Polda Aceh Tangkap Pelaku Perdagangan Satwa Dilindungi Senilai Rp6,3 M - Waspada

Polda Aceh Tangkap Pelaku Perdagangan Satwa Dilindungi Senilai Rp6,3 M

- Aceh
  • Bagikan
Gelar kasus tindak pidana perdagangan satwa dilindungi senilai Rp6.3 M di Mapolda Aceh, Selasa (10/11/2020). Waspada/gitorolies

BANDA ACEH (Waspada): Kepolisian Daerah Aceh melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) mengungkap kasus tindak pidana konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, yaitu perdagangan satwa liar yang terjadi di Jalan Raya Takengon, Kampung Paya Tumpi, Kec. Kebayakan, Kab. Aceh Tengah.

Hal tersebut dipaparkan Kapolda Aceh Irjen Polisi Drs. Wahyu Widada, M. Phil, dalam press releasenya di hadapan wartawan, Selasa (10/11) di Lapangan Tengah Mapolda Aceh.

Kapolda menyampaikan, pengungkapan kasus tersebut bermula dari informasi masyarakat yang melihat dan mencurigai adanya tindak pidana perdagangan satwa liar di Kab. Aceh Tengah.

“Berdasarkan informasi tersebut, penyidik dari Ditreskrimsus Polda Aceh bersama anggota dari Ditjen Gakkum KLHK, (03/11) turun ke lokasi untuk melakukan penyelidikan,” jelasnya.

Setelah memastikan informasi itu benar, kemudian petugas menangkap dan membawa pelaku berinisial DA,47 beserta barang bukti ke Polda Aceh guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, diketahui jika tersangka DA merupakan pengepul dan pemodal dengan cara membeli dari masyarakat yang kemudian dikumpulkan secara bertahap dalam jumlah kecil selama setahun.

“Yang bersangkutan juga mengakui kalau sebelumnya, pada Tahun 2018 sudah pernah menjual satwa yang dilindungi Negara tersebut kepada saudara Aseng (nama panggilan) yang berdomisili di Pekan Baru, Riau.” terang Kapolda.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan petugas adalah 1 (satu) kulit harimau dalam keadaan basah beserta tulang belulang, ± 28 Kg sisik trenggiling, 71 paruh burung rangkong, 1 unit mobil Toyota Vios dengan nomor Polisi BK 1837 LAB warna abu abu.

Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Ditjen Gakkum KLHK, Sustyo Iriyono yang hadir dalam jumpa pers tersebut menjelaskan, operasi ini merupakan komitmen KLHK dalam memberantas perdagangan dan perburuan satwa liar dilindungi.

Menurutnya, kejahatan ini merupakan kejahatan yang luar biasa dengan melibatkan banyak pelaku bahkan pelaku antar negara dan berlapis.

“Berdasarkan kajian valuasi ekonomi satwa dilindungi tersebut nilai satwa tersebut mencapai Rp 6,3 miliar,” jelas Sustyo yang juga hadir dalam konferensi pers tersebut.

Atas perbuatannya, tersangka dikenakan Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (2) huruf b dan d Undang-undang RI No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman penjara paling lama 5 Tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000,- (seratus juta rupiah).

Dalam konferensi pers itu, selain Kapolda Aceh dan Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Ditjen Gakkum KLHK, turut hadir Wakapolda Aceh, Brigjen Pol Raden Purwadi, Dir Reskrimsus, Kombes Pol Margiyanta dan Pakar sekaligus Dokter Hewan BKSDA Aceh, Taing Lubis serta lainnya.(b19)

 

  • Bagikan