Waspada
Waspada » Rektor UIN Ar-Raniry: Jepang Dan Korea Maju Karena Adopsi Konsep Lima Jari Dari Aceh
Aceh Features Headlines

Rektor UIN Ar-Raniry: Jepang Dan Korea Maju Karena Adopsi Konsep Lima Jari Dari Aceh

125 Wisudawan dari Kampus STAI Jamiatut Tarbiyah Lhoksukon, Aceh Utara mendengar orasi ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Warul Walidin, Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (24/3) pagi di Aula Hotel Lidograha Aceh Utara. Rektor UIN Ar-Raniry: Jepang Dan Korea Maju Karena Adopsi Konsep Lima Jari Dari Aceh. Waspada/Maimun Asnawi
125 Wisudawan dari Kampus STAI Jamiatut Tarbiyah Lhoksukon, Aceh Utara mendengar orasi ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Warul Walidin, Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (24/3) pagi di Aula Hotel Lidograha Aceh Utara. Rektor UIN Ar-Raniry: Jepang Dan Korea Maju Karena Adopsi Konsep Lima Jari Dari Aceh. Waspada/Maimun Asnawi

“Dalam orasi ilmiah yang saya sampaikan tadi di hadapan 125 wisudawan dari Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Jamiatut Tarbiyah Lhoksukon di Aula Hotel Lidograha Aceh Utara adalah mereka harus menjaga orang tua, menjaga almamater, menghargai guru, dan harus memiliki ilmu kepemimpinan yang kuat, cerdas dan tangkas.”

KALIMAT itu disampaikan oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar -Raniry, Prof. Dr. H. Warul Walidin saat diwawancarai oleh Waspada.id usai kegiatan wisuda. Pada kesempatan itu dia juga menyebutkan, kegiatan belajar mengajar itu tidak pernah berhenti, karena pendidikan itu bukanlah persiapan untuk hidup tetapi kehidupan itu sendiri.

Menurut Warul Walidin, Kampus STAI Jamiatut Tarbiyah Lhoksukon akan menjadi kampus idaman masyarakat Aceh Utara nantinya, karena potensi sumber daya manusia yang sudah dimiliki oleh kampus ini, sangat luar biasa. Ditambah lagi nantinya terjadi proses pendisiplinan pembelajaran dengan atmosfer akademik yang betul-betul seperti yang diinginkan di dalam delapan indikator fundamental ketika dilakukan akreditasi.

Semua orang yang terlibat dalam kampus tersebut, kata Warul Walidin, harus memperkuat visi dan misi. Kemudian melengkapi semua sarana dan prasarananya yang diikuti oleh berbagai kegiatan kerjasama dengan semua pihak yang ada di kabupaten/kota dan provinsi, jika perlu kerjasama juga harus dibangun dengan pihak luar negeri.

“Saya termasuk pendiri kampus ini juga ikut dibantu oleh Pak Zaiyus, dan Zainal, karena itu perhatian saya untuk kampus ini sangat besar. Perlu saya katakan, yang dilihat ketika akreditasi terjadi adalah kontribusi yang diberikan kampus ini kepada masyarakat, seperti berhasil mendidik lulusan dengan kemampuan yang hebat contoh mampu berkomunikasi langsung di depan umum, kepemimpinannya mampu masuk di dimensi sosial masyarakat luas,” kata orang nomor satu di kampus kebanggaan orang Aceh itu.

Sekali lagi saya katakan, sebut Rektor UIN Ar-Raniry ini, kehidupan yang sedang kita jalani adalah pendidikan. Jadi, pendidikan dalam arti formal dan dalam arti non formal terus berjalan sepanjang hayat. Tidak pernah berhenti. Sekarang ini, katanya kepada para lulusan, STAI Jamiatut Tarbiyah baru memberikan kunci.

Untuk itu, kunci tersebut hendaknya jangan hanya ditenteng kemana-mana tetapi teruslah belajar untuk pengembangan ilmu pengetahuan yang sudah ada. Untuk menjadi seorang profesional harus selalu melakukan aktualisasi diri secara terus menerus dan merupakan panggilan hidup yang nantinya akan menjadikan dedikasi yang lebih tinggi.

