Perkara Pembunuhan Gajah Dilimpahkan Ke Pengadilan

Perkara Pembunuhan Gajah Dilimpahkan Ke Pengadilan

- Aceh
  • Bagikan
Tim Inafis Satreskrim Polres Aceh Timur melakukan identifikasi bangkai Gajah Sumatera yang mati di HGU PT Bumi Flora, Desa Jambo Reuhat, Banda Alam, Aceh Timur, Senin (12/7). Waspada/M Ishak
Tim Inafis Satreskrim Polres Aceh Timur melakukan identifikasi bangkai Gajah Sumatera yang mati di HGU PT Bumi Flora, Desa Jambo Reuhat, Banda Alam, Aceh Timur, Senin (12/7). Waspada/M Ishak

IDI (Waspada): Perkara pembunuhan Gajah Sumatera yang menjadi sorotan publik kini telah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Idi, Aceh Timur. Sementara itu, sejumlah lembaga konservasi berjanji akan terus mengawal perkara tersebut hingga ke vonis.

“Perkara satwa (Gajah Sumatera—red) sudah dilimpahkan ke pengadilan,” kata Kajari Aceh Timur Semeru SH MH, melalui Kasi Pidana Umum (Pidum) Ivan Najjar Alavi SH MH, kepada Waspada.id, Jumat (15/10).

Begitu juga dengan dakwaan, lanjut Ivan, pihaknya telah melengkapinya, berikut dengan berbagai persyaratan lainnya. Disinggung soal jadwal persidangan, Kasi Pidum berjanji akan menginformasikan kembali. “Biasanya sepekan setelah kita limpahkan, maka pengadilan sudah memulai sidang pertama,” kata Ivan Najjar Alavi SH MH.

Berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak pengadilan, kata Kasi Pidum, sidang perdana kasus terbunuhnya Gajah Sumatera di HGU PT Bumi Flora, akan disidangkan, Kamis (21/10) pekan depan. “Kita akan kabari jadwal persidangan ke rekan-rekan media nantinya,” tutur Ivan Najjar Alavi SH MH.

Mengawal

Sementara itu, sejumlah lembaga lingkungan yang selama ini terkonsentrasi di bidang konservasi sejak awal mengaku akan mengawal kasus tersebut hingga ke persidangan, seperti Forum Konservasi Leuser (FKL), Forum Jurnalis Lingkungan (FJL), dan Yayasan Konservasi Alam Timur Aceh (YAKATA).

“Kita akan kawal kasus ini (perkara pembunuhan Gajah Sumatera—red) sampai majelis hakim menjatuhkan vonis terhadap kelima terdakwa,” ujar Fiel Manager FKL Regional I Langsa, Nurul Hidayat Lubis.

Dia mengaku, sejak awal pihaknya bersama sejumlah lembaga konservasi lokal lainnya, seperti YAKATA telah sepakat, bahwa pengawalan kasus tersebut akan dilakukan sebagaimana yang dilakukan dalam perkara pembunuhan gajah jinak ‘Bunta’ di CRU Serbajadi, Aceh Timur, 9 Juni 2018 lalu.

Pihaknya mengapresiasi penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan pihak Polres Aceh Timur, secara cepat dan transparan hingga dilimpahkan ke jaksa. Begitu juga dengan pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Timur, dinilai sangat transparan dalam menangani perkara satwa dilindungi hingga dilimpahkan ke PN Idi.

“Semoga penyidikan yang dilakukan dua lembaga penegak hukum itu membuahkan hasil yang optimal nantinya,” demikian Nurul Hidayat Lubis, seraya mengajak para pegiat lingkungan untuk ikut bersama dalam mengawal kasus kejahatan satwa dilindungi.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, seekor Gajah Sumatera ditemukan mati tanpa kepala di dalam lahan Hak Guna Usaha (HGU) PT Bumi Flora, Desa Jambo Reuhat, Banda Alam, Aceh Timur, Sabtu (10/7). Berdasarkan hasil nekropsi, gajah jantan usia 8-10 tahun itu mati setelah menelan dua bungkus racun. Setelah tersungkur, lalu pelaku memenggal kepala untuk diambil gading. (b11/I).

  • Bagikan