Sanggar Cut Meutia Raih Penghargaan Nasional Lewat Tarian Ta’eun Ija Broek

  • Bagikan
12 penari dan 10 musisi dari Sanggar Cut Meutia Meuligoe Aceh utara foto bersama, Minggu (6/10) di Sasono Langen Budoyo TMII Jakarta. Waspada/Ist
12 penari dan 10 musisi dari Sanggar Cut Meutia Meuligoe Aceh utara foto bersama, Minggu (6/10) di Sasono Langen Budoyo TMII Jakarta. Waspada/Ist

WIDYA ARINI menunjukkan ekspresi wajah bahagia ketika mendengar dewan juri mengumumkan Sanggar Cut Meutia Meuligoe Aceh Utara berhasil meraih penghargaan sebagai Penyaji Unggulan Terbaik pada even Parade Tari Nusantara ke-40 Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Pengumuman tersebut disampaikan dewan juri, Minggu (6/10) di Sasono Langen Budoyo TMII Jakarta.

Wakil Ketua Sanggar Cut Meutia Meligoe Aceh Utara itu, kepada Waspada mengatakan, pada even tersebut, para penari menampilkan tarian yang bercerita tentang ta’eun ija broek. Ta’eun ija broek, sebut Widya Arini, merupakan wabah penyakit yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Aceh.

Kata Widya, penyakit ini bisa datang dengan tiba-tiba dan dapat memusnahkan manusia dan bahkan binatang sekalipun. Ta’eun ija broek merupakan penyakit non medis dan menular. Ta’eun ija broek hanya dapat disembuhkan melalui mantra-mantra dan doa puji-pujian kepada Allah SWT seperti zikir-zikir tolak bala.

Tolak bala itu sendiri, kata Widya Arini lagi, sangat spesifik yang dilakukan oleh masyarakat Aceh dan ini dilakukan berbeda dengan doa-doa yang lain. Dalam kegiatan zikir tolak bala tersebut, masyarakat membawa suloh (obor) dan juga panyoet serungkeng (lampu petromak spirtus) sambil melantunkan mantra-mantra tersebut.

Kegiatan ini dilakukan dari jurong ke jurong (gang ke gang) dan dari gampong (kampung) satu ke gampong lainnya. Pada akhirnya, penyakit ta’eun ija broek dapat disembuhkan dengan bacaan mantra-mantra tersebut. Sehingga rakyat kembali terlepas dari segala penyakit dan marabahaya.

“Alhamdulillah Sanggar Cut Meutia Meuligoe Aceh Utara berhasil meraih penghargaan sebagai penyaji unggulan terbaik pada even Parade Tari Nusantara ke-40 Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Penghargaan nasional ini berhasil kita peroleh berkat kerja keras anak-anak dalam menampilkan tarian ta’eun ija broek,” sebut isteri Sekda Aceh Utara, Dayan Albar.

Widya Arini kepada Waspada mengatakan, dia datang mengambil penghargaan tersebut mewakili Ketua Sanggar Cut Meutia Meuligoe Aceh Utara, Awirdalina yang juga merupakan istri dari Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Drs. Mahyuzar, M.Si. Pada even tersebut, kata Widya Arini, Sanggar Cut Meutia Meuligoe Aceh Utara tampil mewakili Provinsi Aceh.

“Terimakasih kepada 12 penari dan 10 musisi yang telah berlatih siang dan malam selama tiga bulan penuh. Kerja keras mereka telah melahirkan prestasi membanggakan masyarakat Aceh terutama masyarakat di Kabupaten Aceh Utara,” kata Widya Arini dengan senyum sumringah yang ditemani oleh Sekretaris Sanggar, Cut Ernalita.

Pada kesempatan itu, kepada Waspada via telepon, Widya Arini atas nama Awirdalina juga mengucapkan terimakasih banyak atas dukungan penuh dari Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Drs. Mahtuzar, M.Si, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara, Jamaluddin, S.Sos.,M.Pd, Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh, Kepala Anjungan Aceh TMII di Jakarta, serta terimakasih juga disampaikan kepada abang-abang alumni Sanggar Cut Meutia dan masyarakat Aceh yang ada di Jakarta.

Sementara itu, Direktur Utama TMII, Intan Ayu Kartika melalui keterangannya yang dilansir di laman Parade Tari Nusantara menyebutkan, Parade Tari Nusantara TMII, merupakan kegiatan berskala nasional yang dilaksanakan rutin setiap tahun, mengangkat kearifan lokal budaya daerah sebagai upaya mendukung program pemerintah dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya daerah khususnya Seni Tari.

Parade Tari Nusantara tahun ini, kata Intan Ayu Kartika mengusung tema “Jelajah Mantra Nusantara”. Pergelaran ini menampilkan gerakan dan irama dalam tarian Nusantara yang menyimpan mantra dan pesan mendalam tentang sejarah, budaya, dan nilai-nilai luhur bangsa.

Kata Intan, Parade Tari Nusantara ini telah berlangsung selama 40 tahun ini. “TMII menegaskan perannya sebagai ruang budaya yang terbuka bagi semua. Parade ini tidak hanya menjadi ajang bagi para seniman tari dari seluruh Indonesia untuk menunjukkan kreativitas dan bakat mereka, tetapi juga menjadi cerminan dari komitmen TMII dalam memperkuat kesatuan melalui keberagaman,” sebutnya.

Kata dia lagi, setiap tarian yang ditampilkan adalah bukti nyata dari kekayaan budaya yang tak ternilai, dan menjadi bagian dari upaya untuk terus menjaga agar budaya Nusantara tetap hidup dan lestari. Disebutkan, ada 14 Provinsi di Indonesia yang berkompetisi untuk memperebutkan piala bergilir TMII dalam gerak tari nusantara di parade ini, yakni Kalimantan Selatan, Banten, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Bengkulu, Lampung, Papua Barat, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Utara, DKI Jakarta, Kepulauan Riau, Jawa Barat dan Provinsi Aceh. WASPADA.id/Maimun Asnawi, S.HI,M.Kom.I


Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.

Sanggar Cut Meutia Raih Penghargaan Nasional Lewat Tarian Ta’eun Ija Broek

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *