Petani Aceh Utara Mengalami Gagal Panen Akibat Banjir

Petani Aceh Utara Mengalami Gagal Panen Akibat Banjir

  • Bagikan
Tanaman padi milik petani Gampong Mee, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara mengalami gagal panen, Selasa (19/1). Akibat terendam banjir awal Desember 2020, bulir padi tidak berisi. Petani Aceh Utara Mengalami Gagal Panen Akibat Banjir. Waspada/Zainal Abidin
Tanaman padi milik petani Gampong Mee, Kecamatan Tanah Pasir, Aceh Utara mengalami gagal panen, Selasa (19/1). Akibat terendam banjir awal Desember 2020, bulir padi tidak berisi. Petani Aceh Utara Mengalami Gagal Panen Akibat Banjir. Waspada/Zainal Abidin

LHOKSUKON (Waspada): Tanaman padi yang terendam banjir Aceh Utara awal Desember 2020 mengalami gagal panen. Bulir padi tidak berisi, akibatnya petani mengalami kerugian.

Pantauan Waspada.id, Selasa (19/1) ratusan hektare sawah di Kecamatan Tanah Pasir Aceh Utara mengalami puso. Akibat terjadi luapan Sungai Krueng Pase Desember lalu, banjir merendam tanaman padi warga Kecamatan Samudera dan Kecamatan Tanah Pasir. “Bulir padi tidak berisi pebuh, sehingga mengalami gagal panen,” jelas Ismail, 51, salah seorang petani Tanah Pasir.

Sebagian benih padi yang masih di persemaian, telah mati akibat terendam. Sementara tanaman padi yang berumur 1,5 sampai 2 bulan, selamat. “Kami berusaha merawat tanaman padi yang selamat, harapannya masih bisa panen,” tambahnya.

Akan tetapi menjelang masa panen, ternyata bulir padi hampa. “Kami menyebutnya, sunggong,” jelas Ismail. Kondisi tersebut, mengakibatkan petani rugi. Mereka telah mengeluarkan biaya tidak sedikit, untuk merawat tanaman padi pasca banjir. Namun, hasilnya sia-sia karena mengalami gagal panen.

Sementara itu, Ketua LSM Flora Fauna (FloFa), Darwis Kuta meminta, pemerintah pusat memperhatikan kondisi petani korban banjir Aceh Utara. “Mereka butuh benih padi, untuk mengantikan tanaman padi yang rusak,” sebut Darwis.

Dia juga mengharapkan, varietas benih padi yang dibantu juga sesuai dengan kondisi alam di Aceh Utara. “Bantuan benih sesuai dengan varitas yang dibutuhkan petani,”” ujarnya.

Ketua LSM FloFla menambahkan, selain petani sawah, sejumlah petani cabai, kedelai dan jagung juga mengalami gagal panen. “Petani jagung, kedelai dan cabai juga perlu dibantu. Mereka juga korban banjir,” tegas Darwis Kuta.

Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh Utara, Abdul Jalil menyebutkan, pihaknya telah mengajukan bantuan untuk petani korban banjir Aceh Utara. Bantuan tersebut telah diusulkan ke Pemerintah Aceh dan Kementerian Pertanian. “Kita mengharapkan bantuan dapat terealisasi,” ujarnya.

Abdul Jalil juga menjelaskan, kerusakan tanaman padi akibat banjir terjadi di 16 kecamatan. “Umur padi bervairiasi, ada yang masih di persemaian, ada juga yang sudah saatnya panen,” sebut Abdul Jalil.

Kerusakan terparah terjadi di Kecamatan Baktiya Barat. Luas sawah yang terendam mencapai 1.644 ha. Dari luas tersebut tanaman padi yang mengalamui puso mencapai 1.644 ha.

Sementara, tanaman padi yang mengalami puso di Kecamatan Baktiya seluas 111 ha, sedangkan tanaman yang terendam mencapai 953 ha. Sawah terendam di Kecamatan Seunuddon 1.391 ha, tanaman padi mengalami puso seluas 338 ha.

Banjir terjadi awal Desember 2020 tersebut juga merendam tanaman padi di Kecamatan Meurah Mulia, Lhoksukon, Langkahan, Lapang, Tanah Pasir, Tanah Jambo Aye, Syamtalira Aron, Syamtalira Bayu, Samudera, Tanah Luas, Cot Girek, Nibong, dan Kecamatan Pirak Timur.(b08)

 

  • Bagikan