukan perlawanan atas tindakan aparat tersebut.

Perlawanan yang sama juga dilakukan oleh keluarga Zurafiah atas tindakan aparat yang mengambil meja di dalam rumahnya. Akibat insiden tersebut menjadi tontonan warga sekitar dan warga yang sedang melintas di kawasan tersebut.

Mustafa dan keluarga Zurafiah ketika dikonfirmasi Waspada.id di TKP menyatakan, mereka berjualan ikan pada sore hari hingga malam hari dan tidak ada menganggu arus lalu lintas bagi pemakai jalan karena berjualan di dalam rumah yang dijadikan tempat tinggal untuk mencari nafkah.

“Apa kesalahan kami berjualan ikan di dalam rumah sendiri sehingga harus dilarang mencari nafkah, padahal kami tidak ada mengganggu arus lalu lintas dan tidak ada mengganggu warga lainnya,” ungkap Mustafa.

Mustafa kepada Waspada.id menyebutkan, di Pasar Pagi Kota Kualasimpang banyak pedagang ikan yang berjualan di badan jalan tetapi tidak dilarang oleh Satpol PP dan WH. “Tindakan aparat Satpol PP dan WH yang melarang kami mencari nafkah untuk keluarga dengan cara berjualan ikan sudah sangat keterlaluan dan tidak berprikemanusiaan,” ungkap Mustafa.

Sementara itu pedagang ikan lainnya, Ismail yang berjualan di Kedai Besi, Karang Baru yang sedang memegang parang mengatakan kepada Waspada.id, dirinya siap untuk mati mempertahankan dagangannya. “Saya juga akan berjuang, dagangan saya jualan ikan untuk mencari nafkah demi kebutuhan keluarga,” ungkap mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu sambil memegang parangnya.

“Tidak ada satupun alasan dan dasar hukum untuk melarang saya berjualan ikan,” tegas Ismail yang bergelar di kalangan kombatan GAM dengan nama panggilan Anuek Klueng.

Menurut Ismail, jika dirinya dilarang jualan ikan, maka sedikitpun dirinya tidak takut untuk membuat perlawanan dan menebaskan parangnya kepada pihak yang melarang dirinya berjualan ikan untuk mencari nafkah.

“Saya sudah capek waktu konflik Aceh hidup di hutan dalam desingan peluru, jika sekarang saya cari nafkah dilarang, maka saya akan melakukan perlawanan,” ungkap Ismail Anuek Klueng.

Kepala Satpol PP dan WH Kabupaten Aceh Tamiang, drh Asmai melalui Kasi Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat (Trantib) Satpol PP dan WH, Lili Dirtayani ketika dikonfirmasi Waspada.id di TKP, Senin (8/2), menybutkan, Satpol PP dan WH melakukan tindakan tersebut karena ada surat perintah Pelaksana Tugas (Plt) Sekdakab Aceh Tamiang, Abdullah dan ada juga perintah dari Ka. Satpol PP dan WH Aceh Tamiang, Asmai.

Menurut Lili, dasar hukum penertibannya adalah Qanun Aceh Tamiang Nomor 8 Tahun 2013 tentang Pedoman Penataan dan Permberdayaan Pedangan Kaki Lima. Kemudian Surat Plt Sekdakab Aceh Tamiang dan Surat dari Ka. Satpol PP dan WH Kabupaten Aceh Tamiang. “Kami hanya melaksanakan perintah dari atasan kami,“ tegas Lili.

Namun berdasarkan penelusuran Waspada.id, Senin (8/2), surat perintah yang diterbitkan Plt Sekdakab Aceh Tamiang, Abdullah pada tanggal 26 Januari 2021, Surat Nomor 510/431 berisi tentang penertiban pedagang ikan, pedagang sayur dan pedagang ayam dalam Pasar Pagi Kota Kualasimpang yang berjualan tidak pada tempatnya dan penertiban parkir di Kota Kualasimpang. Tidak ada pada surat itu disebutkan penertiban pedagang ikan, sayur dan ayam di Karang Baru.

Begitu juga surat yang diterbitkan Ka. Satpol PP dan WH Aceh Tamiang, drh. Asmai pada tanggal 28 Januari 2021, Nomor 310/192 adalah untuk menyikapi surat Plt Sekdakab Aceh Tamiang Nomor 510/431 tentang penertiban.(b14)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2