Waspada
Waspada » Perdana Di Aceh, Pelanggar SI Dicambuk 150 Kali
Aceh Headlines

Perdana Di Aceh, Pelanggar SI Dicambuk 150 Kali

HUKUMAN CAMBUK: Personel Satpol-PP dan WH memapah terpidana kasus pencabulan anak di bawah setelah menjalani pelaksanaan eksekusi uqubat ta'zir cambuk di halaman Kantor Dinas Syariat Islam Aceh Timur di Idi, Kamis (26/11). Perdana Di Aceh, pelanggar SI dicambuk 150 kali. Waspada/M. Ishak
HUKUMAN CAMBUK: Personel Satpol-PP dan WH memapah terpidana kasus pencabulan anak di bawah setelah menjalani pelaksanaan eksekusi uqubat ta'zir cambuk di halaman Kantor Dinas Syariat Islam Aceh Timur di Idi, Kamis (26/11). Perdana Di Aceh, pelanggar SI dicambuk 150 kali. Waspada/M. Ishak

IDI (Waspada): Untuk pertama kalinya, pelanggar Qanun Aceh dihukum cambuk di depan umum sebanyak 150 kali. Pelaksanaan hukuman cambuk berdasarkan putusan Mahkamah Syariah (MS) Idi, diputuskan di halaman Kantor Dinas Syariat Islam Aceh Timur, Kamis (26/11).

Terpidana perdana di Aceh yang dicambuk 150 kali yakni MR, 19, remaja asal Aceh Timur. Terpidana MR merupakan terdakwa kasus pencabulan dan pemerkosaan anak di bawah umur. Berdasarkan Putusan Mahkamah Syariah Idi Nomor 7/JN/2020/MS-IDI tertanggal 19 Oktober 2020 dicambuk 150 kali di depan umum.

Pelaksanaan hukuman cambuk diawali MR, namun pada saat cambuk ke 50 kali, MR harus diistirahatkan dan diperiksa kesehatannya. Lalu dilanjutkan dengan hukuman cambuk dua terpidana lain yakni RW, 21, dan NS, 40, masing-masing 105 kali cambuk.

Setelah selesai dicambuk RW dan NS, lalu algojo kembali melanjutkan hukuman ta’zir cambuk terhadap MR hinggga selesai 150 kali cambuk. Meskipun sempat berhenti pada saat cambuk ke 120 dan cambuk 140 cambuk.

“Pelaksanaan cambuk berjalan lancar, namun algojo harus berhenti mencambuk terpidana MR, karena tidak mampu menahan rasa sakit. Tapi setelah selesai dicambuk dua terpidana lainnya, lalu pelaksanaan cambuk terhadap MR kembali dilanjutkan hingga selesai,” kata Kajari Aceh Timur, Abun Hasbulloh Syambas, SH, MH, melalui Kasi Pidum Kejari Aceh Timur, Ivan Nanjjar Alavi, SH, MH.

Dikatakannya, cambuk terhadap MR merupakan terpidana perdana di Aceh yang dituntut 150 kali cambuk dan majelis hakim juga memutuskan hukuman 150 kali cambuk. “Tuntutan yang maksimal ini untuk memberikan efek jera terhadap terpidana, apalagi terpidana melakukan pencabulan dan pemerkosaan terhadap korban yang masih di bawah umur,” sebut Ivan.

Selain MR, dua terpidana kasus perzinahan juga ikut dicambuk masing-masing terpidana NS. Berdasarkan Putusan Nomor 4/JN/2020/MS-IDI tertanggal 19 Oktober 2020, NS diputuskan sebanyak 105 kali cambuk di depan umum.

Kemudian, terpidana RW alias M Bin B diputuskan menjalani Uqubat Ta’zir Cambuk di depan umum sebanyak 100 kali. Eksekusi terhadap remaja itu berdasarkan Putusan Nomor /JN/2020/MS-IDI tertanggal November 2020.

Pelaksanaan uqubat cambuk di Kabupaten Aceh Timur, biasanya dipusatkan di halaman Masjid Agung Darusshalihin Idi, tetapi eksekusi terhadap ketiga terpidana kali ini dipindahkan ke halaman Kantor Dinas Syariat Islam. Hal tersebut untuk memelihara kepatuhan masyarakat yang menyaksikan pelaksanaan uqubat cambuk sesuai protokol kesehatan.

“Dari hasil koordinasi lintas sektor, hukuman cambuk terhadap tiga terpidana kita pusatkan halaman Kantor Dinas Syariat Islam, karena lokasinya luas. Tujuannya adalah untuk menjaga agar seluruh yang hadir ke lokasi mematuhi protokol kesehatan dalam masa pandemi COVID-19, seperti menjaga jarak dan menghindari kerumunan,” kata Kepala Satpol-PP dan WH Aceh Timur, Teuku Amran atau Ampon.

Pelaksanaan hukuman cambuk ikut disaksikan puluhan warga dari berbagai daerah, namun tidak sebanyak tontotan biasa di halaman Masjid Agung Darussalihin Idi, karena lokasi pelaksanaannya berada di Pusat Perkantoran Pemerintah Kabupaten Aceh Timur. (b11).

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2