Waspada
Waspada » Rapat Pemotongan BLT Ricuh Di Meunasah Alue
Aceh

Rapat Pemotongan BLT Ricuh Di Meunasah Alue

Warga menyaksikan suasana kericuhan dalam rapat pemotongan dana BLT oleh Kadus Paloh Pineung di Meunasah Alue Kec. Muara Dua Kota Lhokseumawe, Kamis (25/2). Waspada/Zainuddin Abdullah

 

LHOKSEUMAWE (Waspada): Lantaran rapat membahas soal pemotongan dana BLT di Meunasah Alue berlangsung ricuh, dan sebelum polisi datang mengamankan keadaan, Kadus Paloh Pineung Muzammil akhirnya terpaksa mengembalikan uang warga miskin yang tidak ikhlas dipangkas.

Rapat yang digelar oleh Sang Kadus Paloh Pineung Muzammil yang diduga tanpa ada koordinasi dengan aparat keamanan TNI/Polri itu, rencananya membahas masalah protes warga yang menjadi korban pemotongan dana BLT.

Dalam rapat dadakan yang berlangsung pukul 22:22, Kamis (26/2) malam itu, Kadus Paloh Pineung Muzammil mengatakan dirinya sengaja menggelar rapat tersebut karena merasa tidak sakit hati dan tidak terima adanya tudingan bahwa dirinya melakukan korupsi uang pemotongan BLT warga.

Kadus mengakui bahwa pemotongan dana BLT Rp 100 ribu perorang merupakan inisiatifnya dan sudah sepengetahuan Geusyik Meunasah Alue Mukhtar.

Hal itu dilakukan dengan tujuan hasil pemotongan BLT itu akan dibagikan kepada warga lain yang tidak mendapatkan jatah BLT dan PKH.

Kadus dengan suara lantang juga menantang warga dipersilahkan membawa wartawan atau Lsm ke dalam rapat, karena dirinya tidak merasa takut.

“Panggil wartawan kemari, tidak masalah bagi saya. Saya sakit hati karena dituduh memakan uang BLT warga dan ini pencemaran nama baik. Saya potong uang BLT untuk bantu orang yang tidak dapat bantuan BLT dan PKH serta sudah diberitahukan pada Geusyik Meunasah Alue. Saya punya buku catatannya, dan kalau perlu saya kembalikan dengan uang pribadi saya,” tandasnya dengan nada tinggi.

Selanjutnya, anggota Tuha Peut Saiful Bahri angkat bicara memprotes tindakan pemotongan dana BLT masyarakat dilakukan tanpa adanya musyawarah dan hanya berdasarkan inisiatif dari Kadus.

Meski pun tujuan pemotongan uang itu dilakukan untuk kebaikan agar bisa membagi bantuan kepada warga lain, namun cara itu tetap saja salah dan melanggar hukum.

Terlebih lagi bila warga memprotes karena merasa tidak ikhlas uang BLT senilai Rp300 ribu dipotong Rp100 ribu oleh kadus dengan nada mengancam bila tidak memberikan maka tak akan lagi mendapatkan bantuan.

“Persoalannya sekarang warga memprotes pemotongan uang dan terpaksa memberikan karena takut diancam tak lagi dapat bantuan. Coba sekarang tanyakan langsung pada warga, apa mereka bersedia uangnya dipotong, “ ujarnya.

Lalu secara tiba-tiba, Kadus dan pengikutnya memotong pembicaraan Bahri hingga terjadi perdebatan, adu mulut dan adu argumentasi.

Sehingga memancing suasana menjadi keruh dan warga pun mulai riuh dan bersorak-sorak dalam rapat tersebut.

Maka rapat pun menjadi kacau dan tidak terkendali karena Bahri dan Kadus masih saling bersitegang dengan pendapatnya masing-masing.

Suasana malah makin panas ketika satu persatu warga menyatakan tidak rela uangnya dipotong.

Di sisi lain Kapolres Lhokseumawe AKBP Eko Hartanto yang mendapat informasi adanya benih kericuhan dalam rapat tersebut langsung memerintahkan pasukannya terjun mengamankan lokasi acara.

Ironisnya sebelum polisi tiba, Kadus yang berada dalam posisi terpojok akhirnya mengembalikan uang warga yang dipotong, diantaranya adalah Makauwiyah, Lindawati dan Zakiah.

Kemudian rapat langsung dibubarkan, dan polisi pun tiba untuk mengamankan situasi, meminta keterangan perangkat desa dan warga, dan menghimpun data kejadian selama rapat berlangsung.

Usai rapat tersebut, Geusyik Meunasah Alue Mukhtar mengatakan rapat itu digelar oleh Kadus Paloh Pineung Jamil dan kurang koordinasi dengan aparat keamanan.

Geusyik juga menjelaskan kalau dirinya tidak terlibat dalam tindakan pemotongan dana BLT dan kadus melakukan itu tanpa koordinasi dengan semua pihak.

Geusyik mengaku walau tujuannya untuk kebaikan dapat membantu orang lain, namun dirinya tetap tidak setuju atas tindakan pemotongan dana BLT.

Karena itu perbuatan salah dan melanggar hukum makanya setiap kantor pemerintah, Bank dan Kantor Pos ada ditempel peringatan keras agar tidak melakukan pemotongan uang bantuan dan warga diminta melaporkan bila uang BLT dipotong dengan berbagai alasan.

“ Saya tidak setuju uang BLT dipotong dan jangan percaya kalau kadus bilang saya ikut memberi dukungan. Tidak boleh ada pemotongan dana bantuan. Tapi, sudahlah,uang BLT yang dipotong sekarang sudah dikembalikan dan masalah pun selesai,” tuturnya. (b09)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2