Pungli Merebak, Para Pedagang Demo Dewan

  • Bagikan
Massa yang tergabung antara mahasiswa dan pedagang Pasar Tradisional Payang Ilang melakukan aksi saling dorong di depan gedung DPRK Aceh Tengah, Kamis (13/1). Waspada/Eri Tanara
Massa yang tergabung antara mahasiswa dan pedagang Pasar Tradisional Payang Ilang melakukan aksi saling dorong di depan gedung DPRK Aceh Tengah, Kamis (13/1). Waspada/Eri Tanara

TAKENGON (Waspada): Massa yang tergabung antara mahasiswa dan pedagang Pasar Tradisional Payang Ilang menggelar aksi demo di depan gedung DPRK Aceh Tengah, Kamis (13/1).

Pantauan Waspada.id, aksi demo itu sempat terjadi saling dorong dengan petugas Satpol PP dan Kepolisan setempat lantaran massa berusaha masuk ke dalam gedung DPRK. Namun usaha mereka sempat dilerai, sejumlah anggota Dewan langsung menemui mereka dan melakukan mediasi diruang sidang anggota DPRK setempat.

“Kami menuntut keadilan, keadaan di Pasar Paya Ilang saat ini seperti ada tembang pilih, kami pedagang pasar tumpah dipindah ke gedung putih, sementara pedagang grosir berjulan di pinggir jalan,” teriak Iwan Darmawan salah satu perwakilan pedagang kepada sejumlah anggota Dewan.

Semenjak dipindah ke gedung putih, kata Iwan, dagangan mereka tidak laku lantaran ruangan begitu gelap serta memiliki jalan yang sempit. “Jadi yang diuntungkan adalah pedagang dari pesisir, kami meminta agar pedagang pasar tumpah dapat berjualan kembali di pinggir jalan pasar Paya Ilang dengan waktu yang ditentukan,” kata pendemo lainnya.

Menariknya lagi, dalam mediasi yang digelar di ruang sidang tersebut mencuat adanya Pungutan Liar (Pungli) yang terjadi di Pasar Tradisional Paya Ilang oleh oknum-oknum tertentu. “Ada pungli yang terjadi di sana. Diantaranya, ada oknum menjual lapak parkir untuk pedagang kecil, harga bervariasi berkisar antara Rp10 ribu sampai Rp20 ribu perhari,” ungkap Nasri Linggo wakil ketua Pedagang Pasar Paya Ilang secara terpisah kepada wartawan.

Menurutnya, kondisi itu sudah lama terjadi, bahkan lapak yang sudah dijual oleh oknum tersebut kembali dijadikan untuk lahan parkir roda dua atau roda empat. “Akibat keadaan itu, antara pedagang dengan tukang parkir sering terjadi cek cok diakibatkan jual lapak yang tak jelas itu,” katanya.

Selain jual lapak kepada pedagang kecil, praktik dugaan Pungli juga terjadi ketika pedagang diminta untuk membayar uang jaga malam oleh petugas jaga malam. “Padahal mereka sudah digaji oleh pemerintah, tapi kenapa masih memungut biaya jaga malam kepada kami. Jadi kami meminta itu harus ditertibkan,” tegas Nasri.

Mengetahui hal tersebut, Koordinator aksi massa demo, Nasruna mengaku geram. Kepada wartawan ia mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas terjadinya dugaan praktik pungli di Pasar Tradisional Payang Ilang tersebut.
“Ini sangat merugikan pedagang Pasar Paya Ilang, jadi kami berharap kepada pihak kepolisian agar mengusut tuntas terhadap oknum yang melakukan pungli itu,” kata Nasruna Presiden Mahasiswa (Presma) Unversitas Gajah Putih itu singkat.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perdagangan Aceh Tengah Mawardi Munte menegaskan tidak dibenarkan adanya pemungutan biaya jaga malam kepada para pedagang. “Untuk petugas jaga malam itu sudah kita anggarkan, mereka sudah kita beri SK, honor mereka ada setiap bulannya, kalau pun ada petugas melakukan Pungli, akan kita telusuri,” tegasnya.

Ia menambahkan, pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap kondisi Pasar Tradisional Paya Ilang saat ini lantaran adanya tuntutan dari beberapa pedagang. “Pembenahan itu akan kita lakukan, tuntutan para aksi demo sudah kita tandatangani, nantinya akan kita diteliti dengan tim dan diputuskan oleh Pemeritah Daerah,” kata Mawardi. (Cet)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *