Proyek Peta Tak Kunjung Rampung, Pengulu Kute Kebingungan

- Aceh
  • Bagikan

Proyek Peta Tak Kunjung Rampung, Pengulu Kute Kebingungan

KUTACANE (Waspada): Puluhan pengulu kute (kepala desa) di Aceh Tenggara (Agara) mempertanyakan realisasi proyek peta desa yang tak kunjung rampung, kendati dana pembuatan peta telah disetorkan pada pihak rekanan.
Beberapa pengulu kute yang ditemui Waspada, mengaku heran dan gerah melihat sikap rekanan proyek pembuatan peta desa yang bersumber dari dana APBDes tahun 2020 lalu. Pasalnya, peta yang diharapkan sebagai bahan rujukan pembuatan RPJM, nasibnya tak jelas.
Jika dihitung, untuk pembuatan peta desa yang berisi Profil desa dan berbagai item lainnya, per desa biaya yang disetorkan jumlahnya bervariasi, mulai dari Rp18 juta sampai Rp25 juta, namun setelah dana diserahkan pada rekanan dan diketahui camat, peta yang diharapkan jadi rujukan pembangunan kute akhirnya mengambang.
Seharusnya, ujar Muslim Sekedang, salah seorang Pengulu Kute di Kecamatan Badar, perangkat dan warga kute (desa) tak perlu lagi mengukur batas antara Kute Kampung Baru dengan kute tetangga seperti dengan desa Purwodadi, Kumbang Indah, Kumbang Jaya, tak perlu lagi harus mengukur dan memasang patok.
“Karena, batas wilayah dengan desa tetangga maupun item lainnya menyangkut peta desa, sudah ditanggung melalui proyek yang dananya telah disetorkan 17 pengulu kute pada pihak ketiga melalui Camat Badar,” ujarnya.
Selain menambah pekerjaan dan menyulitkan pengulu kute, ketiadaan peta yang telah lunas dibayar kute tersebut juga, menyebabkan perangkat desa kesulitan membuat Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang akan dibahas warga di 385 kute yang ada di Aceh Tenggara.
“Apa yang mau kita susun dan kita bahas serta kita rencanakan untuk pembangunan di desa, peta yang diharapkan jadi panduan saja sampai sekarang tak ada dan belum siap, padahal dananya telah disetorkan pada pihak ketiga,” keluh Muslim.
Senada dengan Muslim, beberapa pengulu kute di Kecamatan Lawe Alas, Tanoh Alas, Babul Rahmah dan Leuser mengatakan, kendati telah membayar lunas biaya pembuatan peta desa tahun 2020 tersebut, hingga kini, sebagian besar pengulu tak tahu bagaimana bentuk peta yang dicetak tersebut, karena peta itu tak sampai ke desa dan raib entah kemana.
Mustafa Kamal, Camat Leuser kepada Waspada, Jumat (26/11) mengaku kebingungan menjawab terkait proyek peta desa tahun 2020 yang belum sampai pada pengulu kute di kecamatan paling selatan di Aceh Tenggara tersebut.
“Jelas saya bingung dan tak bisa menjawab pertanyaan 23 pengulu kute di Kecamatan Leuser. Pasalnya saya baru dipercayakan menjadi Camat tahun 2021 ini, karena itu persoalannya kenepa rekanan belum membagikan peta desa tersebut, saya juga kurang paham,” ujar Mustafa Kamal.
Hata, salah seorang rekanan proyek peta desa kepada Waspada, Kamis (25/11) mengakui dirinya sebagai rekanan pembuatan peta desa untuk Kecamatan Leuser, Babul Rahmah, Semadam, Lawe Alas, Tanoh Alas dan Kecamatan Badar.
“Peta itu memang belum selesai dan sebagian lagi dalam proses pencetakan, jadi belum bisa dibagikan pada pengulu kute, selain itu dana untuk proyek pembuatan peta juga tak mencukupi, meskipun semua pengulu kute di ena kemacatan tersebut telah disetorkan,” ujar Hata.
Untuk biaya pembuatan peta desa itu, biayanya tidak sama antara satu kecamatan dengan kecamatan lainnya, untuk Kecamatan Badar dan empat kecamatan lainnya biaya per desa dikenakan Rp18 juta, sedangkan untuk desa di Kecamatan Leuser yang kondisi alamnya berbukit-bukit dan tingkat kesulitannya terbilang tinggi, biaya pembuatan peta per desanya Rp25 juta.
Junaidi Sinage, salah seorang aktivis di Aceh Tenggara menyikapi tak kunjung selesainya peta desa pada beberapa kecamatan itu mengaku heran dan penasaran karena dana pembuatan peta telah dibayarkan pengulu kute, namun peta yang diharapkan tak kunjung selesai dan sampai saat ini belum diterima pengulu kute.(b16)

Pengulu dan perangkat Kampung Baru, sedang mengukur dan memasang pato tapal batas desa dengan Kute Purwodadi Gabungan Kecamatan Badar.Waspada/Ist

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *