Waspada
Waspada » Sampah Plastik Diolah Jadi Paving Block
Aceh Ekonomi

Sampah Plastik Diolah Jadi Paving Block

Kader DPD PAN Aceh Tamiang saat menyaksikan proses pembuatan paving blok dari bahan limbah plastik dj lokasi TPA Kampung Durian, Kec Rantau, Kab Aceh Tamiang. Sampah plastik diolah jadi paving blok. Waspada/Yusri
Kader DPD PAN Aceh Tamiang saat menyaksikan proses pembuatan paving blok dari bahan limbah plastik dj lokasi TPA Kampung Durian, Kec Rantau, Kab Aceh Tamiang. Sampah plastik diolah jadi paving blok. Waspada/Yusri

KUALASIMPANG (Waspada): Sampah kantong plastik setelah digunakan tidak berdaya nilai lagi, ternyata hal ini berbanding terbalik setelah sampah plastik tersebut diolah sebagai bahan baku untuk pembuatan paving block.

Mungkin tidak ada yang mengira, limbah plastik yang sering dimusnahkan dengan dibakar ataupun berserakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, telah memberikan nilai lebih dari inovasi yang dikembangkan yakni menjadi paving block berbahan baku limbah plastik.

“Kebijakan kantong plastik berbayar haruslah dipandang sebagai langkah awal penanganan yang lebih sistematis, terpadu, dan komprehensif serta menjadi langkah awal menuju zero kantong plastik,” kata Juanda, SIP, Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Aceh Tamiang kepada Waspada.id, Selasa (8/12) di kantornya.

Menurutnya, semuanya membutuhkan proses dan waktu serta pasti ada berbagai kendala. “Tetapi, itulah tantangan kita semua,” ujar Politisi Amanat Nasional Juanda seraya mengatakan, dalam upaya pengembangan dan pemanfaatan limbah plastik ini pihaknya bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Aceh Tamiang juga melaksanakan kegiatan pendidikan politik dan upaya membekali keahlian pembuatan paving block dari sampah plastik bagi kader PAN Aceh Tamiang pada Senin (7/12) di TPA Kampung Durian, Kecamatan Rantau.

Ketua DPD PAN Aceh Tamiang, Juanda mengatakan, penerapan kebijakan kantong plastik berbayar oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Asprindo) sejak 1 Maret lalu memang mengundang silang pendapat, munculnya pro kontra itu terkait dengan belum terwujudnya kesepahaman baik menyangkut faktor konseptual, regulasi maupun operasional.

“Karena itu, sudah saatnya seluruh stake holder kembali duduk bersama merumuskan dan menyatukan sikap serta pandangan tentang kebijakan kantong plastik berbayar, utamanya dari sisi konseptual, otorisasi, regulasi, dan operasional yang komprehensif,” ujarnya.

Dijelaskannya, sasarannya plastik berbayar memang jelas, antara lain yakni mengurangi pemakaian kantong plastik, konsumen diharapkan akan beralih kepada kantongan yang lebih ramah lingkungan dan dapat digunakan dalam jangka waktu lama.

Kebijakan kantong plastik berbayar ini selaras dengan komitmen Partai Amanat Nasional yang sedang giat mengampanyekan slogan ‘sayangi bumi dengan diet plastik’,” sebut Juanda seraya mengatakan, kegiatan ini bertujuan memberikan informasi tentang dampak ketergantungan konsumsi plastik bagi lingkungan hidup dan mengedukasi warga untuk beralih ke bahan ramah lingkungan.

Terutama lagi, Juanda juga mengajak kader partainya untuk memanfaatkan sampah plastik menjadi paving block, jadi sampah yang dihasilkan bisa daur ulang dimanfaatkan untuk pembangunan. “Kita juga ingin terus mendorong kreativitas dan inovasi yang dilakukan sejumlah warga yang mengubah limbah plastik menjadi paving block,” demikian tegas Juanda.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Aceh Tamiang, Sayed Mahdi diwakili Sekretaris DLH Ismawati SP mengatakan, kegiatan pendidikan politik upaya membekali keahlian pembuatan paving blok dari sampah plastik bagi Kader PAN Aceh Tamiang sangat bermanfaat nantinya bagi daerah secara umumnya.

Dijelaskannya, TPA Kampung Durian merupakan tempat pengelolaan akhir sampah sumber bahan baku pembuatan paving block. “Kami perkenalkan tempat pengelolaan akhir sampah Kampung Durian ini terdiri dari kolam sanitary landfill yaitu kolam tempat pembuangan sampah,” ujarnya seraya menyampaikan, apresiasi bagi peserta dari partai PAN Aceh Tamiang yang sudah mempersiapkan kader-kader sebagai motivator yang nantinya bisa memberikan manfaat ditengah-tengah masyarakat dalam hal pemanfaatan sampah plastik.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang melakukan berbagai cara melalui Dinas Lingkungan Hidup yang pertama sekali menyediakan tempat sampah pilah, ini fungsinya untuk memilah sampah yang nantinya setelah dipilah langsung bisa dimanfaatkan berdasarkan sampah ataupun jenis sampah, melakukan pengurangan sampah rumah tangga ini sudah kita rencanakan melalu Perbup Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di tahun 2021 akan selesai Perbupnya.

“Jadi sampah rumah tangga yang tidak dapat dimanfaatkan kembali inilah yang akan dikutip dan dikumpulkan untuk dibuang ke TPA,” terangnya sembari mengemukakan, pengelolaan sampah selama ini masih di kumpul-kumpul dan di buang keseluruhannya ke dalam kolam sanitary landfill sehingga ini kelemahannya di mana kolam sanitary landfill waktu pemakaiannya lebih cepat penuh. karena itu sampah yang tidak bisa di olah baru di buang ke TPA sehingga masa pakai TPA lebih lama serta pengelolaan sampah dilaksanakan dengan 3R yakni Reuse, Reduce dan Recycle, jadi pembuatan paving blok dari sampah plastik merupakan salah satu cara pemanfaatan dan pengurangan sampah.

Ketua Bank Sampah Induk, Syahrial kepada wartawan mengatakan, dirinya menilai pengelolaan sampah masih memprihatinkan, tetapi perlu keseriusan kita semua terutama pemerintah agar pengelolaan sampah lebih baik. “Masalah pengelolaan sampah masih belum efektif, manajemennya masih sangat buruk,” kata Syahrial aktivis sampah di Aceh Tamiang.

Dia menjelaskan, undang-undang sebenarnya sudah cukup baik dalam mengatur pengelolaan sampah, tetapi pada peraturan pelaksana dan impelementasi di lapangan, masih banyak kendala. “Saat ini hampir seluruh kabupaten/kota kapasitas pengelolaan sampah hanya lima puluh persen, artinya, hanya 50 persen sampah yang bisa terangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) dan sisanya dibuang ke kali, sungai atau kebun,” ujarnya.

Metode pengelolaan sampah pun masih sangat tradisional yaitu mengumpulkan, mengangkut dan membuang. Belum ada metode yang efektif misalnya bagaimana melakukan daur ulang atau memanfaatkan sampah. “Karena itu yang perlu dilakukan salah satunya pendataan sampah, mana sampah organik, mana sampah yang bisa didaur ulang serta mana saja sampah plastik,” terang Syahrial.

Ironisnya lagi, Syahrial menegaskan anggaran pengelolaan sampah di kabupaten sangat kecil. “Bagaimana mau mengelola sampah, kalau anggarannya kecil sekali,” paparnya seraya menambahkan, karena itu perlu langkah -langkah strategis dari pemerintah terutama untuk menyokong anggaran serta hal paling penting juga adalah kampanye pendidikan kepada warga penting agar pengelolaan sampah lebih baik.(b15)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2