“Dengan begitu, kita akan menjiwai pekerjaan kita. Di mana-mana saya bicara selalu saya katakan, masyarakat Aceh memiliki konsep lima jari, dan konsep ini telah diambil dan diterapkan oleh masyarakat Jepang dan Korea. Berkat konsep lima jari itulah, Jepang dan Korea hari ini maju pesat,” tutur Rektor UIN Ar-Raniry.

Lalu Warul Walidin menguraikan satu persatu konsep lima jari yang dilaksanakan oleh masyarakat Aceh tempo dulu hingga Aceh dulu dikenal di dunia, yang pertama amanah. Amanah adalah seakar kata dengan iman. Setiap orang beriman pasti amanah, dan setiap orang yang amanah pasti jujur.

Kemudian, setiap orang yang jujur pasti ikhlas dan setiap yang ikhlas pasti dedikatif dalam beramal dan berbuat. Dan konsep itu diterapkan oleh masyarakat Aceh terdahulu dalam memilih pemimpin. “Bergaul dengan orang beriman dan amanah itu pasti aman dalam berbagai kegiatan yang kita lakukan dalam berdagang ataupun kegiatan lainnya. Orang amanah senantiasa memberikan rasa aman kepada siapapun,” katanya.

Orang yang amanah apakah di kantor dalam lingkungan masyarakat, kata Warul Walidin, dia selalu menjadi orang yang memberikan keamanan bagi yang lain, baik dengan tangannya maupun dengan lisannya. “Sosok orang yang amanah itu ditamsilkan dengan ibu jari,” terangnya.

Kemudian, lanjut Warul Walidin, sambil memperlihatkan telunjuknya dan menerangkan posisisi telunjuk itu. Kata dia, telunjuk dianalogikan sebagai sesuatu yang tegas dan lurus dalam bahasa Aceh disebut ceubeuh. Telunjuk juga dipakai dalam shalat. Dalam bahasa Arab ceubeuh itu berarti berani.

Selanjutnya, jari tengah dilambangkan dengan kedisiplinan. Kalau mau hebat, kata Warul Walidin, maka harus disiplin jika tidak, tidak akan pernah dapat kehebatan itu. Lalu jari manis dilambangkan dengan sifat rajin atau dalam bahasa Aceh disebut gigeeh atau jeumoet. Gigeeh dan jeumoet memiliki arti yang berbeda.

Menurut Warul Walidin, seseorang yang memiliki sifat jeumoet (rajin) hanya bekerja atau melaksanakan tugasnya saat ada yang mengawasi atau kalau ada yang melihat. Namun jika sendiri, seseorang itu asyik dengan kegiatan lain yang tidak berkaitan dengan pekerjaannya, contoh asyik main game di kantor tempat dia bekerja. “Ya paling tidak seseorang itu rajin main game,” katanya disambut ketawa orang yang mendegar.

Kalau seseorang yang memiliki sifat gigeeh adalah pada malam hari, seseorang itu telah berpikir untuk pekerjaannya esok hari. Dia tetap bekerja ada atau tidak ada yang mengawasi atau melihatnya. Terakhir jari kelinking dilambangkan dengan loyalitas. Loyalitas atasan, atasan kepada bawahan. Kemudian, seseorang yang memiliki loyalitas selalu mengormati yang tua dan menyayangi yang muda.

“Konsep ini nyaris tidak digunakan lagi oleh masyarakat Aceh saat ini, dan konsep lima jari ini telah diambil oleh orang lain, contohnya Jepang dan Korea. Bayangkan, orang di negara lain memakai filsafat lima jari ini. Orang Jepang dan Korea paham, untuk menjadi hebat harus memiliki sifat ibu jari, karena ibu jari menjadi pengikat bagi jari-jari lainnya. Kalau demikian, kalau mau hebat maka kita harus jujur,” demikian Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh dalam orasi ilmiahnya pada kegiatan wisuda Kampus Jamiatut Tarbiyah Lhoksukon di Aula Hotel Lido Graha Aceh Utara.  WASPADA/Maimun Asnawi, SH.I.,M.Kom.I

 

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2