Waspada
Waspada » Santri Pesantren Ibdaul Islam Serahterima Tarikat Samadiah dan Tahlil
Aceh

Santri Pesantren Ibdaul Islam Serahterima Tarikat Samadiah dan Tahlil

Waspada / Yusri Para santri Pesantren Terpadu Ibdaul Islam Paya Ketenggar Kec Manyak Payed, Kab Aceh Tamiang saat mengikuti serahterima tarikat Alhaddad untuk samadiah dan tahlil.

KUALASIMPANG (Waspada) : Sebanyak 27 orang santri Pesantren Terpadu Ibdaul Islam, Paya Ketenggar, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang mengikuti prosesi serahterima (Hijab Kabul) tarikat samadiah dan tahlil berdasarkan tata cara Habib Abdullah Alhaddat (tarikat Alhaddat) yang dilaksanakan di mushalla pesantren ini.

Pimpinan Pesantren Terpadu Ibdaul Islam, Tgk Saiful Mahdi, S.Pd.I kepada Waspada Sabtu (7/11) mengatakan, prosesi serahterima tarikat samadiah dan tahlil ini di pimpin oleh Tgk Mustafa Isa yang akrab disapa Waled Pula dari Simpang Muling, Kabupaten Aceh Utara.

Disebutkannya, para santri yang mengikuti ijazah tarikat samadiah dan tahlil ini merupakan santri kelas 6 dan 7, karena mereka dinilai sudah matang dalam pembelajaran ilmu fiqih, tauhid dan tasauf. ” Termasuk belajar kitab – kitab lainnya, ” ujar Tgk Saiful.

Menurutnya, belajar tarikat ini wajib dan harus di pelajari, jadi keberadaan tarikat itu bukan hanya dalam berdoa, tetapi berguna untuk ibadah, ” Karena itu wajib oleh setiap muslim untuk belajar tarikat, ” ajak Tgk Saiful seraya menjelaskan, bahwa arti tarikat itu adalah cara dan setiap orang muslim harus belajar.

Ditekankannya, apabila tidak mau belajar maka setan menjadi guru, artinya dalam pelaksanaan ibadah nantinya tidak sesuai dengan tata cara melaksanakan ibadah sebagaimana ketentuan hukum ajaran agama Islam.

Ditegaskannya, pembelajaran pada pesantren terpadu Ibdaul Islam juga tetap mengutamakan belajar kita – kita kuning atau kitab Arab gundu (tanpa baris) seperti pesantren – pesantren salafiah murni.

Karena itu Tgk Saiful mengharapkan juga kepada masyarakat yang membawa tahlil dan samadiah baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain agar memiliki tarikat yang benar dan sudah diakui oleh dunia Islam ahlulsunnah waljamaah.

Sementara itu, Tgk Mustafa Isa atau Waled Pulo seusai kegiatan tersebut mengatakan, kenapa dalam pelaksanaan ijazah samadiah dan tahlil bagi santri ini menggunakan kain putih yang disangkut di kepala, hal ini pertama adalah sesuai cara yang diberikan oleh guru beliau dan kain putih juga sebagai lambang kesucian.

Lanjutnya, adapun tata cara yang harus diamalkan untuk samadiah ini antara lain membaca samadiah untuk ibu dan ayah kandung, diri sendiri dan guru masing – masingnya sebanyak 10 ribu. ”

Sedangkan untuk tahlil harus membacanya untuk ayah dan ibu kandung, diri sendiri dan guru yaitu
sebanyak 70 ribu, ” sebut Waled Pulo seraya menambahkan, pembacaan ini bisa dilakukan secara berkelanjutan oleh santri ataupun masyarakat yang akan mengambil tarikat samadiah serta tahlil.(b15).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2